DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 57 MEMBANTU MELEPASKAN LARAS


__ADS_3

"Ceraikan aku, Mas. Ceraikan aku! Aku sudah lelah ..." Suara Laras terdengar lirih. Kepalanya menggeleng, sementara air mata mengalir di pipinya.


Nalendra menatap Laras iba. Melihat Laras seperti itu, membuat dia semakin yakin untuk memisahkan Laras dengan Galang. Ungkapan hati paling jujur seorang manusia adalah saat mengigau di dalam tidur.


Diam-diam lelaki tampan itu mengapalkan tangannya. Sepasang matanya merah, berkilat penuh amarah. Ini sungguh tidak adil buat Laras. Nalendra kembali memindai wajah itu. Ada titik bening baru yang mengalir dari sudut matanya.


Tak tahan meyaksikan pemandangan itu, akhirnya Nalendra keluar meninggalkan kamar Laras. Dia menutup pintu dengan hati-hati, kemudian melangkah menuju kamarnya sendiri. Langkah-langkahnya mantap. Namun, pikirannya melayang pada sosok dua perempuan yang begitu dekat dengannya saat ini.


"Laras! Ya prioritas utamaku sekarang adalah Laras. Laras harus bisa lepas dari lelaki itu, bagaimanapun caranya. Urusan Nadine menyusul belakangan. Apalagi aku tidak bisa terang-terangan membenci suami brengseknya itu, karena takut berakibat kepada calon keponakanku sendiri," gumam Nalendra sembari terus berpikir.


***


Pagi hari mereka sarapan seperti biasa. Tuan Chandra, Nyonya Aline, Nalendra dan Laras, kecuali Nadine yang hanya bisa terbaring di kamarnya. Sementara Galang semalaman tak pulang. Jangankan pulang, memberi kabar saja tidak. Galang lenyap bak ditelan bumi. Tak ada yang tahu kemana perginya pria itu.


Nadine berkali-kali mencoba menghubungi suaminya, tetapi tidak bisa. Hal itu membuat nyonya Aline tampak kesal. Dia mau di momen bahagia ini, menantunya itu ada dan mendampingi kebahagiaan putrinya.


Nalendra dan Laras saling pandang menatap wajah Nyonya Aline yang cemberut.


"Sudahlah, Mom, Galang itu sudah dewasa. Nanti juga dia pulang sendiri. Mungkin dia memiliki sesuatu hal yang penting sehingga dia tidak pulang," hibur Nalendra.

__ADS_1


"Iya, tetapi seharusnya dia hadir, setidak-tidaknya bisa dihubungi! Masa iya istrinya hamil terus dia menghilang gitu aja." Berbagai pikiran buruk berseliweran di otak perempuan setengah baya yang masih tampak cantik itu.


"Tidak mungkin dia berani macam-macam, Mom. Ale berani jamin, dia pasti pulang kok." Senyum Nalendra merekah, menenangkan sang ibunda.


Sementara Laras hanya menunduk. Nalendra meraih tangan Laras yang terjuntai di balik meja. Dia menggenggam tangan itu, berusaha menguatkan.


Sebelah tangannya lagi memegang potongan roti yang tinggal separuh. Nalendra berusaha menghabiskan sarapannya secepat mungkin demi melepaskan dirinya dan Laras dari situasi yang tak mengenakkan itu.


"Aku dan Laras berangkat kerja dulu ya, Ma. Mama jangan ke mana-mana. Jaga Nadine. Soal butik, nanti aku akan telepon Karina. Biar Karina yang menghandle butik seperti biasanya,' titah laki-laki itu.


Nyonya Aline mengangguk. "Baiklah, hati-hati di jalan, Nak."


"Oke, Mom." Nalendra melepaskan genggamannya dari tangan Laras, berdiri dan maju selangkah mendekati sang mommy, lantas mengecup kening wanita itu.


Nalendra dan Laras bisa meninggalkan ruang makan, berjalan lurus menuju ruang tamu dan akhirnya berhenti di teras.


"Laras," panggil Nalendra saat matanya memindai sebuah mobil yang baru saja masuk ke halaman rumah.


Laras merapatkan tubuhnya di sisi Nalendra. Mereka sama-sama menatap ke depan. Sebuah mobil yang sangat dikenalnya dan seorang laki-laki tampak turun di mobil dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Mas Galang!" Nyaris saja Laras memekik dan menghambur menyambut kedatangan laki-laki itu, andai tangan kokoh lelaki di sampingnya, tidak memegang erat tangannya.


"Diamlah di sini. Jangan pernah menyambut kedatangannya. Dia sudah bukan lagi suamimu!" bisik Nalendra.


Pernyataan Nalendra membuat Laras tertegun dengan berbagai pikiran yang melintas dibenaknya.


"Tapi wajahnya sangat pucat!" Laras balas berbisik.


"Mungkin dia sakit," ucap Nalendra. "Tapi kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Buktinya orangnya masih bisa jalan."


Nalendra mengamati Galang yang tetap melangkah meski wajahnya terlihat pucat.


"Sebaiknya kita ke mobil sekarang," ajaknya pada Laras setelah memutus kontak mata dengan Galang. Laras menurut. Dia bergegas mengiringi langkah-langkah bosnya yang tampak sedikit memaksa dengan terus menarik tangannya.


Beberapa menit kemudian mobil meluncur meninggalkan halaman rumah besar itu, mulai berlomba dengan ribuan kendaraan lain di jalan yang sama menembus kemacetan lalu lintas ibukota.


.


By: Jannah Zein

__ADS_1


Jangan lupa favorit, like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏


Biar semangat Authornya


__ADS_2