
"Aku tidak akan pernah melupakan malam ini, Brengsek!" Laras mengumpat. Dia berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
"Awww ...." Perempuan itu merintih. Bagian intinya sangat sakit.
Maklum, sudah terlalu lama dia tidak digauli oleh seorang pria. Percintaannya pun terbatas hanya dengan Galang seorang. Sementara Galang sudah meninggalkannya selama lima tahun.
Laras akhirnya berjalan menuju kamar mandi dengan susah payah. Menyalakan keran air, kemudian meringkuk di bawahnya.
Entah kenapa Laras merasa dirinya demikian kotor. Padahal pria yang menggaulinya tadi malam adalah suaminya sendiri. Ya, suami di atas kertas dan akad!
"Ini bukan percintaan, tetapi pemerkosaan. Hubungan suami istri itu atas dasar suka sama suka, bukan atas keinginan sepihak!" Laras menjerit dalam hati. Dadanya terbakar amarah.
"Istri memang wajib melayani suami, tetapi suami tidak berhak memaksa seorang Istri untuk melayani!" Suara hati Laras. Apalagi hubungan mereka saja tidak jelas mau di bawa kemana.
Kalau Laras sih sudah fix. Dari pada sakit hati terus-menerus, mending dia cerai saja. Kenapa sekarang Galang yang terkesan mengulur waktu untuk menceraikannya?
"Seorang budak saja tidak boleh dipaksa untuk melakukan hubungan intim dengan tuannya, apalagi aku seorang istri, wanita merdeka!" teriak Laras dalam hati.
"Aku manusia! Aku wanita merdeka! Aku punya hak atas tubuhku sendiri! Aku punya kontrol penuh atas diriku karena seorang istri itu bukan tempat penampungan ******!"
Perempuan itu masih saja membiarkan dirinya diguyur oleh air dingin, bahkan air matanya pun bercampur menjadi satu. Asin air matanya lebih asin lagi garam yang ditaburkan oleh suaminya sendiri di atas luka hatinya.
Menit demi menit telah berlalu dan Laras merasakan tubuhnya mulai menggigil. Dia mulai menyadari dirinya sendiri. Perempuan itu mematikan kran air kemudian mengambil handuk yang tergantung di sudut kamar mandi.
Langkahnya masih terseok saat akan menuju lemari pakaian.
Beberapa menit kemudian dia sudah selesai berpakaian. Kini dia tengah duduk di meja rias, memoles wajah sebisanya demi menyamarkan kondisi wajah dan matanya yang sembab.
*****
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan, Nyonya." Laras melangkah tergesa mendekati meja makan. Dia melihat tuan Chandra, nyonya Aline, Nalendra, Nadine dan juga Galang sudah duduk mengelilingi meja makan.
"Selamat pagi juga, Laras," balas Nyonya Aline.
Perempuan setengah baya ini memperhatikan penampilan asisten pribadi putranya. Pagi ini Laras mengenakan setelan berupa atasan berwarna krem dengan kerah berwarna coklat muda dan celana panjang berwarna coklat muda pula.
Laras mengikat rambutnya hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Perempuan itu mendekati Nalendra.
"Maaf, saya sedikit terlambat, Tuan." Laras menatap Nalendra dengan perasaan tidak enak. Gara-gara terlalu lama di kamar mandi, perempuan itu terlambat beberapa menit dari biasanya.
"Tolong tuangkan air putih untukku!" perintah Nalendra. Pria itu menatap Laras tanpa menjawab pertanyaannya.
Laras menurut. Dia menuangkan air putih ke dalam gelas kaca.
"Minumlah, Laras," ujarnya ketika perempuan itu menyodorkan segelas air putih untuknya.
"Benar, minum sajalah dulu," ujar Nalendra.
"Kamu pasti langsung ke sini dan belum sempat minum, kan?"
Laras menganggukkan kepalanya.
Laras duduk di kursi berdampingan dengan pemuda itu. Semenjak Nalendra menghukumnya karena dia tidak mau bergabung satu meja makan dengan mereka, kini Laras tidak pernah membantah lagi saat pria itu menyuruhnya duduk satu meja makan dengannya.
Perempuan itu terpaksa mengikuti kemauan bosnya, meskipun sebenarnya dia merasa tidak enak dengan Tuan Chandra dan Nyonya Aline.
Laras meminum air putihnya sedikit, kemudian meraih selembar roti dan mengolesinya dengan selai nanas kesukaannya.
__ADS_1
Baru saja beberapa suap dia memakan rotinya, tiba-tiba Nalendra meraih air itu dan meminumnya tepat di sisi gelas bekas posisi bibirnya berada.
"Tuan," tegur Laras. Dia merasa sangat kaget saat Nalendra tiba-tiba meminum bekas minumannya.
"Saya akan menuangkan minuman untuk Tuan."
Perempuan itu bermaksud berdiri untuk mengambil gelas yang baru ketika tiba-tiba sebuah tangan kokoh menahannya untuk kembali duduk.
"Tidak perlu. Aku lihat air di gelasmu masih banyak. Aku hanya meminumnya sedikit!" tegas Nalendra. Laki-laki itu mulai berdiri.
"Aku sudah selesai makan. Kamu aku tunggu di ruangan kerja, Laras," tegas Nalendra. Laki-laki itu segera berlalu dari tempat itu meninggalkan Laras yang hanya bisa melongo.
Nyonya Aline pun heran dengan tingkah aneh putranya. Sepengetahuannya, Nalendra itu orangnya bersih dan dia tidak mungkin mau minum bekas air minum orang lain, apalagi itu pembantunya sendiri.
Namun, Laras tak ambil pusing. Dia tak peduli dengan keheranan orang-orang di sekitarnya. Perempuan itu tetap memakan rotinya sampai habis, malah menambah lagi satu potong roti. Dia benar-benar lapar pagi ini. Perlakuan menyakitkan dari Galang dan semua kesedihan yang dia dapatkan setelah itu, semua menguras emosi dan juga tenaganya. Dia perlu nutrisi untuk memulihkan semua itu.
Laras meneguk air di gelasnya. Dia tak menyadari kalau sisi gelas itu merupakan tempat bekas bibir Narendra. Dia meminumnya sampai seluruh air di gelas itu habis.
"Saya permisi dulu, Tuan, Nyonya. Saya akan menyusul Tuan Nalendra," pamitnya kepada tuan Chandra. Laki-laki tua itu balas mengangguk diiringi oleh istrinya.
"Silakan, Laras. Selamat bekerja ya," balas nyonya Aline ramah.
"Terima kasih, Nyonya." Laras berbalik dan terus melangkah menuju ruang kerja Nalendra. Semalam, masih banyak pekerjaan yang belum selesai. Pasti Nalendra akan menyuruhnya memeriksa dulu sebelum akhirnya berangkat ke kantor.
Semua mata tertuju kepada Laras. Tuan Chandra, Nyonya Aline, bahkan Nadine. Mereka menatap asisten pribadi Nalendra itu hingga tubuhnya lenyap di balik pintu ruang makan. Mereka bahkan tak sadar ada sepasang mata memperhatikan perempuan itu dengan pandangan membunuh dan sepasang tangan yang mengepal keras di balik meja.
.
By: Jannah Zein
__ADS_1
Ikutin terus ceritanya ya teman-teman. Jangan lupa dukung Authornya dengan cara like, komen, dan Votenya ya ...