DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 108 TERBONGKAR


__ADS_3

Galang menatap lurus perempuan bernama Santi itu. Sebenarnya dia sudah tidak peduli, tapi hati kecilnya berkata, dia harus mau mendengarkan apapun yang nantinya perempuan itu katakan.


"Pamanmu, Rusdi di penjara dalam waktu yang cukup lama. Jujur, Bibi sudah tidak sanggup lagi untuk menunggu dan Bibi menyatakan Bibi ingin meminta cerai dari pamanmu," ujar Santi tenang.


Ningsih menggeram mendengar pernyataan adik iparnya.


"Berani-beraninya kamu minta cerai, Santi? Disaat kehidupan kalian masih berlimpah kemewahan, bukankah kamu juga menikmatinya? Kenapa sekarang kamu meninggalkan adikku dalam keadaan terpuruk?"


"Yang terpuruk itu bukan cuma adik Mbak Ningsih, tetapi juga aku dan anak-anak. Emangnya Mbak tidak berpikir bagaimana nasibku dan anak? Ah, iya, Mbak kan hanya memikirkan nasib diri sendiri!" ejek Santi.


Santi menghela napas, sementara Ningsih terdiam.


"Galang," ujar Santi. "Sebelum Bibi meninggalkan rumah ini, Bibi ingin menyampaikan sesuatu hal kepadamu. Sebenarnya kamu adalah ...."


"Kamu adalah anak kandungku, Galang!" potong Ningsih.

__ADS_1


"Mbak!" teriak Santi. "Aku belum selesai bicara!"


"Aku sudah tahu apa yang akan kamu bicarakan. Kamu meragukan keabsahan Galang sebagai anak kandungku!" tukas Ningsih.


"Meragukan?" Santi menggelengkan kepala. "Mbak Ningsih tidak perlu bersandiwara lagi. Seharusnya Mbak memberitahu ini pada Galang sejak awal."


"Memangnya ada apa ini, Bibi?" sela Galang. Dia merasakan dadanya berdebar kencang.


"Ketahuilah, Galang. Orang yang kamu sebut hari ini sebagai Mama ini, tak lebih hanya sebagai perusak rumah tangga orang. Dia sudah merebut ayahmu dari ibu kandungmu. Bahkan ibu kandungmu meninggal saat melahirkan dirimu karena selama hamil dia depresi melihat perselingkuhan ayahmu dengan perempuan ini," tunjuk Santi kepada Ningsih.


"Santi, kamu mengada-ngada. Jangan mengarang cerita yang tidak-tidak!" Tangan perempuan itu melayang, bermaksud menampar Santi, tetapi perempuan itu bergerak lebih cepat. Dia menahan tangan Ningsih sehingga posisi mereka saling berpegangan tangan.


"Kamu jangan percaya dengan ucapan perempuan ular ini, Galang. Aku adalah ibumu Ibu kandungmu!" Ningsih balas berteriak. Dia bahkan berdiri sambil berkacak pinggang.


"Kalau memang mama adalah ibu kandungku, mari kita tes DNA sekarang!" ajak Galang.

__ADS_1


"Galang, kamu tidak percaya dengan ibumu?!"


"Sekarang aku tidak mempercayai siapapun termasuk Mama! Semua orang mengkhianatiku! Ketika aku dalam keadaan susah, usaha restoranku gulung tikar dan aku kehilangan kepercayaan dari para investor, bahkan sampai saat ini aku masih menanggung hutang di bank, di mana Mama yang katanya Ibu kandungku yang seharusnya menghibur, mensupport semua usaha dan cita-citaku? Bahkan kebangkrutan yang kualami sekarang juga karena ulah Mama!" Galang meluapkan emosinya.


"Percayalah kepada Mama, Nak. Mama adalah Ibu kandungmu," ujar Ningsih.


"Kalau begitu, untuk membuktikan kalau mama adalah ibu kandungku, mari kita tes DNA!" geram Galang. Dia benar-benar muak dengan prilaku ibunya apalagi dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya, walaupun ia tidak tahu perkataan Santi itu benar atau tidak. Namun yang jelas semua itu terasa begitu menyakitkan.


Santi bersorak dalam hati melihat pertengkaran ibu dan anak itu. Diam-diam perempuan itu bangkit dari tempat duduk. Dia beringsut menjauh. Tanpa mengeluarkan suara, akhirnya perempuan setengah tua itu berhasil menyelinap keluar dari rumah mewah Ningsih.


"Rasain kamu, Mbak. Kamu akan menanggung akibat dari semua keserakahanmu," gumam Santi.


Setelah meninggalkan secarik kertas pesan kepada Galang yang ia titipkan kepada penjaga yang bertugas di pintu gerbang, Santi meninggalkan tempat itu. Tujuannya sekarang adalah sebuah penginapan sederhana yang tidak begitu jauh dari rumah Ningsih.


Dia hanya berjalan kaki demi mengirit ongkos. Kondisi keuangannya sudah sangat sulit. Dia bisa berangkat ke Jakarta ini pun, karena dia menjual perhiasan terakhirnya. Setelah ini dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Kehidupan mewah yang dulu dia jalani membuatnya sama sekali tidak mengerti caranya berusaha. Semua usaha yang dia kelola dengan menggunakan uang Galang berakhir dengan kebangkrutan.

__ADS_1


Santi tersenyum miris. Tak heran kalau akhirnya kedua putrinya memilih menjadi sugar baby karena mereka tak tahu bagaimana caranya mendapatkan uang dengan mudah. Mereka tidak pernah merasakan bermandi keringat demi mendapatkan uang.


By: Jannah Zein


__ADS_2