
"Sayang," tegur Clara. Dia menatap Nalendra dalam-dalam.
Nalendra yang merasa kaget justru melambaikan tangan kepada Laras, menyuruhnya untuk mendekat, membuat Clara menyadari ada sosok lain selain mereka berdua yang ada di ruangan ini.
Clara memindai perempuan di depannya. Perempuan yang cantik meskipun mengenakan setelan kerja yang sangat sopan. Namun, jelas lebih cantik dirinya karena ia pandai merawat tubuhnya dengan biaya perawatan yang mahal.
"Kamu siapa?" tanyanya. "Apakah sekretaris Nalendra?"
Laras menggelengkan kepala. Bibirnya akan mengucapkan sesuatu, tetapi ucapan Nalendra keburu mendahuluinya.
"Tentu saja bukan, Clara. Kenalkan, ini adalah Laras. Dia adalah asisten pribadiku, merangkap sebagai kekasihku." Tangannya bergerak merangkul bahu Laras.
"Kekasih?" Wanita muda itu tertawa keras. "Apa? Kamu memiliki seorang kekasih? Ale, aku ini adalah kekasihmu! Apakah hubungan kita selama di luar negeri sudah tidak ada artinya lagi? Kamu pasti bohong, kan?"
"Aku tidak bohong," sahut Nalendra sembari tetap merangkul perempuan muda di sampingnya, bahkan rangkulannya semakin erat, membuat Laras mati kutu. Dia tidak bisa mengucapkan kata sepatah pun.
"Kamu jahat, Ale. Kenapa kamu mengkhianatiku? Dan hei ...!" Ujung jemari Clara menempel di dahi Laras. "Dasar pelakor! Apa kamu tidak tahu kalau Nalendra sudah memiliki seorang kekasih? Berani-beraninya kamu merebut kekasihku!"
__ADS_1
Clara mendorong tubuh Laras, sehingga membuat pegangan Nalendra terhadap wanita itu terlepas. Untuk sesaat tubuh Laras mundur beberapa langkah. Nalendra dengan cepat meraih tubuh Laras dan kembali merangkulnya.
"Clara!" hardik Nalendra. Lelaki itu mengibaskan tangan Clara dengan kasar.
"Sejak kapan aku mengkhianatimu? Kamu saja yang terlalu percaya diri. Kita memang pernah berhubungan, tetapi itu sudah sangat lama dan hubungan kita sudah berakhir setelah aku memutuskan untuk kembali ke negara ini, negara asalku. Kamu jangan berhalusinasi Clara!"
"Tapi aku mencintaimu, Ale. Apakah kamu lupa dengan semua kebersamaan kita, malam-malam panas yang pernah kita lewati? Apakah kamu melupakan itu?" Suara Clara terdengar memelas Namun itu tidak membuat Nalendra merasa tergugah.
"Apapun yang sudah terjadi, tapi pada kenyataannya hubungan kita sudah berakhir, Clara!"
Nalendra tertawa keras. "Oh, ya? Kenapa tidak kemarin-kemarin saja kamu menyusulku? Kemarin kamu kemana? Apakah kamu masih terlena di dalam pelukan bule asal Amerika itu?" ejek Nalendra.
"Sekarang kamu kembali karena kamu sudah dicampakkan oleh lelaki itu, kan?" Lelaki bertubuh tinggi besar itu masih tidak bisa melupakan peristiwa menyakitkan dalam hidupnya.
Kekasihnya saat itu, Clara tengah mendesah erotis di bawah kungkungan lelaki lain yang tengah asyik menaik-turunkan tubuhnya. Pergumulan mereka begitu panas sehingga melupakan jikalau pintu apartemen tidak terkunci dan Nalendra bisa masuk ke apartemen Clara dengan bebas.
"Tutup mulutmu Nalendra! Aku tidak sekotor yang kamu bayangkan! Robert itu adalah temanku!" Clara membela dirinya.
__ADS_1
"Teman di atas ranjangmu? Teman bermain kuda-kudaan?" ejek Nalendra.
"Stop!" teriak Laras. Wanita muda itu merasa jengah dengan pertengkaran pria dan wanita dewasa di hadapannya. Dia tidak tahu siapa yang benar dan salah dalam hal ini.
"Maaf, Tuan Nalendra dan juga Nona Clara. Ini adalah kantor. Kalau kalian memiliki masalah pribadi, tolong selesaikan, tapi bukan di sini tempatnya. Mohon maaf sekali lagi, ini adalah kantor!" tegas Laras. Dia mundur beberapa langkah berdiri tegak dengan tangan bersedekap di dada. Perawakannya tampak tenang.
"Kamu?!" tuding Clara. "Berani-beraninya kamu bilang seperti itu! Ingat, kamu itu hanya BA-WA-HAN di sini! Jangan berlagak jadi bos!"
"Saya memang bukan Bos di sini, tetapi saya sebagai asisten pribadi Tuan Nalendra menginginkan kenyamanan dan ketenangan di saat bekerja. Saya mohon, jika Nona memiliki masalah dengan Tuan Nalendra, sebaiknya bicarakanlah di luar kantor ini."
"Tolong, Nona. Saya mohon kerjasamanya," ucap Laras tegas. Sedikitpun dia tidak bergeming apalagi takut saat berhadapan dengan wanita itu.
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏
__ADS_1