
Galang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bukan menuju apartemen miliknya, tetapi kembali menuju rumah Nadine. Dia hanya ingin bertemu dengan wanita itu, wanita yang tengah mengandung buah hatinya.
"Kenapa kamu kemari lagi?" Baru beberapa langkah dia masuk ke teras rumah besar itu, Nyonya Aline sudah menyambutnya sembari berkacak pinggang.
"Aku ingin menemui Nadine, Mom," balas Galang. Langkahnya kian dekat dengan ibu mertuanya itu.
"Buat apa? Buat menyakiti putriku lagi? Sudah cukup kamu nyakitin Nadine, Galang!" seru perempuan setengah baya itu.
"Mom, bagaimanapun kami pernah bersama dan setiap masalah harus dicari solusinya. Aku ingin bertemu dengan Nadine, Mom. Aku ingin bicara!"
Nyonya Aline tertawa. Perempuan yang satu ini memang berhati lembut, tetapi dia juga sangat rapuh. Jangan pernah coba-coba menyakiti hatinya, apalagi putrinya karena dia pasti akan sangat terluka.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu kembali kepada putriku. Ingat itu, Galang!"
"Tapi, baiklah! Kali ini aku akan memberimu kesempatan satu kali untuk bertemu dengan Nadine. Selesaikan masalah kalian. Tapi ingat, Galang. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyakiti Nadine lagi!" Akhirnya Nyonya Aline memberi jalan.
Galang menghela napas lega kemudian berlalu dari tempat itu menuju tangga, menaikinya dengan hati yang bergemuruh.
"Sayang ...." Pemandangan yang pertama kali dilihatnya saat berhasil membuka daun pintu adalah sosok wanita cantik yang terbaring di atas ranjang. Matanya terpejam.
__ADS_1
Lelaki itu mendekat menumpukan lututnya di samping ranjang. Kini jarak diantara mereka begitu dekat. Galang memandang wajah cantik itu sepenuh perasaannya. Wajah yang senantiasa ia puja dan menemani hari-harinya, jauh hari sebelum ia menikahi Nadine. Nadine lah yang sejak awal menemaninya merintis usaha di ibukota dan setia mensupport semua usahanya.
Di saat para putri pengusaha lebih menyukai menikah dengan para putra pengusaha lainnya demi membangun kekuatan bisnis, Nadine justru sebaliknya.
Dia memilih memulai semuanya dari awal, menjadikan dirinya seorang pengusaha terlebih dulu, kemudian menikah. Perempuan ini benar-benar tulus. Galang sangat beruntung karena ia mendapatkan wanita sebaik Nadine. Meskipun pertemuannya kembali dengan Laras membuatnya tidak bisa memilih, antara Laras atau Nadine.
Mereka berdua sama berharganya. Jangankan harus kehilangan keduanya, kehilangan salah satunya pun Galang tidak sanggup.
Galang mulai mendekatkan wajahnya, bermaksud ingin mencium kening wanita itu, tetapi tiba-tiba kelopak matanya terbuka, membuat lelaki itu mengurungkan niatnya sejenak. Galang buru-buru menjauhkan wajahnya.
"Galang ...," lirihnya. Tatap mata wanita itu sungguh sanggup membuat hati Galang terasa rontok seketika.
"Aku tidak takut dengan apapun, Sayang. Aku hanya ingin bertemu denganmu dan calon buah hati kita." Tangan kekarnya bergerak mengelus perut Nadine yang masih rata.
"Tapi kamu sudah mengkhianatiku. Kamu sudah menipu kami semua. Kenapa kamu tega mempermainkan aku, Galang? Menyembunyikan banyak hal dariku, sementara sejak awal aku berkomitmen untuk selalu terbuka padamu?" Perempuan itu mengingatkan dalam tentang komitmen awal mereka dalam membina sebuah hubungan.
"Aku akui, aku yang salah di sini, tetapi, itu aku lakukan karena aku salah paham pada Laras."
"Aku sudah tahu cerita itu," potong Nadine, "kamu tidak usah menjelaskan apapun!"
__ADS_1
"Karena itu, aku mohon, maafkanlah aku."
"Tidak semudah itu, karena hati wanita itu seperti kaca. Sekali dia tersakiti, ibarat piring yang pecah, tak akan semudah itu bisa menyatukan kembali."
Galang meraih tangan mulus wanita itu, menciumnya dengan lembut. "Aku tahu, kamu butuh waktu dan aku juga tidak akan mengganggumu. Kalau kamu memang sudah siap dan mau kembali bersamaku, aku akan sangat bersyukur. Aku akan selalu menunggu kedatanganmu di apartemen kita ...."
"Apa? Apartemen kita?" Nadine agak terkejut.
"Ya, apartemen kita, Sayang. Bukankah kamu pernah memiliki keinginan untuk hidup bersama, hanya berdua denganku?"
"Jadi sekarang Mas tinggal di apartemen, bukannya di rumah mama?"
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah,. dan votenya ya🙏
Mampir yuk ke karya temen aku yang satu ini
__ADS_1