
Setelah beberapa hari di rumah sakit, Nadine kembali pulang ke rumahnya. Perempuan itu disambut dengan antusias oleh seluruh anggota keluarganya.
Tuan Chandra dan Nyonya Aline sangat bahagia melihat kepulangan putrinya dari rumah sakit.
Nadine pulang diantar oleh Nalendra juga Laras. Nalendra sengaja menyuruh kedua orang tuanya pulang terlebih dahulu.
Semenjak Nadine di rumah sakit, semua pekerjaan Nalendra diserahkan pada Tuan Candra.
Laki-laki paruh baya itu terlihat lelah, oleh karena itu, Nalendra menyuruhnya pulang ke rumah.
Begitupun Nyonya Aline, perempuan yang melahirkannya itu pun terlihat lelah karena sudah dua hari terus menemani Nadine di rumah sakit.
Sebenarnya banyak orang yang menemani Nadine, termasuk Bi Minah, asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Chandra.
Namun, Nyonya Aline tetap bersikeras untuk menjaga Nadine di rumah sakit.
Nalendra mengantarkan Nadine ke kamarnya sementara di belakangnya Laras berjalan sambil menggendong bayi Nadine.
Nyonya Aline yang melihat Laras menggendong cucunya langsung menghentikan langkah gadis itu. Dengan wajah kesal, perempuan itu mengambil bayi mungil berusia tiga hari itu dari gendongan Laras.
Nalendra yang melihat itu, menatap sang mommy dengan wajah kesal.
Sementara Tuan Chandra hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya.
Mereka sampai di kamar Nadine. Di kamar yang sangat luas itu kini terdapat ranjang bayi dan juga boks bayi di sebelahnya.
Nadine memang sengaja meminta pada sang mommy agar menempatkan ranjang bayi itu di sebelah ranjangnya.
"Cucu Oma sangat cantik," ucap Nyonya Aline sambil menciumi bayi mungil itu.
Perempuan paruh baya itu terlihat gemas melihat bayi mungil yang sedang tertidur di gendongannya.
Nadine membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang dengan dibantu oleh Nalendra.
Perempuan itu sedikit meringis saat merasakan nyeri di perutnya.
"Apa rasanya sangat sakit?" Nalendra terlihat khawatir melihat adik tercintanya meringis kesakitan.
"Lumayan sakit." Nadine meringis menahan sakit.
Nalendra mengusap kepala adik kembarnya itu dengan penuh kasih sayang.
"Tapi rasa sakitnya sedikit terobati saat melihat dia." Nadine menunjuk ke arah putrinya.
__ADS_1
Bibirnya menyunggingkan senyum sambil terus menatap sang putri yang saat ini terlelap di dalam boks bayi.
"Putrimu sangat cantik, aku janji aku akan membantumu untuk merawat dia." Nalendra menatap bayi Nadine.
Kedua matanya tak sengaja menatap wajah sinis Nyonya Aline yang sedang menatap Laras dengan pandangan tak suka.
"Terima kasih, Ale." Nalendra mengangguk sambil tersenyum.
Tangannya meraih tangan Laras yang berdiri di sampingnya.
Gadis itu terlihat canggung dengan situasi di kamar itu. Laras sadar, kalau sekarang, Nyonya Aline terlihat tidak begitu menyukainya.
Nadine tersenyum saat melihat Laras yang berdiri di samping Nalendra. Dari awal pertemuannya dengan Laras, dia selalu bilang, kalau Laras dan Nalendra adalah pasangan serasi.
Namun, dia sungguh tidak menyangka kalau Laras dulu adalah istri dari pria yang sangat dicintainya.
"Terima kasih karena sudah menemaniku di rumah sakit dan mengantarkan aku pulang ke rumah," ucap Nadine.
"Sama-sama, Nona. Saya sangat senang bisa bertemu dengan Nona lagi." Laras tersenyum menatap Nadine.
"Aku juga senang bertemu denganmu. Aku minta maaf karena aku-"
"Meminta maaf untuk apa, Nadine? Memangnya kamu salah apa sama dia?" Suara Nyonya Aline membuat Nadine menghentikan ucapannya.
