
Suara dering ponsel Ningsih terdengar nyaring. Perempuan itu dengan kesal meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja.
Saat melihat siapa yang menelepon, Ningsih kembali meletakkan ponsel itu di atas meja. Wajahnya terlihat kesal dan marah.
"Sialan kau, Santi! Berani-beraninya kau mengancamku!" Ningsih membiarkan ponselnya terus berdering sambil menggerutu.
Perempuan itu kembali melanjutkan kegiatannya, menonton televisi yang sedang menayangkan sinetron rumah tangga yang sangat terkenal dengan julukan ikan terbang.
Mulut perempuan itu tidak berhenti memaki saat melihat beberapa tokoh antagonis di dalam sinetron itu. Sepertinya dia tidak menyadari kalau dirinya pun sangat jahat, sama seperti pemeran tokoh antagonis dalam sinetron yang sedang ia tonton saat ini.
Ponselnya kembali berdering. Ningsih sengaja mematikan volume dering ponselnya. Namun, bunyi getaran ponsel itu tetap saja mengganggunya.
"Benar-benar sialan!" Perempuan tua itu akhirnya mengangkat panggilan teleponnya.
Namun, sebelum dia memaki, seseorang di seberang sana sudah terlebih dahulu berteriak memakinya.
"Brengsek, kau, Mbak Ningsih! Kenapa sampai sekarang kau belum juga mengirimiku uang?"
"Kau yang brengsek, Santi! Kau pikir siapa dirimu?" Nada suara Ningsih tak kalah meninggi.
"Aku adalah adik iparmu kalau kau lupa!" sarkas Santi.
Perempuan ini benar-benar sudah kehilangan rasa hormatnya pada Ningsih. Semenjak suaminya di penjara karena ulah Ningsih, Santi tidak lagi menghormati perempuan itu sebagai kakak iparnya.
Perempuan itu tetap menyalahkan Ningsih karena telah menjadi penyebab Rusdi masuk penjara, hingga akhirnya kehidupannya hancur.
Santi sudah kehilangan semuanya. Bukan hanya harta, tetapi kedua putrinya yang sudah mulai dewasa pun meninggalkannya karena sekarang mereka jatuh miskin. Bahkan sampai sekarang, mereka belum sekali pun mengabarinya.
Hanya saja, sebagai seorang ibu, Santi tetap mencari di mana keberadaan kedua anak perempuannya itu.
Namun, kabar terakhir yang dia dengar dari teman-teman kedua putrinya membuat Santi merasa kecewa. Kedua anak gadisnya itu memutuskan menjadi sugar baby alias simpanan pria tua yang membutuhkan jasa mereka di atas ranjang. Demi kehidupan mewah yang biasa mereka jalani, mereka rela menjual diri.
__ADS_1
"Cepat kirimkan uang itu sekarang, Mbak Ningsih! Kalau tidak, aku benar-benar akan membongkar rahasiamu di depan Galang!"
"Coba saja kalau kau berani, Santi. Aku yakin, Galang pasti lebih mempercayaiku karena aku adalah ibunya dibandingkan dengan kamu!"
"Oh, ya? Sepertinya Mbak Ningsih terlalu percaya diri. Kita lihat saja nanti, Galang akan mempercayai Mbak Ningsih atau aku!"
"Apa Mbak Ningsih lupa, kalau ada seseorang yang yang juga mengetahui semua rahasia Mbak Ningsih selain aku?" lanjut Santi, membuat Ningsih merasa kaget di ujung sana.
"Aku yakin, orang itu pasti akan membuat Galang percaya, karena orang itu lah yang sangat berjasa pada Galang hingga akhirnya Galang menjadi sukses seperti sekarang!" ucap Santi penuh penekanan.
Ningsih terdiam di ujung telepon. Semua ucapan Santi memaksa ingatannya untuk kembali ke masa lalu. Serpihan kenangan masa lalunya kembali terlintas.
Sosok wajah perempuan yang terlihat anggun dan teduh muncul di kepalanya. Sosok perempuan yang saat itu sama-sama menjadi saksi bersama dengan Santi.
Ningsih mengepalkan tangannya erat. Emosinya naik seketika saat wajah perempuan itu terlintas. Perempuan baik yang telah membuat kehidupan kelamnya berakhir.
"Bagaimana, Mbak, apa kau masih bersikeras untuk tidak memberikan yang aku mau?"
"Sialan kau Santi! Awas saja, aku pasti akan mengadukan semua kelakuanmu di depan Rusdi. Bila perlu, aku akan suruh Rusdi menceraikanmu!"
"Kau pikir aku takut bercerai? Saat ini adik tercintamu itu tidak lagi berharga, apa kau pikir aku akan terus menunggunya sampai dia keluar dari penjara?"
"Aku bukan perempuan bodoh, Mbak Ningsih! Aku tidak peduli walaupun aku harus bercerai dengan Mas Rusdi. Lagipula, siapa juga perempuan yang mau bertahan menunggu suaminya pulang dari penjara?"
"Kau!" Suara Ningsih kembali meninggi.
"Kalau kau mengira, aku akan kembali pada Mas Rusdi, kau salah besar, Mba Ningsih! Karena aku tidak akan pernah kembali padanya!"
"Santi kau-"
"Cepat kirimi aku uang, kalau tidak aku benar-benar akan menyusulmu ke sana dan memberitahukan semuanya pada Galang!" Santi menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
"Santi k-"
"Sialan!" maki Ningsih saat mengetahui kalau Santi sudah mengakhiri panggilannya secara sepihak.
"Bener-bener sialan!"
"Ada apa, Ma?" Mira tiba-tiba muncul di depan Ningsih yang terlihat marah sambil menatap layar ponselnya.
"Siapa yang menelepon?"
"Santi."
"Tante Santi?
"Bi Santi! Tidak usah terlalu keren memanggil namanya!" Mira tertawa mendengar ucapan sang mama.
"Hentikan tawamu Mira, Santi terus saja mengancam Mama kalau dia kan bongkar semua rahasia mama!
"Apa? Rahasia?"
"Memangnya Mama punya rahasia apa?"
Ningsih berdecak kesal, saat menyadari kalau anak perempuannya ini juga tidak mengetahui rahasia tentang masa lalunya.
***
Galang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga beberapa menit kemudian, mobil pria itu sampai di depan gerbang rumah besar miliknya yang sampai sekarang ditinggali oleh sang ibu dan kakak perempuannya.
Saat penjaga membukakan pintu gerbang, pandangan Galang tak sengaja menangkap sosok perempuan yang tampak tidak asing baginya berdiri di samping pintu gerbang tidak jauh darinya.
Bi Santi?
__ADS_1
By: Nazwatalita
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya 🙏