DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 115 MENAHAN HASRAT


__ADS_3

"Ale ...." bisiknya. Laras memejamkan mata, menikmati deburan ombak yang membuat tubuhnya kian menghangat.


Sentuhan kekasihnya membuat pikirannya lumpuh. Dia tidak lagi bisa berpikir dengan benar. Laras tahu, ini salah, tapi dia sungguh tidak mampu menolaknya. Entah karena ia terlalu mendamba atau memang hidupnya selama ini kesepian, merindukan kasih sayang pasangannya.


Nalendra pun tak kalah kalut. Naluri kelakiannya berontak, menginginkan lebih dari sekedar ini. Selama hidup di luar negeri, tidur bersama tanpa ikatan sudah biasa ia lakukan dengan partner ranjangnya.


Akan tetapi, setelah ia mengenal Laras, Nalendra tidak pernah melakukan itu lagi. Dia tidak lagi berselera dengan perempuan lain selain Laras. Menyentuh Laras adalah hal yang paling dia inginkan saat dia merasakan debaran jantungnya menyatu menjadi bait-bait cinta.


Tubuh Laras sudah seperti candunya. Namun, saat tangannya bermaksud membuka kancing-kancing baju yang dikenakan perempuan itu, otaknya seketika menyalakan alarm. Ya, Laras adalah kekasihnya, bukan partner ranjangnya. Kekasih yang ingin segera dia nikahi, yang akan menjadi Ibu dari anak-anaknya, kelak.


Ah! Tidak mungkin dia melakukan itu sebelum waktunya. Dia tak mau merusak kekasihnya, sekalipun perempuan yang berada di bawahnya itu sudah terlihat pasrah.


Nalendra mengurungkan niatnya. Dia mengecup kening wanita itu dengan lembut. Rasanya ingin sekali dia membawa kekasihnya menghirup manisnya madu cinta, menikmati indahnya surga dunia, tetapi apalah dayanya.


Nalendra bangkit dari tubuh Laras, kemudian bergegas menuju kamar mandi. Dia terpaksa harus menjinakkan gairah yang menyelimuti tubuhnya sendirian.


Laras tersentak kaget. Sontak ia bangkit dari pembaringan, lantas merapikan rambutnya yang acak-acakan. Demikian juga penampilannya. Sementara itu di dalam kamar mandi, terdengar suara Nalendra yang lirih seperti mengerang.


Sebagai wanita dewasa, Laras memahami itu. Dia hanya sanggup menggelengkan kepala, menarik napas kemudian menghembuskannya kuat-kuat, berusaha menetralisir sisa hasrat yang masih berpendar di tubuhnya.


Setengah jam kemudian, akhirnya lelaki bertubuh tinggi besar itu keluar dari kamar mandi. Penampilannya terlihat lebih segar dengan jubah mandi yang melekat di tubuhnya. Laras kembali menggelengkan kepala.


"Maaf," ucap Laras.


Nalendra tertawa kecil lantas mengusap kepala kekasihnya dengan penuh kasih sayang. "Bukan salahmu, tapi salahku. Aku yang memintamu untuk tidur bersama. Hasilnya, beginilah!"

__ADS_1


"Makanya, jangan coba-coba membangunkan macan tidur," gurau Laras.


"Tadi aku terlalu kalut dengan kemarahan mommy. Aku begitu takut kehilanganmu. Ya sudahlah! Bisa tolong ambilkan pakaianku, Sayang? Aku ingin kamu memilihkan pakaian untukku," pintanya.


Laras tersenyum. "Akan kulakukan dengan senang hati," ujarnya melangkah menuju lemari.


Saat ia membuka pintu lemari, perempuan itu terpaku menatap koleksi pakaian yang tersusun rapi. Laras mulai memilih-milih, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil celana sepanjang lutut dengan atasan kaos lengan pendek.


Perempuan itu segera memberikannya kepada sang kekasih. Nalendra menerimanya lantas bergerak kembali menuju kamar mandi.


***


Setelah makan siang bersama di apartemen, Nalendra mengantar Laras pulang. Lelaki itu terlihat tenang mengemudikan mobilnya, sesekali Laras melirik menyusuri raut wajah sang kekasih dari samping.


"Ah, mengapa kamu terlihat semakin tampan di mataku, Ale?" gumam Laras dalam hati.


"Aku ...." Laras menggantung ucapannya.


"Akuilah! Tidak usah malu-malu," ucap Nalendra narsis. "Aku tidak akan marah kok."


"Idih, pede sekali Anda, Tuan." Laras berdecak sebal.


"Makanya, menikahlah denganku, Sayang, biar bisa menikmati ketampananku setiap hari. Emangnya kamu mau selamanya khilaf terus?"


Laras mencubit lengan besar itu keras-keras. Lelaki itu pura-pura mengaduh walaupun sebenarnya cubitan Laras tidak terlalu terasa sakit buatnya. Dia malah membalas dengan mencubit hidung bangir milik kekasihnya.

__ADS_1


"Ale ...!" rengeknya manja.


Nalendra kembali menginjak pedal gas. Mereka melanjutkan perjalanan tanpa sepatah kata pun.


.


By: Jannah Zein


Jangan lupa like, komen,. hadiah, dan votenya, ya, 🙏


Baca juga karya temen Author yang satu ini yuk! Dijamin keren deh ceritanya.


HATIKU PADAMU, KAK


karya Alviesha


"Tidak, aku yang mencintaimu ... Aku sangat mencintaimu ... Maaf kalau aku tidak pernah membalas suratmu, maaf kalo aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Tapi aku sungguh-sungguh menyanyangimu." ujar Uwais penuh penekanan, dan penuh kepastian.


"Selalu seperti ini, kakak mengungkapkan perasaan sayang ke aku, karena aku yang tanya, atau aku yang nuntut ... Kakak gak pernah punya inisiatif sendiri!"


"Ya Alloh, maaf, kalo itu membuat kamu jadi seperti ini," kata Uwais yang akhirnya mulai mengerti apa yang dirasakan oleh Arrida selama ini.


"Tapi aku sungguh-sungguh sayang sama kamu, Ar, kamu masa depanku, kamu tujuan hidupku, kamu tau itu kan?"


(Hatiku Padamu Kak, ketika Arrida selalu merasa hanya dia yang mencinta)

__ADS_1



Jangan lupa like dan favorit juga ya teman-teman 🙏


__ADS_2