Nalendra mempererat genggaman tangannya pada Laras.
Laras terlihat gugup dan merasa tidak nyaman. Dari awal dia sudah menolak keinginan Nalendra untuk mengantarkan Nadine sampai ke rumah besar Tuan Chandra.
Namun, pria di depannya ini terus saja memaksa dan meyakinkannya kalau tidak akan terjadi apa-apa kalau dirinya ikut ke rumah.
Akan tetapi, dugaan Nalendra salah. Belum apa-apa, Nyonya Aline sudah terlihat tidak menyukainya.
Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu terlihat sangat berbeda dibandingkan saat dirinya masih bekerja di rumah itu.
"Mom, bagaimanapun, aku telah-"
"Nona, apa yang dikatakan Nyonya Aline memang benar. Kenapa Nona minta maaf? Nona tidak punya salah apa pun."
"Aku adalah penyebab-"
"Nona." Laras menatap Nadine sambil menggeleng.
Nadine menghela napas panjang. Menghalau rasa sakit yang tiba-tiba mengalir ke hatinya.
__ADS_1
Ingatannya kembali pada Galang yang telah membohonginya selama bertahun-tahun dengan menyembunyikan kebenaran tentang Laras.
Saat di rumah sakit kemarin, Nadine dan Galang memutuskan untuk berpisah. Bukan karena mereka sudah tidak saling mencintai, tetapi karena Nadine tidak bisa memaafkan kesalahan Galang.
Pria itu sudah meninggalkan luka yang begitu dalam di hatinya. Dia sadar, kalau dirinya dan Laras adalah korban keegoisan pria itu.
Rasa bersalah pada Laras karena telah membuat Galang berpaling dari Laras juga menjadi alasan Nadine memilih bercerai dari Galang.
Laras adalah perempuan baik. Seharusnya Galang dan keluarganya tidak memperlakukan Laras dengan begitu egois, hingga membuat perempuan itu menderita selama bertahun-tahun.
"Ale, bisakah kau bawa perempuan itu pergi dari sini? Mommy sudah bilang bukan, kalau dia hanya akan membuat Nadine mengingat masa lalunya?"
"Mom!" Nalendra menatap Nyonya Aline dengan kesal.
"Kenapa? Kau berteriak keras di hadapan Mommy hanya karena perempuan itu?"
"Mom, Mommy tahu dengan jelas kalau Laras tidak bersalah karena dia hanya korban. Sama seperti Nadine. Kenapa Mommy tidak mengerti juga?"
"Mommy tahu, Ale. Mommy hanya tidak suka kau berhubungan dengan dia!"
"Tapi kenapa, Mom? Laras perempuan baik-baik. Tidak ada yang salah dari dirinya!"
"Tapi Mommy tetap tidak bisa menerima kalau perempuan itu men-"
"Aku mencintainya, Mom. Tidak ada perempuan lain yang bisa membuatku jatuh cinta selain dia!"
.
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🤗
Baca juga dong, novel karya temen Author yang satu ini.
~ BAD WIFE ~
karya : oktiyan_ghassani.
"Sudahlah, pergi! jangan sok suci kau. Seperti baru di pakai saja." ucap Pria itu yang baru saja melihat tubuh Hanum dengan balutan selimut berdiri, dengan mode kesakitan dan menahan sesuatu seperti mengejan. Ia menatap Hanum berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan.
Hanum masih menangis setelah ingin meraih tas, dan trolly kebersihannya. Menjadi pengganti house keeper di kamar 501 adalah awal kesengsaraan hidupnya, dan Hanum kembali bertemu dengan pria itu. Hanum bagai berada dalam roller coaster yang membuat ia tersanjung tinggi, namun dihempaskan paling terdalam.
'Jika jodoh itu adalah cerminan diri, dari pria baik aÄ·an mendapatkan wanita baik. Mengapa aku tidak termasuk kategori seperti itu?'
__ADS_1