
Galang segera menyalin data-data yang diperlukan. Lelaki itu benar-benar gusar. Ini baru pertama kali restoran yang dimilikinya mengalami kerugian.
Martin muncul di depan pintu. Lelaki muda seumuran Galang itu berdiri dengan kepala menunduk.
"Duduk!" perintah Galang. Dia melemparkan beberapa berkas ke hadapan laki-laki muda itu.
"Apa saja kerjamu, Martin? Kenapa omset penjualan bulan ini merosot tajam?"
"Saya tidak tahu, Pak."
"Apa? Tidak tahu kau bilang?" Suara Galang langsung meninggi mendengar jawaban Martin.
"Ma-maaf, Pak-"
"Apa maksudmu dengan tidak tahu, Martin?" Galang kembali berteriak marah.
"Aku mempercayakan semuanya padamu dan sekarang kau bilang kau tidak tahu?" Kedua mata Galang menatap tajam pada pria itu.
"Memangnya apa saja kerjamu selama ini, hah?"
Martin menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengepal.
"Jawab, Martin!"
"Sa-saya ...." Martin menghela napas panjang, mencoba menetralkan perasaannya. Selama ini, dia belum pernah melihat Galang begitu marah.
"Pengunjung restoran selalu penuh, laporan bahan baku juga masih tetap sama, bahkan meningkat. Lalu kenapa di sini tertulis omset menurun?" Galang menunjukkan semua berkas laporan keuangan yang baru saja selesai dia periksa.
"Ma-maaf, Pak, saya tidak tahu kalau laporannya-"
"Tidak tahu? Memangnya kau tidak ada jawaban lain selain kata tidak tahu? Kalau kau tidak tahu, lalu apa pekerjaanmu selama ini?" Galang kembali menaikkan volume suaranya.
Pria itu benar-benar sangat marah.
__ADS_1
Sementara dalam hati Martin, dia merutuki kecerobohannya karena lupa mengecek kembali semua berkas itu sebelum sampai ke tangan Galang.
Biasanya sebelum sampai ke tangan Galang, dia sudah terlebih dahulu memeriksa semua berkas itu. Namun, hari ini dia terlalu asyik menggoda karyawan baru sampai dia lupa dengan pekerjaannya.
"Kemana perginya semua uang itu, Martin?" Galang menatap tajam ke arah pria itu.
Sementara Martin langsung mendongakkan kepalanya, merasa kaget dengan ucapan Galang yang langsung ke intinya.
"Apa maksud, Bapak? Sa-saya ti-tidak menger-ti." Wajah Martin langsung terlihat pucat.
"Tidak usah berpura-pura, Martin. Kau sangat tahu apa yang aku maksud."
"Jelaskan padaku, kemana semua uang itu?" Kali ini Galang memukul meja, hingga membuat Martin terlonjak kaget.
Mulutnya tanpa sadar mengatakan apa yang selama ini dia rahasiakan.
"Nyonya Ningsih selalu datang ke sini dan meminta uang, Pak. Awalnya sebulan sekali, tetapi sekarang, hampir setiap minggu beliau kemari untuk meminta uang."
Galang menatap pria itu dengan garang. Apalagi, saat mendengar nama sang ibu disebut-sebut.
Martin kemudian menceritakan semuanya pada Galang tentang kelakuan Ningsih. Meskipun dalam hati sebenarnya dia sedikit merasa takut. Takut kalau rahasianya pun ikut terbongkar.
Galang mengeraskan rahangnya, kedua tangannya mengepal erat. Sekali lagi, orang yang sangat dicintainya itu kembali mengecewakannya.
"Sebenarnya, bukan hanya di restoran ini, di restoran cabang lainnya juga Ibu Ningsih melakukan hal yang sama."
***
Galang turun dari mobil, kemudian bergegas masuk ke rumah besar miliknya yang sekarang ditinggali oleh ibu dan kakak perempuannya beserta suami dan juga anak mereka.
Pria itu dengan penuh amarah langsung berteriak memanggil ibunya juga sang kakak.
"Mamaa!"
__ADS_1
"Mama!"
Galang berteriak memanggil nama ibunya. Hilang sudah rasa hormat Galang terhadap ibunya. Pria itu benar-benar sangat marah dengan apa yang sudah dilakukan oleh sang ibu.
Setelah memarahi Martin, Galang akhirnya mencari tahu tentang apa yang dilakukan oleh Ningsih, sang ibu tercintanya.
Alangkah terkejutnya Galang saat mendengar laporan kalau ternyata apa yang dilakukan oleh ibunya hampir sama di setiap cabang restoran yang dia punya.
Permasalahan Galang ternyata bukan hanya karena masalah uang yang digelapkan oleh Ningsih, tetapi para investor yang selama ini bekerja sama dengan mereka pun sebagian banyak menarik modal mereka.
Bahkan yang lebih parah, ada beberapa restoran yang saat ini mengalami kerugian.
Selama ini Galang terlalu sibuk dengan masalah pribadinya, sampai melupakan usaha yang dirintisnya dari nol itu. Pria itu tidak pernah menduga kalau dia akan mengalami kerugian yang sangat besar.
Apalagi, kerugian yang dialaminya ternyata terjadi selama berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir ini.
Ningsih dan Mira berjalan tergesa mendengar teriakan Galang. Mereka berdua langsung mendekati pria yang terlihat begitu marah itu.
"Ada apa, Galang? Kenapa kamu berteriak memanggil Mama? Sungguh tidak sopan!" tegur Mira dengan kesal.
Galang tidak memedulikan ucapan sang kakak. Kedua netranya menatap sang ibu tercinta dengan penuh amarah.
"Apa maksud Mama mengambil uang dari beberapa restoran milikku tanpa sepengetahuanku?" teriak Galang di depan ibunya dengan penuh amarah.
By: Nazwatalita
Maaf telat update ya, teman-teman 🙏
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏
Sambil nunggu up berikutnya, baca juga karya temen aku yang satu ini.
__ADS_1