
"Terima kasih ya." Laras melepaskan pegangan tangan itu perlahan. Keduanya terus berjalan bersisian menuju mobil.
Hari ini Nalendra mengendarai sendiri mobilnya. Keduanya memilih menghabiskan waktu berdua, meskipun dari kejauhan beberapa orang laki-laki tetap mengawasi mereka. Ya, mereka memang tidak lepas dari pengawalan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kita mau kemana lagi sekarang ini?" tanya Nalendra setelah mobil meluncur di jalan raya. Dia melirik Laras yang duduk manis di sampingnya.
"Menjemput Ruby di sekolah," jawab Laras. Dia mulai menunjukkan jalan arah ke sekolah Ruby.
Hanya perlu waktu belasan menit, Nalendra sudah menepikan mobilnya di tepi jalan depan sekolah sederhana itu. Ruby sekolah di PAUD yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
"Kamu tidak terpikir membawa keluargamu ke Jakarta, Laras?" tanya Nalendra.
"Hah? Maksudmu?"
"Iya, Laras. Apa tidak lebih baik kamu bawa keluargamu ke Jakarta? Dengan begitu, kamu bisa bekerja dengan lebih tenang," usulnya.
"Iya juga ya?" sahut Laras setelah berpikir sejenak, "jadi aku bisa berkumpul dengan mereka setiap hari." Laras menatap Nalendra sambil tersenyum.
"Nah, itu maksudku. Nanti aku akan carikan rumah yang nyaman untuk kalian, yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku." Nalendra balas menatap perempuan yang menarik hatinya itu.
"Aku akan bicara dulu dengan mama, biar beliau yang ambil keputusan. Lagipula, di sini kami sudah tidak memiliki apa-apa. Mending pindah saja ke Jakarta."
Demi melihat senyum yang terbingkai di bibir Laras, Nalendra menarik bibirnya, mencondongkan badan. Dia menatap liar wajah cantik itu dari jarak yang begitu dekat.
__ADS_1
Ingin rasanya pemuda itu menimpakan benda kenyal tipis miliknya ke benda serupa di wajah Laras. Namun, rasa itu mati-matian dia tahan. Dia tidak mau Laras kembali menganggapnya sebagai laki-laki brengsek. Sudah cukup kesalahpahaman mereka waktu itu.
"Sabar, Nalendra. Semua ada waktunya," gumamnya dalam hati.
"Semoga setelah proses perceraian ini selesai, secepatnya aku bisa memilikimu." Laki-laki itu buru-buru menarik kembali wajahnya.
Nalendra memilih menepuk pundak wanita itu, kemudian melepaskan sealbeat yang mengikat tubuhnya.
Sementara Laras terdiam. Merasa kaget dengan apa yang diucapkan Nalendra.
"Apa maksud ucapanmu?"
Bukannya menjawab, Nalendra malah tersenyum menyebalkan.
"Ayo kita keluar. Tuh, lihat!" tunjuknya pada gerombolan bocah kecil yang baru saja keluar dari kelas.
"Mama ...!" Suara gadis cilik menggema di halaman yang tidak seberapa luas itu. Ruby berlari kecil menghambur ke depan, memeluk sang Ibunda yang tengah berdiri dengan Nalendra di sampingnya.
"Mama menjemput Ruby?" Gadis kecil itu mendongakkan wajah, memandang ibunya.
"Iya dong!" Laras membungkuk, balas memeluk gadis kecilnya. "Mama kesini buat jemput Ruby, setelah itu kita jalan-jalan."
***
__ADS_1
"Maaf!" ucap Laras. Keduanya tengah duduk santai sembari mengawasi Ruby yang tengah asyik bermain perosotan seorang diri.
Laras membawa putrinya ke taman di tengah kota, wahana bermain anak-anak. Berhubung hari ini bukanlah hari libur, jadi tempat ini agak sepi. Laras menikmati pemandangan sekelilingnya yang penuh dengan pepohonan dan rimbunan pokok bunga.
"Maaf untuk apa?" tanya Nalendra serius.
"Menemani aku dan Ruby jalan-jalan. Aku jadi nggak enak sama kamu. Tadi aku memutuskan sendiri jalan-jalan ke sini."
Nalendra tertawa keras. "Sampai nggak enak segitunya. Biasa aja kali, Ras! Kamu lucu banget deh!"
"Beneran, aku nggak enak sama kamu. Kamu sudah terlalu banyak membantu kami," ujar Laras.
"Aku nggak pernah merasa di repotkan kok." Laki-laki bertubuh tinggi besar itu bangkit dari tempat duduknya. Dia melangkah menuju Ruby yang tengah bersiap-siap untuk meluncur ke bawah melalui papan perosotannya.
Nalendra berhasil menangkap Ruby sebelum tubuh mungil itu menyentuh tanah yang beralas rerumputan.
"Hore ... dapat!" teriak Nalendra girang saat tubuh mungil Ruby masuk ke dalam gendongannya.
Ruby meronta. Dia merasa canggung berada di dalam gendongan laki-laki yang baru dikenalnya. Seumur hidup Ruby, baru kali ini ada seorang laki-laki dewasa yang menggendongnya. Ada perasaan aneh menyeruak di hati gadis kecil itu, rasanya begitu hangat dan menyenangkan.
.
.
__ADS_1
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya 🙏