DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 30 KEDATANGAN MAMA GALANG 2


__ADS_3

"Ada apa, Ma? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Ningsih tersenyum menatap Galang. Ini yang dia suka dari Galang. Putranya itu selalu khawatir, setiap kali dia datang menemuinya.


"Tidak ada apa-apa, Mama hanya ingin ketemu saja sama kamu. Sudah seminggu ini kamu sibuk terus, sampai-sampai lupa menengok Mama."


"Maafin aku, Ma. Jadwalku sekarang padat banget. Kerjaan di kantor tidak bisa ditinggal." Galang menatap sang Mama dengan raut wajah menyesal.


Ningsih tersenyum mendengarnya penjelasan Galang.


"Mama yang seharusnya minta maaf, karena Mama tidak mengerti kesibukanmu." Ningsih menepuk pundak Galang.


"Mama ada perlu apa sebenarnya? Sebentar lagi aku harus pergi ke kantor. Ada meeting penting dengan para petinggi perusahaan."


Galang menatap perempuan baya yang sudah melahirkannya itu. Wajah Ningsih terlihat khawatir.


"Mama hanya ingin tahu keadaan kamu saja. Galang, apa perempuan itu mengganggumu?" Ningsih bertanya dengan hati-hati.


"Perempuan siapa, Ma?"


"Laras, Galang. Memangnya siapa lagi?"


"Ohh ... Laras tidak pernah menggangguku, Ma. Memangnya kenapa?"


"Mama hanya bertanya, Mama takut perempuan itu macam-macam dan akhirnya membahayakan posisimu sebagai menantu di keluarga itu."

__ADS_1


"Mama tenang saja, Laras tidak akan berani membongkar rahasia pernikahanku dengannya. Aku sudah sering mengingatkannya dan aku yakin, Laras tidak akan sebodoh itu mengungkapkan rahasia kita."


"Mama hanya khawatir, Laras itu kan perempuan licik!" Ningsih berucap dengan nada kesal.


"Mama yakin, dia pasti akan melakukan apa saja untuk mendapatkanmu kembali. Perempuan itu pasti tidak akan menerima begitu saja keputusanmu menikah lagi." Ningsih mencoba memprovokasi.


Galang terdiam, kata-kata itu sudah sering dia dengar dari mulut sang mama selama ini. Dulu, pria itu akan langsung percaya dan marah setiap kali sang mama dan pamannya mengatakan sesuatu yang jelek tentang Laras.


Galang akan langsung mempercayai apa saja yang dikatakan oleh ibu dan pamannya itu. Rasa cintanya pada Laras, membuat Galang gelap mata karena kecemburuan.


Selama ini dia selalu mempercayai semua ucapan keluarganya tentang Laras. Selama lima tahun, Galang selalu mendengarkan dan mempercayai cerita mereka tentang Laras tanpa membuktikan sendiri kebenarannya.


Namun, sekarang sepertinya ada keraguan di hatinya untuk mempercayai ucapan mamanya. Apalagi, setelah Galang mendapatkan sesuatu yang ganjal tentang foto palsu Ruby yang dikirimkan sang paman.


Keraguan Galang semakin kuat, saat mengetahui kalau nomor rekening punya Laras berbeda dengan nomor rekening yang setiap bulan dia transfer dengan nama yang sama.


Galang mengernyit heran. Sudah lama, mamanya ini tidak pernah bertanya tentang uang bulanan yang dia kirimkan untuk Laras, tetapi, kenapa tiba-tiba sang mama menanyakan ini?


"Kenapa memangnya, Ma? Apa mama mau memprotesku lagi, karena aku memberikan uang bulanan pada Laras setelah semua yang dilakukan Laras padaku?" Galang menatap mamanya.


Emosinya langsung terpancing, apalagi saat dia mengingat kalau uang itu ternyata tidak pernah sampai pada Laras, karena ternyata nomor rekening yang diberikan oleh sang paman ternyata berbeda dengan nomor rekening milik Laras.


Galang diam-diam mengepalkan tangannya di bawah meja.


"Mama hanya sekedar bertanya, kenapa kamu marah-marah?" Ningsih menatap Galang dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ma. Aku bukannya marah. Aku hanya merasa aneh saja. Kenapa tiba-tiba mama membicarakan tentang uang bulanan Laras?"


"Ma-mama hanya bertanya saja, memangnya tidak boleh?" ucap Ningsih gugup.


"Ma, aku kan sudah bilang, aku memberikan jatah bulanan pada Laras, karena aku ingin membalas budi kebaikan Laras dan ibunya. Bagaimanapun, ibunya Laras adalah orang yang paling berjasa padaku."


"Jadi maksudmu, Ibu yang telah melahirkanmu ke dunia ini itu tidak berjasa padamu, begitu? Sementara ibunya Laras itu sangat berjasa padamu, karena dia sudah membiayai kuliahmu?"


"Bu-bukan begitu, Ma. Mama mikir nggak sih, seandainya saat itu ibunya Laras tidak bersikeras menjual semua asetnya untuk membiayai kuliahku, mungkin aku tidak akan menjadi sukses seperti sekarang!"


"Mama dan Mbak Mira juga tidak akan hidup mewah seperti sekarang. Kalau bukan karena ibunya Laras, saat ini Mama mungkin masih di kampung, kerja di sawah orang demi menyambung hidup kita yang pas-pasan!"


"Mama tahu, Galang! Tapi bukan berarti kamu harus memberinya uang milyaran juga bukan?"


Galang menatap sang mama dengan raut wajah terkejut. Sementara Ningsih menutup mulutnya.


.


.


By: Nazwatalita


Makin seru ya, ceritanya. Yuk ikutin kelanjutannya terus. Jangan lupa like, komen, dan votenya ya, biar author makin semangat up nya.


Jangan lupa mampir juga ke karya temen aku yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2