
Nalendra menatap adiknya yang langsung tersenyum senang.
Sementara, Laras menahan air matanya agar tidak jatuh saat rasa sakit menjalar ke seluruh ruang hatinya.
Perempuan itu menatap Galang.
Suaminya itu terlihat sangat bahagia saat Nalendra mengizinkannya untuk berbulan madu. Laras memutuskan pandangannya, saat tatapan Galang terarah padanya.
Kedua mata Laras berkaca-kaca, tetapi sebisa mungkin ia menahan air matanya.
Laras mendesis pelan saat kakinya terasa perih. Air matanya menetes membasahi wajah cantiknya.
"Kau menangis?" Nalendra menatap perempuan itu dengan heran.
"Sakit ...." Laras menunjuk kedua kakinya. Satu tangannya mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"Dasar cengeng!"
"Tapi ini benar-benar sakit, Tuan." Kaki Laras memang terasa perih. Namun, rasa sakit dan perih di kakinya bukanlah apa-apa dibandingkan rasa sakit di hatinya.
Laras hanya berpura-pura merasa kesakitan agar dia bisa menumpahkan air matanya.
Melihat sang suami bermesraan dengan perempuan lain, membuat napasnya terasa sesak. Sudut hatinya terasa sakit. Sakit tapi tak berdarah!
Tidak pernah bertemu selama lima tahun tanpa ada kabar berita. Selama itu pula, Laras terus bertahan dan tetap setia pada Galang. Namun, setelah bertemu, dia harus menghadapi kenyataan kalau pria itu justru menikah lagi dengan perempuan lain.
Tahukah dia kalau saat ini Laras begitu terluka? Pria itu bahkan tanpa perasaan bermesraan dengan istri barunya di depan mata Laras.
Dulu, berkali-kali Laras datang ke rumah keluarga Galang untuk mencari tahu keberadaan sang suami, tetapi, seluruh keluarga Galang mengatakan kalau mereka juga tidak tahu keberadaan Galang, karena pria itu juga tidak pernah mengabari mereka.
Namun, kehadiran mereka di pernikahan Galang kemarin membuktikan, kalau selama ini keluarga Galang telah membohonginya. Kalau benar, mereka tidak mengetahui keberadaan Galang, tidak mungkin mereka berkumpul menghadiri pernikahan Galang dan Nadine kemarin.
Selama ini Laras ternyata sudah dibohongi oleh keluarga Galang, dengan mengatakan kalau mereka tidak mengetahui keberadaan suaminya.
Kalau benar mereka tidak tahu tentang keberadaan Galang, pria itu pasti tidak akan pernah mengetahui tentang Ruby. Ya! Ruby, anak yang lahir dari buah cintanya dengan Galang.
"Sudah, jangan menangis. Sebentar lagi juga sembuh." Suara Nalendra membuyarkan lamunan Laras. Pria itu kembali berjongkok sambil memeriksa kaki Laras.
Nalendra menatap Laras yang menghapus air matanya.
__ADS_1
Seumur-umur, Nalendra belum pernah berada dalam posisi seperti ini. Duduk berjongkok di depan orang lain, apalagi perempuan, kecuali Nyonya Aline, sang Mommy tercinta.
Namun, kini dia justru melakukan hal itu di depan perempuan ini. Perempuan yang tak lain adalah asisten rumah tangganya yang sekarang merangkap menjadi asisten pribadinya.
"Kau duduk di sana dulu," Nalendra menunjuk ke arah sofa yang ditempati oleh Galang dan Nadine.
Laras menganggukkan kepala, matanya melirik sepasang pengantin baru itu.
"Galang, kemarilah!" perintah Nalendra pada sang adik ipar.
Galang melepaskan pelukannya pada Nadine. Pria itu bangkit dari duduknya mendekati meja kerja Nalendra. Ekor matanya melirik ke arah Laras yang beranjak dari duduknya, meninggalkan kursi kebesaran Nalendra.
Galang duduk di depan Nalendra. Pria itu menatap kakak iparnya yang saat ini sedang memperhatikan Laras. Nalendra tersenyum tipis, kemudian pandangannya beralih pada Galang.
"Kita bicara tentang perusahaan." Nalendra menatap Galang dengan tatapan serius.
Sementara Galang mengangguk paham.
Sekitar lima menit kemudian, Nadine berpamitan keluar. Masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan. Apalagi, besok dia dan suaminya akan melakukan bulan madu.
Laras memperhatikan dua orang di depannya. Netranya menatap punggung Galang, pria yang selama ini dirindukannya. Namun, bayangan pernikahan pria itu kemarin, membuat sudut hatinya kembali terasa sakit.
'Kau harus melupakannya, Laras! Pria itu tidak pantas untuk dirimu.' Laras mengepalkan tangannya. Menyemangati diri sendiri.
Jam kantor sudah berakhir, Laras dan Nalendra berjalan beriringan keluar dari kantor. Semua mata memperhatikan mereka berdua. Di antara mereka bahkan ada yang berbisik-bisik. Merasa kagum melihat ketampanan Nalendra sekaligus merasa iri melihat Laras.
