
Tubuh Nadine merosot, kemudian ambruk. Perempuan hamil itu tak sadar diri.
"Nadine!"
Nalendra dan Nyonya Aline berteriak kaget. Kemudian bergegas mendekati Nadine bersamaan. Sementara Galang dan Laras yang sedang bertengkar langsung menoleh ke arah suara.
Mereka berdua sangat terkejut saat melihat Nadine, Nyonya Aline juga Nalendra.
"Nona!"
Laras bergegas mendekati Nadine yang saat ini sudah digendong oleh Nalendra. Pria itu terlihat sangat panik, begitupun Nyonya Aline.
Sementara Galang masih terpaku di tempatnya. Pria itu sangat terkejut melihat Nadine, Nalendra dan juga mertuanya.
'Apa Nadine mendengar pertengkaranku dengan Laras?'
"Mas Galang! Ayo cepat tolong Nona Nadine!" Laras berteriak pada pria yang masih resmi menjadi suaminya itu.
Suara teriakan Laras membuyarkan lamunan Galang. Pria itu kemudian berlari menyusul Laras sudah terlebih dahulu mengejar Nadine.
Nalendra membawa Nadine ke kamar tamu. Dia membaringkan tubuh adiknya. Tangannya gemetar antara panik dan marah.
"Cepat telepon dokter!" teriak Nalendra.
"Saya sudah menelepon Dokter Citra, Tuan." Suara Laras terdengar gugup.
Nyonya Aline yang mendengar suara perempuan itu langsung menatap ke arah suara. Pertengkaran Laras dan Galang masih terngiang di telinganya. Nyonya Aline mengepalkan tangannya.
"Ale, suruh asistenmu ini pergi dari sini, mommy tidak ingin melihat pengkhianat seperti dia berkeliaran di rumah ini!"
"Mommy."
"Nyonya."
Nalendra dan Laras berucap bersamaan. Sementara Galang baru saja masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Nadine."
Galang bermaksud ingin mendekati istrinya tetapi Nyonya Aline menghadang langkahnya. Perempuan itu dengan penuh amarah langsung menampar Galang.
"Berani-beraninya kau membohongi putriku!"
Wajah Galang terlempar ke samping karena pukulan Nyonya Aline yang sangat keras.
"Selama ini, kami semua mempercayaimu tapi ternyata kau tak lebih dari seorang pengkhianat!"
Tangan Nyonya Aline kembali mendarat di pipi Galang.
Tuan Chandra yang baru saja keluar dari ruang kerjanya langsung bergegas mendekati suara ribut-ribut yang berasal dari ruang tamu. Sementara Galang antara panik dan kaget. Panik karena melihat sang istri, kaget karena ternyata mertuanya ini telah mendengar pertengkarannya dengan Laras.
"Ada apa? Kenapa kalian ribut-ribut?" Tuan Chandra melihat ke arah semua orang. Tuan Chandra melihat wajah sang istri dan juga putranya yang terlihat marah. Sementara Laras terlihat gugup, begitupun Galang yang tampak panik. Tuan Chandra bahkan sangat terkejut saat istri tercintanya menampar Galang.
"Mommy!"
"Ada apa ini? Kenapa Mommy menampar Galang?"
"Dad, pria ini telah mengkhianati putri kita!"
"Apa maksud Mommy?"
"Dia dan Laras ternyata suami istri."
"Apa?"
Wajah Tuan Chandra yang masih terlihat gagah meski usianya sudah setengah abad lebih itu langsung memerah. Amarahnya langsung naik seketika. Laras menundukkan kepalanya, sementara Galang menatap wajah-wajah penuh amarah kedua mertuanya juga kakak iparnya.
Saat Tuan Chandra ingin mengatakan sesuatu, dari pintu terlihat Dokter Citra berjalan tergesa.
"Maaf, saya terlambat." Tanpa menunggu jawaban, dokter cantik itu segera mendekati Nadine yang masih terbaring. Perempuan itu belum sadarkan diri.
"Bisakah kalian keluar dulu dari ruangan ini?" Melihat situasi yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja, dokter cantik itu mengusir semua orang agar dia bisa memeriksa Nadine dengan nyaman.
__ADS_1
Tak menunggu lama, mereka semua keluar dari kamar itu.
Tuan Chandra menarik Galang, kemudian mencengkeram kerah baju laki-laki itu. Pria paruh baya itu kemudian memukul Galang dengan membabi buta.
"Sialan, kau!"
"Brengsek!"
"Berani-beraninya kau mempermainkan putriku!"
Tuan Chandra berteriak sambil terus memukuli Galang.
Galang hanya diam, tak berani melawan. Mulutnya terkunci. Kedua matanya menatap nanar ke arah Tuan Chandra yang terlihat sangat marah.
Sementara Laras menutup mulutnya agar suara teriakannya tidak terdengar.
Tuan Chandra kembali menarik kerah baju Galang. Menantunya itu terlihat sudah tak berdaya. Wajahnya penuh memar dengan darah mengalir di bibirnya yang terluka.
"Selama ini aku sangat percaya padamu, Galang, karena putriku sangat mencintaimu!"
"Aku tidak menyangka kalau kau ternyata punya nyali untuk mempermainkan putriku!" Tuan Chandra mencengkeram rahang Galang.
"Apa kau tidak tahu akibatnya kalau kau berani melawan keluarga Chandra?" Tangan besar Tuan Chandra semakin erat mencengkram rahang Galang, membuat pria itu meringis menahan sakit.
"Aku bisa melenyapkanmu kapan saja, aku juga bisa menghancurkan usaha yang kau banggakan itu hanya dalam waktu hitungan menit!"
.
.
By: Nazwatalita
Jangan lupa Ikutin terus kelanjutannya ya, teman-teman.
Mohon dukungannya untuk karya ini dengan cara like, komen, hadiah dan votenya ya🙏
__ADS_1