
Alex tiba di apartemen Galang setengah jam setelah menelepon bosnya itu. Galang menyambut kedatangan Alex yang terlihat cemas.
"Ada apa?"
"Aku sudah menemukan bukti bukti kenapa para investor menarik dana mereka." Alex menatap Galang dengan serius.
"Ternyata selain uang yang digelapkan oleh Martin dan Nyonya Ningsih, para investor sengaja menarik dana mereka karena campur tangan keluarga istrimu."
"Apa? Maksudmu keluarga Chandra juga dalang di balik semua ini?" Galang sangat terkejut karena tidak mengira kalau ternyata keluarga Chandra juga terlibat dalam kehancuran usaha restorannya.
"Pantas saja hampir semua investor menarik diri. Mereka pasti takut pada keluarga Chandra."
Alex mengangguk membenarkan.
"Kau sangat tahu kalau mertuamu adalah pengusaha yang sangat berpengaruh di negara ini kan?"
"Kau benar, Alex. Aku hanya kaget. Sepertinya mereka masih sangat marah sama aku. Sampai sekarang, aku bahkan tidak bisa menemui Nadine lagi."
Alex menepuk bahu Galang sambil menarik napas panjang.
"Sabar."
Galang mengangguk.
"Mungkin ini balasan dari Tuhan untukku karena aku pernah menyia-nyiakan orang sebaik Laras," ucap Galang lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Alex.
"Harusnya aku lebih percaya sama dia bukannya percaya pada keluargaku yang ternyata hanya memanfaatkanku saja." Galang menghela napas panjang.
"Apa kau tahu, Alex?" Galang menatap asisten pribadinya dengan wajah sendu.
"Aku baru tahu, kalau sosok perempuan yang selama ini selalu aku hormati dan aku sayangi ternyata dia bukanlah ibu kandungku."
"Apa? Maksudmu?"
"Ningsih ternyata bukanlah ibuku. Ternyata dia adalah perempuan yang menjadi penyebab kematian ibu yang sudah melahirkan aku."
Alex kembali terkejut mendengar ucapan Galang.
__ADS_1
"Pantas saja selama ini dia bersikap seenaknya saja tanpa memikirkan akibat yang akan kau tanggung," ucap Alex pelan.
"Kau benar. Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa dia begitu mudah menggelapkan uang restoran." Galang menunduk sambil meremas rambutnya kasar.
Setelah kepergian Laras, cobaan demi cobaan terus saja menimpanya.
"Hari ini beberapa restoran milikmu kembali tidak bisa beroperasi."
"Kenapa lagi?" Galang menatap asistennya itu dengan wajah terlihat stres berat.
"Banyak pegawai yang belum dibayar. Mereka mogok kerja."
"Ya, Tuhan ...." Galang memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
"Apa masih ada harapan walaupun itu kecil?"
"Sepertinya tidak. Kita harus mengembalikan uang beberapa investor juga membayar gaji pegawai."
"Jalan satu-satunya, kau harus menjual semua aset untuk membayar semua hutang-hutangmu!"
"Semuanya?" Galang menatap Alex tidak percaya.
Galang menghela napas lega.
"Aku benar-benar hancur kali ini, Lex. Aku tidak menyangka kalau aku akan hancur di tangan keluargaku sendiri." Galang menunduk dengan penuh penyesalan.
"Semuanya sudah terjadi. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menyelesaikan semua masalah ini. Kamu tidak mau di penjara bukan?"
"Aku lebih memilih kehilangan semuanya daripada aku harus di penjara. Bagaimanapun, aku masih harus bertanggung jawab pada Nadine."
"Kau benar. Meskipun nantinya dia tidak lagi menerima kamu sebagai suaminya, kamu harus tetap bertahan. Demi anakmu."
Galang mengangguk paham.
"Terima kasih, Alex."
"Hmm ...."
__ADS_1
***
Nadine mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. Perempuan itu berkali-kali menatap ke arah pintu gerbang dari atas balkon rumahnya.
Apa hari ini dia tidak datang lagi?
Nadine terlihat gelisah. Biasanya setiap pagi dia melihat Galang berdiri di depan pintu gerbang sambil menatapnya. Kedua orang tuanya melarang Galang untuk menemuinya.
Begitupun dirinya yang memang tidak ingin bertemu sama sekali dengan pria itu. Namun, rasa cinta dan juga hormon kehamilannya membuat perempuan itu sangat merindukan suaminya.
"Papamu nggak datang lagi hari ini, Sayang. Tidak apa-apa yah, mungkin papa kamu sibuk." Nadine kembali mengusap perutnya yang bergerak-gerak karena si jabang bayi menendang-nendang di dalam perutnya.
Nadine tersenyum tipis, air matanya mengalir, merasakan kesedihan di hatinya.
Seharusnya saat ini dia sedang bahagia bersama suami tercinta sambil menunggu kelahiran anak mereka. Namun, takdir ternyata berkata lain.
Kenapa kita harus dipertemukan bila akhirnya hanya saling menyakiti?
Perempuan itu menangis sesunggukan. Pandangannya beralih pada ponselnya yang berdering. Melihat yang menelepon adalah seseorang yang sedang dinantikannya, sebuah senyuman tipis tersungging di bibir manisnya.
Meski sakit hati, tetap saja, rasa cintanya yang begitu besar mengalahkan egonya.
"Akhirnya papamu menelepon, Sayang," lirih Nadine sambil mengusap perutnya.
Nadine mengangkut panggilan teleponnya.
"Sayang, maaf! Aku tidak bisa ke rumahmu hari ini. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Suara Galang menyapa pendengaran Nadine.
"Aku merindukanmu. Bolehkah aku melihatmu dan anak kita lewat layar ponsel? Aku benar-benar merindukanmu."
"Sayang ...."
.
.
By: Nazwatalita
__ADS_1
Maaf baru bisa update 🙏🙏
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya, teman-teman 🙏