
Bibir merah alami itu semerah buah ceri. Nalendra menyesapnya dengan rakus. Lidahnya bergerak-gerak, memaksa masuk ke dalam rongga mulut kekasihnya, mengajaknya menari. Laras menyambutnya dengan gemetar. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, apalagi posisi mereka kini tak lagi menyisakan jarak, hanya terhalang kain yang menutup tubuh mereka masing-masing.
Sebuah ******* lolos dari mulut Laras. Dia merutuki tubuhnya sendiri yang dengan begitu mudah terbuai dengan sentuhan semanis madu. Nelendra begitu pandai membuatnya seperti melayang.
Napas Nalendra terengah saat ia melepaskan ciumannya. Keduanya saling menatap. Pendar mata laki-laki itu begitu sayu dengan tangan yang masih mendekap erat tubuh kekasihnya.
Laras yang tak sanggup bersitatap lebih lama, menyusupkan wajahnya di dada bidang itu, mencari ketenangan di sana.
Berada dalam keadaan seintim ini dengan kekasihnya memang memantik api gairah dan kenyamanan sekaligus. Mungkin seperti inilah yang dirasakan oleh Nalendra. Perempuan itu menarik napas. Prasangka di dalam hatinya perlahan menghilang.
Beberapa saat mereka saling mendekap. Tak ada satu katapun terlontar dari mulut keduanya. Suasana hening. Lelaki itu mulai memejamkan mata. Napasnya mulai teratur tidur. Deru napas itu menggelitik kulit wajah Laras dan membuatnya merasa jengah.
Ditatapnya wajah itu. Jujur dia harus mengakui kalau tuan sekaligus kekasihnya ini sangat tampan. Terkadang dia tak habis pikir, apa yang dicari Nalendra dari dirinya.
Dia hanya seorang janda dengan seorang anak perempuan. Kalau mereka menikah pun, Nalendra harus siap-siap menerima paketnya, karena dia dan Ruby itu sepaket, tak bisa terpisahkan.
__ADS_1
Perlahan perempuan itu mulai berusaha melepaskan sepasang tangan yang membelit tubuh rampingnya. Sangat perlahan. Dia tak ingin Nalendra terbangun. Namun, baru saja dia berhasil mengangkat sebelah tangan kokoh itu, tiba-tiba tubuh tinggi besar itu bergerak.
"Jangan pergi, Sayang. Jangan meninggalkan aku, Laras," lirihnya. "Aku ingin kamu berada dalam pelukanku, menemaniku tidur siang ini."
"Aku malu, Ale dan aku takut," bisik Laras pula.
"Aku pun takut, tetapi hanya bersamamu yang membuatku nyaman." Nalendra seolah mengerti apa yang ada dipikiran perempuan itu. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Lelaki itu merubah posisinya kembali mengungkung Laras berada di bawahnya.
Perempuan itu mendesah. Mereka kembali bersitatap. Laras menemukan di balik sinar mata itu ada rasa sakit yang mendalam.
Sinar mata itu menusuk masuk ke jantung dan membuatnya merasakan apa yang lelaki itu rasakan. Sakit dan perih. Laras merasa mereka seperti senasib sepenanggungan.
"Berjuanglah denganku, Laras. Aku tidak ingin berjuang sendirian. Kita tidak perlu memikirkan pandangan orang lain. Apapun yang kita alami hanya kita yang mampu merasakannya," ucapnya lembut.
"Hati manusia itu bisa berubah dan aku yakin suatu saat mommy dan daddy pasti akan merestui kita."
__ADS_1
"Tetapi aku tidak mau menikah tanpa restu, Ale."
"Aku pun terlebih lagi, Sayang. Namun, kalau harus memilih antara dirimu dengan apa yang sudah menjadi milikku saat ini, aku akan memilih dirimu. Aku tidak takut kehilangan apa pun. Aku hanya takut kehilanganmu, Sayang."
"Aku juga takut kehilanganmu. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan dalam hatiku." Perempuan itu memejamkan mata berusaha menahan titik-titik bening yang memaksa keluar.
"Aku tidak pernah menemukan lelaki sebaik kamu. Kamu selalu ada di saat aku terpuruk." Perempuan itu memajukan wajahnya mengecup pipi lelaki itu dengan malu-malu.
Kecupan itu hanya sekilas. Namun Laras tidak sadar jika gerakan di tubuhnya membuat lelaki yang berada di atasnya itu kian terbakar dalam api gairah. Lelaki itu meraup wajah kekasihnya. Menciumnya dengan lembut, menyusuri inci demi inci lekuk wajahnya. Tak sabar, dia turun ke leher jenjang itu, memberikan gigitan-gigitan kecil, meniup telinganya, membuat perempuan itu menggelinjang hebat.
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya 🙏
__ADS_1