
Galang menatap Nadine dengan rasa bersalah.
"Lalu aku harus bagaimana?" Suara Nadine meninggi.
"Sayang ...."
"Jangan panggil aku dengan kata sayang! Karena kamu sudah tidak pantas!" Nadine menatap laki-laki itu dengan penuh amarah.
Rasa sakit di hatinya karena perbuatan pria itu membuat Nadine menyimpan amarah yang begitu besar.
Perempuan polos yang biasanya penurut itu kini sudah berubah.
"Saat kau memutuskan untuk membohongiku, apa kau tidak pernah berpikir sedikitpun kalau suatu saat aku akan tersakiti karena kebohonganmu?"
"Apa kau tidak pernah berpikir sedikit saja kalau suatu saat aku akan merasa tersakiti akibat perbuatanmu?" Nadine masih berteriak marah.
Pria ini hampir setiap pagi datang ke rumahnya. Meskipun Mommy dan dirinya sudah menolak kedatangannya dan seringkali memarahinya, tetap saja Galang tidak pernah kapok dan masih saja datang ke rumahnya.
Tak tahukah dia kalau kedatangannya itu justru semakin melukai hatinya?
"Sayang ...." Galang bermaksud memegang tangan itu demi meredam kemarahan istrinya, tetapi dengan segera tangannya ditepiskan oleh Nadine.
Apa yang dikatakan oleh Nadine memang benar, dulu dia tidak pernah berpikir sampai sejauh ini. Galang tidak pernah menyangka kalau dia akan bertemu Laras setelah dia menikahi Nadine.
Galang baru tahu Laras tinggal di rumah Nadine sehari sebelum mereka berdua akhirnya menikah. Kemarahan dan kebencian Galang terhadap Laras membuat laki-laki itu justru mengancam Laras agar tidak membocorkan rahasianya.
"Sayang, Nadine ak-"
__ADS_1
"Diam! Tidak usah bermanis-manis di hadapanku, Galang!"
"Semua perlakuan baikmu tidak akan membuat hatiku luluh!" Mata itu terlihat sendu. Sorot mata yang menyimpan rasa sakit yang teramat dalam.
Galang adalah lelaki pertamanya. Lelaki yang membuat Nadine jatuh cinta. Nadine selalu menjaga hati dan kehormatannya hanya demi Galang. Akan tetapi, justru sakit hati yang dia dapat dari lelaki yang dulu sangat ia percayai!
"Lebih baik kamu pergi dari sini! Jangan sampai perutku mual karena melihat muka kamu!"
"Nadine ...." Galang menatap perempuan yang masih menjadi istrinya itu dengan tatapan tak percaya.
"Semakin sering kamu kesini, semakin aku membencimu! Sebaiknya kamu urus keluarga dan pekerjaanmu. Aku tahu, jauh sebelum kehadiranku, kamu sangat mencintai Laras, bukan? Kehadiranku saat itu hanya sekedar pelampiasan karena kamu berpikir kalau Laras sudah mengkhianatimu!" Nadine meluapkan semua amarahnya. Sekuat tenaga dia menahan agar air matanya tidak keluar.
"Sayang ...."
"Pergi dari sini dan biarkan aku sendiri, Galang! Aku benar-benar tidak ingin melihatmu lagi!"
Hati Nadine semakin hancur. Dia terus melangkah menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, dia menumpahkan tangis yang ia tahan sejak tadi.
Baru kali ini ia merasa dilema sepanjang hidupnya. Sebenarnya ia bisa saja menerima Galang kembali. Hatinya terlalu lembut.
Namun, otaknya menentang untuk itu. Bagaimanapun caranya, Galang harus menjadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab.
Bagaimana mungkin dia bisa bertanggung jawab terhadap anak yang ada di dalam kandungannya serta bisa menjadi ayah yang baik, sementara dengan anak istrinya yang terdahulu saja dia menelantarkannya dengan alasan salah paham? Bagi Nadine, alasan itu terlampau dibuat-buat dan hanya menjadi pembenaran untuk menutupi kelalaiannya sendiri.
*****
Akhirnya Galang menyerah. Dia memutuskan untuk meninggalkan rumah Nadine, melanjutkan perjalanannya menuju restoran.
__ADS_1
Setelah pisah rumah dengan Nadine, dia tidak lagi bekerja di CNI Grup. Dia hanya fokus mengurus restorannya. Itu pun pengelolaannya lebih banyak dilakukan oleh para manajer masing-masing restoran. Galang hanya menerima laporan saja.
Sesampainya di tempat yang ditujunya, Galang segera keluar dari mobil. Sesaat dia berdiri memandang restoran yang berdiri megah dihadapannya. Restoran yang ia bangun dari hasil kerja kerasnya dan juga sebagian modal dari orang tua Laras. Ah, tiba-tiba ia teringat perempuan itu.
Sidang perceraian mereka sama sekali tidak membahas masalah harta gono gini, hanya menyinggung hak asuh anak dan itu jatuh kepada Laras sebagai ibunya. Galang pun tak hendak memperpanjang masalah lagi. Dia sudah cukup mengabulkan permintaan Laras.
Sebaiknya aku harus segera menghitung sahamku di restoran. Berapa persentase sahamku yang seharusnya menjadi milik ibunya Laras, Ruby dan juga Laras sendiri. Sebelum aku datang kepada Ruby sebagai ayahnya, seharusnya aku memberikan dulu hak mereka.
Mengingat semua itu membuat hati Galang menghangat. Dia menjadi bersemangat untuk masuk ke dalam restoran. Sepagi ini, restoran masih belum buka. Hanya ada beberapa karyawan yang mempersiapkan segala sesuatunya.
Galang terus melangkah menuju ruang kerjanya di lantai atas. Bersebelahan dengan dengan ruang kerjanya adalah ruang kerja manager restoran ini, namanya Martin.
Dia memulai dengan membuka laptopnya, menyusuri data demi data. Sesekali keningnya berkerut. Galang tampak sangat serius dengan pekerjaannya hari ini.
Selama ini dia merasa sudah berbuat adil dengan mengirimkan uang kepada Laras dan keluarganya, tapi nyatanya uang itu malah dinikmati oleh keluarganya sendiri.
Sudah saatnya dia harus mengganti semua penderitaan mereka. Mungkin waktu memang tidak bisa diulang, tetapi Galang berharap semoga ini setidaknya bisa membuat mereka memaafkan kelalaian dirinya di masa lalu.
Galang asyik menganalisis data seluruh restoran. Dia mengecek semua data termasuk restoran di mana ia berada sekarang. Berbagai laporan ia pelajari. Mendadak, Galang menelan ludahnya. Tangannya tiba-tiba mengepal. Dia segera mengambil alat intercome.
"Martin, kamu ke ruangan saya sekarang!"
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya 🙏
__ADS_1