DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 59 AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Galang keluar dari kamar mandi dengan tubuh lemas dan wajah pucat. Pria itu kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang. Namun, baru saja dia berbaring, rasa mual kembali menyerangnya.


Pria itu kembali berlari ke kamar mandi. Sementara Nadine baru saja masuk kamar setelah meminta tolong pada Bi Minah untuk membawakan makanan untuk Galang.


Perempuan itu tampak khawatir melihat Galang bolak-balik ke kamar mandi. Dia tidak tahu kenapa sang suami tiba-tiba muntah-muntah. Nadine bahkan belum sempat memberi kabar bahagia tentang kehamilannya pada Galang.


"Gimana, Sayang? Udah mendingan?" Nadine menatap wajah pucat sang suami kemudian membelainya.


"Kamu makan apa di rumah mama tadi? Kok tiba-tiba mual-mual begini?" Nadine membelai wajah sang suami. Keningnya berkerut saat dia melihat beberapa memar di wajah Galang.


Tadi pagi ia belum sempat memperhatikan wajah Galang dengan seksama.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu memar-memar begini?" Nadine terlihat panik.


"Aku nggak apa-apa."


"Nggak apa-apa gimana? Wajahmu penuh memar begini?" Nadine menyentuh bibir Galang yang terluka, membuat pria itu meringis.


"Sakit, ya? Aku obatin ya, nanti kalau dibiarkan infeksi. Sebentar aku-" Belum selesai Nadine berucap, Galang membungkam mulut sang istri dengan bibirnya.


"Kamu cerewet banget." Galang mengusap bibir Nadine dengan ujung jarinya setelah tautan bibir mereka berakhir.


"Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil."


"Tapi aku beneran khawatir, ada apa sebenarnya?" Nadine menatap wajah suaminya.


"Aku tidak sengaja bertemu preman di jalanan tadi."


"Apa?"


"Bagaimana bisa?"


"Ceritanya panjang. Bisakah kau biarkan aku beristirahat dulu?" Galang menatap Nadine dengan muka memelas, membuat Nadine merasa iba.


"Baiklah! Kau istirahat saja dulu. Setelah ini kamu makan, biar ada tenaga lagi."

__ADS_1


"Makasih, Sayang." Galang mengecup kening Nadine. Kemudian membaringkan tubuhnya.


Pria itu menatap wajah istri cantiknya yang terlihat khawatir.


'Maafkan aku, aku terpaksa berbohong padamu.'


'Seandainya aku mengatakan padamu, siapa yang memukuliku sebenarnya, kamu pasti akan sangat marah, setelah itu aku yakin, Nalendra pasti akan menceritakan semuanya padamu dan semua rahasiaku pasti akan langsung terbongkar.'


Beberapa saat kemudian, Nadine membawa makanan yang sudah disiapkan Bi Minah. Perempuan itu menatap wajah sang suami yang terlihat sangat pucat.


"Makan dulu, Sayang." Nadine mengusap rambut Galang. Pria itu tadi kembali ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Galang membuka matanya, kemudian menuruti Nadine. Apalagi perutnya memang sangat lapar.


"Aku punya kabar gembira untukmu." Nadine menyuapkan nasi ke mulut Galang.


"Kabar gembira?"


Nadine mengangguk sambil tersenyum.


"Apa?"


"Sayang, apa itu benar?" Galang menatap Nadine tak percaya.


"Iya." Nadine menganggukkan kepalanya.


"Akhirnya, kita akan segera punya anak, Sayang." Galang menyingkirkan piring yang dipegang Nadine. Kemudian dia memeluk perempuan itu dengan erat.


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu."


"Aku sangat mencintaimu."


Saat Galang mengatakan itu, wajah Laras terlintas di kepalanya. Bukan hanya Laras, tetapi juga wajah Ruby, darah daging yang belum pernah dia lihat secara langsung sampai saat ini.


Galang hanya melihat wajah gadis kecil itu lewat ponsel ketika orang suruhannya menyelidiki rumah Laras.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu."


Suara Nadine membuyarkan lamunan Galang.


****


Laras baru saja selesai mandi, saat dia keluar dari kamarnya menuju taman malam itu. Di rumah besar keluarga Chandra terdapat taman yang cukup luas dan sangat menyejukkan mata ketika dipandang.


Laras memang suka duduk sebentar di taman sebelum dia beranjak tidur. Dia akan duduk di sana sambil mendengarkan musik dan menikmati secangkir kopi. Setiap kali memandangi bunga-bunga yang bermekaran di sana, suasana hati Laras langsung berubah tenang.


Laras memang pecinta tanaman. Dulu, saat masih di kampung, dia suka merawat berbagai jenis tanaman hias. Meski bukan jenis tanaman mahal, tetapi Laras sangat menyukainya dan merawatnya dengan baik.


Saat sedang menikmati kesendiriannya, kedua mata Laras tanpa sengaja melihat Nadine dan Galang. Sepasang suami istri itu terlihat sedang bermesraan.


Galang dengan mesra memeluk Nadine bahkan menciumnya berkali-kali. Terlihat sekali dari wajahnya kalau dia begitu mencintai perempuan itu.


Laras menghela napas panjang ketika rasa sakit dan marah secara bersamaan merasuk ke relung hatinya.


"Kamu tidak mau melepaskan aku, tetapi kamu sangat mencintai Nona Nadine. Sebenarnya apa maumu, Mas?" lirih Laras. Tatapan matanya masih tertuju pada dua insan yang sedang dimabuk cinta di hadapannya.


'Sudah bertahun-tahun, kenapa aku masih juga merasakan sakit ini?'


Laras memegangi dadanya yang terasa sesak. Saat dia ingin beranjak dari tempat itu, tiba-tiba suara Nadine terdengar memanggilnya.


"Laras!"


.


By: Nazwatalita


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏


Sambil nunggu author up, baca karya temen author yang satu ini yuk!


__ADS_1


__ADS_2