DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 109 MENINGGALKAN NINGSIH


__ADS_3

Ningsih bersimpuh di hadapan putranya. Baru kali ini dia melihat Galang benar-benar murka. Dia sangat ketakutan.


Biasanya dia mudah sekali mengendalikan anak itu dengan mengingatkan atas jasa-jasanya selama ini sebagai seorang ibu.


Ningsih sadar anak lelaki itu sudah dia bohongi habis-habisan selama puluhan tahun. Sebenarnya Galang adalah anak yang baik. Sifatnya menurun dari ibunya, Atikah.


Ibu kandung Galang itu adalah sahabatnya. Mereka bersahabat dari semenjak Ningsih tinggal bersama Bu Marni. Namun, persahabatan mereka harus berakhir karena ternyata mereka mencintai laki-laki yang sama.


Dahlan, ayah Galang lebih memilih Atikah untuk menjadi istrinya. Ya, jelas saja Dahlan lebih memilih Atikah. Di samping Atikah masih perawan, perangainya pun baik.


Berbeda dengan Ningsih yang statusnya saja masih gadis, tetapi belakangan malah ketahuan sudah punya anak di luar nikah. Saat itu, seorang pria datang ke rumah Bu Marni membawa anak perempuan berumur sekitar empat tahun yang ternyata adalah anak Ningsih bersama pria itu.


Ningsih yang sakit hati, menghalalkan segala cara untuk merebut kembali laki-laki yang sudah menjadi suami Atikah itu.


"Aku tidak menyangka Mama begitu tega. Mama adalah wanita paling jahat yang pernah aku kenal!" teriak Galang.


"Maafkan Mama, Galang, tetapi Mama sangat mencintai ayahmu."


"Cinta yang membutakan!" sarkas Galang. Cinta yang membuat Mama menghalalkan segala cara, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain, walaupun secara tidak langsung."

__ADS_1


"Maafkan Mama, Galang. Sekarang Mama menyesal," lirihnya.


"Penyesalan Mama sudah terlambat. Aku benci Mama. Mama sudah menghancurkan rumah tangga orang tuaku dan sekarang menghancurkan rumah tanggaku, hidupku." Napas laki-laki itu turun naik. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar.


"Mama akan memperbaiki semuanya, Galang. Duduklah! mari kita bicara," ajak perempuan itu menunjuk sofa. Dia bangkit dari tempat duduknya di lantai.


"Apalagi yang ingin Mama katakan?" Galang bergeming dari tempat berdirinya.


"Perbaikilah diri Mama dulu, sebelum memperbaiki keadaan. Jika Mama tidak berubah, keadaan pun tidak akan pernah berubah."


"Mama akan melakukan apapun, Galang!" ujar Ningsih.


"Lelaki itu tersenyum sinis. "Aku tidak perlu janji, Ma, tetapi aku perlu bukti. Sekarang aku pergi dulu. Rumah dan segala isinya, semuanya aku serahkan untuk Mama. Anggap sebagai balas budi karena Mama sudah membesarkanku selama ini!"


"Sebaiknya kita menjalani hidup masing-masing, Ma. Aku tidak mau lagi disangkut pautkan dengan kehidupan Mama dan sebaliknya, Mama tidak perlu turut campur dalam kehidupanku lagi. Kurasa semua yang Mama lakukan dan apa yang aku berikan sudah impas!"


"Galang jangan tinggalkan Mama, Nak."


Galang mengibaskan tangan Ningsih, lantas berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun, tak perduli dengan perempuan tua itu yang yang terlihat berusaha mengejarnya. Dia bergegas menuju mobilnya lantas menghidupkan mesin dan segera meninggalkan rumah mewah itu.

__ADS_1


Galang terus memacu mobil menuju apartemen. Dia butuh tempat untuk menenangkan diri. Kepalanya benar-benar pusing. Galang berusaha fokus.


Meskipun dengan susah payah dan menahan sakit di kepalanya, akhirnya Galang sampai dengan selamat di basement apartemen. Dia segera keluar dari mobil dan melangkah menuju lift.


Baru saja ia keluar dari lift, ponselnya berbunyi. Ah, ternyata dari Alex.


"Ya, Lex," sahut Galang. "Ada apa?"


"Bos, kamu di mana?" Alex balik bertanya.


"Aku di apartemen. Kenapa?"


"Aku kesana sekarang, Bos. Ada yang ingin aku sampaikan." Suara lelaki itu terdengar serius.


"Baiklah, aku tunggu."


Galang menutup panggilan telepon sesaat setelah ia sampai di depan pintu unitnya. Dia menempelkan jari telunjuk dan pintu pun terbuka.


.

__ADS_1


By: Jannah Zein


Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya 🙏


__ADS_2