DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 48 MENCOBA MENGHINDAR


__ADS_3

Setelah puas memberikan pelajaran terhadap Galang, Nalendra kembali ke ruangan kerjanya setelah sebelumnya singgah di toilet untuk merapikan penampilannya yang agak berantakan setelah adu jotos dengan Galang.


"Sial! Sial! Galang malah menjebakku. Dia menggunakan cinta Nadine kepadanya sebagai tameng!" Nalendra mengupat dalam hati.


'Akan sulit bagiku untuk menyingkirkan laki-laki sialan itu dari sini. Aku takkan bisa melihat Nadine terpuruk!'


'Apa yang harus aku lakukan?'


Sembari terus berjalan, kakinya menendang udara kosong di depannya.


'Aarrrghhh ...!'


Lelaki itu sontak berhenti mengumpat dalam hati saat menyadari dia sudah berada di depan ruang kerjanya.


Begitu memasuki ruangan, dia melihat Laras tengah serius mengerjakan sesuatu. Melihat itu, Nalendra meneguk salivanya. Apalagi saat dia melihat anak-anak rambut yang menjuntai menutupi sebagian dahi perempuan itu. Pemandangan yang membuat perasaannya seketika menghangat.


'Andai kamu bukan istri orang, Laras," keluhnya dalam hati.


'Bagaimana caranya aku bisa melepaskanmu dari Galang, sementara Galang belum mau melepaskanmu?'


Lelaki itu kemudian duduk di kursi kebesarannya. Dia mulai membuka laptop kemudian segera memulai pekerjaannya, membaca beberapa file kemudian memberikan tanda tangan digital.


Ada beberapa perjanjian dan kontrak yang harus ditandatangani dan bisa dilakukan secara virtual, tetapi beberapa perjanjian dan kontrak yang harus dilakukan di atas kertas secara tatap muka.


Satu jam telah berlalu dan Nalendra merasa haus. Laki-laki itu menggelengkan kepala. Tak ada kopi yang biasa Laras sediakan di atas meja.


"Laras," panggil Nalendra

__ADS_1


"Ya, Tuan." Laras menoleh.


"Mana kopi saya? Kenapa tidak ada di sini?"


"Maaf, Tuan." Laras tersentak kaget menyadari kesalahannya.


"Segera akan saya buatkan."


Tanpa berusaha mendengar sahutan dari Nalendra, perempuan itu bergegas keluar menuju pantry.


"Ya Tuhan, aku lupa membuat kopi," gumam Laras merutuki dirinya sendiri.


Akibat ciuman itu membuatnya tidak tidur semalaman. Pikirannya tertuju kepada adegan di dalam lift itu. Betapa memalukannya. Dia yang masih berstatus istri orang kenapa begitu gampang menerima ciuman dari seorang lelaki yang bukan suaminya?


'Bodohnya aku ... kenapa aku seolah terhipnotis saat dia tiba-tiba menciumku?'


"Aku selalu berusaha mengontrol diriku untuk tidak berdekatan dengan lelaki manapun, tetapi, kenapa aku bisa seperti ini?"


Laras harus mengakui, Nalendra itu berbeda dari lelaki manapun, meskipun itu Galang, suaminya sendiri. Walaupun sikapnya dingin, tetapi sebenarnya dia penyayang. Laras melihat sendiri bagaimana sayangnya dia dengan Nadine, adik kembarnya.


"Kenapa aku malah membanding-bandingkan Nalendra dengan Mas Galang?" Laras memijat kepalanya.


Dia sudah sampai di pantry sekarang. Sembari tangannya mengambil gelas, gula, kopi dan air panas, Laras terus berpikir.


'Sebaiknya aku menjaga jarak dengan lelaki itu. Meskipun dia itu atasanku, tetapi aku tidak mau kejadian di lift itu terulang kembali. Di mana harga diriku sebagai seorang wanita yang seharusnya yang bisa menjaga diri dari setiap sentuhan lelaki yang bukan suamiku?'


'Lagi pula, aku tidak tahu maksud dia menciumku seperti itu. Apa mungkin dia hanya iseng?' Laras tersenyum kecut.

__ADS_1


Lelaki seperti Nalendra memiliki segalanya yang diimpikan oleh kaum wanita. Tampan, gagah, kaya raya, bahkan pewaris sebuah perusahaan media terkenal di negeri ini, CNI group. Pasti dia banyak disukai oleh kaum wanita. Bagi seorang Nalendra, tidaklah sulit membuat seorang wanita mendatangi ranjangnya.


Perempuan itu mendadak bergidik. Dia tidak pernah memikirkan soal ini saat ia akan menerima pekerjaan dari Nalendra sebagai asisten pribadinya.


Laras hanya tahu soal uang, uang dan uang! Dia cuma memerlukan uang untuk menghidupi keluarganya dan dia tidak pernah berpikir bahwa menjadi asisten pribadi seorang CEO berarti harus melakukan segala hal yang ....


"Tampaknya aku harus berhati-hati mulai sekarang. Karakter Tuan Nalendra sangat sulit ditebak dan aku tidak tahu bagaimana sifat aslinya."


"Aku tidak mau terjebak dan akhirnya menjadi korban. Lelaki itu sama saja." Tiba-tiba dia teringat dengan Galang yang memanfaatkan Nadine untuk mendongkrak kesuksesannya.


"Mereka sama-sama lelaki yang menyukai perempuan cantik." Laras menggelengkan kepala, berusaha mengibaskan pikiran buruknya tentang tuan mudanya itu.


Setelah selesai menyeduh kopi, Laras segera keluar dari ruangan itu dengan secangkir kopi di tangan.


"Ini kopinya, Tuan," ucap Laras sesaat setelah dia kembali ke ruangan kerjanya.


"Ya, taruh saja di situ," sahutnya.


Lelaki itu hanya bersuara, tetapi sedikitpun dia tidak menoleh kepadanya. Dia masih sibuk mempelajari data-data dari layar laptop.


Laras berdecak sebal. Sikap Nalendra sulit ditebak. Terkadang dia dingin dan acuh. Namun, di suatu saat dia bisa hangat dan perhatian. Bahkan bisa beringas seperti yang dia alami saat dia hanya berdua di lift itu.


Mengingat itu, membuat wajah perempuan muda itu memerah menahan malu dan emosi. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke meja kerjanya, duduk dan kembali berkutat dengan laptopnya


.


By: Jannah Zein

__ADS_1


Jangan lupa dukung Authornya terus ya, like, komen hadiah dan votenya 🙏


__ADS_2