Nalendra melirik ke arah Laras yang terlihat begitu pendiam. Perempuan itu bahkan terlihat melamun. Entah apa yang dipikirkannya.
Setelah dia selesai mengobati lukanya, perempuan itu tiba-tiba langsung menjadi pendiam, beruntung dia tetap fokus pada pekerjaan sebagai asisten pribadinya.
Mereka berdua kini sudah sampai di depan mobil. Nalendra dan Laras masuk ke dalam mobil. Mereka berdua duduk di bangku belakang. Sang sopir pribadi mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir.
Namun, saat mobil mereka akan meninggalkan kantor, terlihat Galang menghalangi mobil mereka. Pria itu kemudian mengetuk kaca mobil Nalendra.
"Bisakah aku ikut denganmu? Mobilku tiba-tiba mogok," ucap Galang saat Nalendra membuka pintu mobil. Galang melirik Laras yang duduk di samping Nalendra.
"Masuklah!"
"Terima kasih."
__ADS_1
Galang kemudian masuk ke dalam mobil, duduk di samping sopir.
Selama dalam perjalanan, Galang berkali-kali melirik ke arah Laras. Perempuan itu terlihat sesekali tersenyum saat sang kakak ipar mengajaknya bicara.
Galang mengepalkan tangannya. Berusaha mati-matian menahan amarahnya yang siap meledak. Pikirannya melayang pada masa lalu.
Laras adalah tetangganya saat di kampung. Perempuan cantik yang hanya berselisih dua tahun darinya itu diam-diam telah mencuri hatinya. Galang jatuh cinta pada perempuan itu, tetapi dia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Pria itu hanya menyimpannya dalam hati dan hanya melihat Laras dari jauh.
Perbedaan kasta di antara mereka membuat Galang tidak percaya diri untuk mendekati perempuan itu. Laras termasuk orang yang berada di kampungnya, sementara dia dan keluarganya hidup dalam keadaan pas-pasan.
Namun, suatu hari terjadi tragedi yang akhirnya mengharuskan Galang menikah dengan Laras. Malam itu, sepulang dari pengajian, Agus ayah Galang dan Rudi, ayah dari Laras mengalami kecelakaan. Sepeda motor yang ditumpangi Agus dan Rudi ditabrak oleh mobil yang melaju kencang ke arah mereka berdua.
Mobil itu mengalami rem blong, hingga akhirnya menabrak semua kendaraan yang dilewatinya, termasuk sepeda motor yang dikendarai oleh Ayah Galang.
Kedua ayah mereka kemudian dilarikan ke rumah sakit, tetapi karena luka mereka cukup parah, kedua lelaki paruh baya itu akhirnya meninggal dunia.
Namun, sebelum mereka berdua meninggal, Agus dan Rudi yang dirawat dalam ruangan yang sama saat itu, memberikan wasiat terakhir. Kedua lelaki yang bersahabat dari muda itu menginginkan, agar Laras dan Galang menikah.
Seminggu setelah ayah mereka meninggal, Galang akhirnya menikah dengan Laras. Pria itu tidak menyangka, kalau akhirnya dia bisa menikah dengan orang yang selama ini dicintainya secara diam-diam. Kebahagiaan Galang bertambah saat dia mengetahui, kalau ternyata Laras pun mempunyai perasaan yang sama.
Sebulan setelah pernikahan, Galang terpaksa harus meninggalkan Laras. Saat itu, Galang mendapatkan beasiswa di universitas ternama di ibukota.
Awalnya Galang tidak mau menerima beasiswa itu karena dia tidak ingin meninggalkan Laras. Selain itu, Galang juga tidak mempunyai biaya untuk hidup di ibukota. Namun, sang ibu mertua dan Laras justru antusias agar Galang menerima beasiswa itu. Galang masih muda, walaupun sudah menikah, dia harus tetap mewujudkan impiannya.
Sang ibu mertua bahkan rela menjual beberapa aset miliknya untuk biaya hidup Galang selama kuliah di sana nanti.
Berbekal restu dan sejumlah uang yang diberikan oleh sang ibu mertua, Galang akhirnya pergi ke Ibukota untuk meneruskan kuliahnya.
Beberapa bulan berlalu, Galang menghubungi Laras lewat keluarganya. Saat berangkat ke Jakarta, Laras memberikan ponselnya untuk Galang, karena itu, Galang tidak bisa menghubungi Laras secara langsung.
Namun, saat Galang menghubungi keluarganya, dia justru mendapatkan kabar yang menghancurkan hatinya. Keluarga Galang mengatakan, kalau Laras berselingkuh sampai akhirnya hamil anak orang lain.
Galang melirik ke arah Laras, perempuan cantik itu tengah tersenyum menanggapi ucapan Nalendra.
Kedua tangan Galang semakin mengepal, saat rasa sakit dan kemarahan secara bersamaan menghantam sudut hatinya yang paling dalam.
By: Nazwatalita
Jangan lupa like, koment, dan votenya ya, teman- teman ....
__ADS_1
Sambil nunggu update, kalian bisa kepoin karya temen aku di bawah ini. Di jamin keren abis!