
Nadine sebenarnya ingin ke dapur mengambil air minum, karena merasakan tenggorokannya yang kering.
Namun, saat dia bermaksud menuruni tangga, terdengar suara perdebatan antara Nalendra dan ibunya. Tak sabar, perempuan itu akhirnya melangkah perlahan mendekati Nalendra dan sang mommy.
"Jadi ini yang kalian sembunyikan dariku?" Perempuan itu tersenyum tawar. Dia menatap kedua orang tua itu dengan lembut.
"Nadine, kamu di sini, Nak?" tanya Nyonya Aline, tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya. Perempuan itu balas menatap putrinya.
"Tak seharusnya Mommy menjaga perasaanku, tapi mengabaikan perasaan anak Mommy yang lain!"
"Sayang, dengar ya. Mommy hanya tidak ingin melihat kamu bersedih. Ale itu laki-laki. Dia bisa mengatasi kesedihannya sendiri, beda dengan kamu. Kamu adalah wanita yang rapuh dan Mommy tahu itu." Nyonya Aline bangkit dari tempat duduk, melangkah mendekat dan menepuk bahu putrinya.
"Aku baik-baik saja, Mom." Nadine mengelus perutnya. "Ale benar. Tidak seharusnya masalah hubungan Ale dan Laras di sangkut pautkan denganku, meskipun Laras itu adalah mantan istrinya Galang."
"Bukan seperti itu, Nadine." Perasaan Nalendra menjadi tak enak. "Aku hanya ingin meminta pengertian Mommy agar dia merestui rencana pernikahanku dengan Laras."
Nyonya Aline membimbing putrinya duduk di sofa.
"Aku lebih peduli dengan kebahagiaanmu, Ale. Kita ini saudara dan selalu berbagi bahkan sejak dalam kandungan."
"Kebahagianmu adalah kebahagiaanku dan deritamu menjadi deritaku. Aku sudah tidak bisa meraih kebahagiaan di dalam rumah tanggaku. Setidaknya kamu bisa berbahagia dengan wanita pilihanmu. Itu sudah lebih dari cukup buatku," ucap Nadine. Bibirnya bergetar.
"Masalahnya, wanita itu adalah Laras, Nadine!" potong mommynya.
"Kalau kebahagiaan Ale ada pada Laras, kita bisa apa, Mom?" Nadine menatap sendu sang mommy.
"Sayang, kalau melihat Laras, kamu pasti akan selalu teringat pada Galang."
"Galang itu selalu ada di sini, Mom." Nadine menyentuh dada dan perutnya.
"Kamu masih mencintai laki-laki itu?" tanya Nyonya Aline bernada kecewa.
__ADS_1
"Galang itu cinta pertama dan lelaki pertamaku, Mom. Namun, sejatinya kisah kami sudah berakhir sejak kebohongannya terbongkar. Aku tidak akan kembali lagi padanya."
"Sayang ...." Air mata wanita setengah tua itu luruh. Dia memeluk putrinya dengan perasaan sedih.
"Bukankah di dalam hidup ini kita harus memilih? Kita tidak bisa merangkum semuanya karena di setiap pilihan, pasti ada yang harus kita korbankan." Nadine menarik napas saat dia merasakan perutnya mulai terasa sakit.
"Aku berjanji akan merawat anak ini sebaik-baiknya, walaupun aku tidak bisa lagi bersama dengan ayahnya."
"Di saat kecil, mungkin dia akan bertanya, siapa ayahnya? Namun, percayalah! Jika kelak sudah dewasa, dia akan mengerti dengan pilihan yang sudah diambil oleh ibunya." Nadine mengusap perutnya yang terasa mengencang dan terasa sakit.
"Seorang anak memang lebih baik tumbuh dan dibesarkan di tengah keluarga yang utuh. Ada ayah dan ibunya. Akan tetapi, jika harus bertahan di tengah rumah tangga yang penuh kebohongan, itu sama saja dengan memasukkan racun ke dalam diri kita sendiri," tutur Nadine panjang lebar.
Perempuan itu kembali menarik napas, memejamkan matanya sejenak demi meredakan rasa sakit di perutnya yang kian menjadi-jadi. Nadine mengambil tangan Nalendra dan menempatkannya di perutnya.
Nalendra merasakan tendangan kecil di dalam perut besar saudari kembarnya itu. Hatinya mencelos.
"Kita ini adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kita tumbuh di rahim dan waktu yang sama. Jika aku adalah mommy anak ini, maka kamu adalah daddynya. Benar kan, Ale?"
"Iya, sayang. Aku pasti akan menganggapnya sebagai anakku. Anak ini tidak perlu ayahnya, karena aku akan menjaga dan merawatnya seperti anakku juga."
"Ale ...."
"Nadine, kau-"
"Sa-sakit."
"Mom!"
"Nalendra cepat angkat adikmu, sepertinya dia mau melahirkan!" teriak Nyonya Aline saat melihat cairan bening yang mengalir di kaki mulus putrinya.
"Ya, Tuhan ... Nadine!"
__ADS_1
Nyonya Aline bergegas ke depan, berteriak memanggil sopir pribadinya.
Nalendra langsung mengangkat tubuh adiknya. Pria itu bergegas keluar menuju mobilnya. Wajahnya terlihat sangat panik.
"Bertahanlah, Nadine, kamu pasti kuat!"
"Sa-sakit, Ale ...."
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya, teman-teman 🙏
Baca juga karya teman Author yang satu ini yuk!
Author : Santi Suki
Judul : Ayu sang Penakluk
Ayu gadis belia yang suka rebahan dan menonton anime sambil ngemil. Kurangnya gerak membuat tubuh Ayu menjadi gendut. Karena tubuhnya yang besar dia dijuluki "Baby Hui". Saat menghadiri pesta ulang tahun Aries–orang yang disukainya, Ayu dipermalukan di sana, sehingga berjanji akan membalas dendam kepada semua orang yang suka membully dan menghinanya.
Dengan bantuan dan dukungan dari Aprilio, hanya dalam waktu dua Minggu berat badan Ayu turun dari 80kg menjadi 45kg. Penampilan Ayu pun berubah menjadi cantik, langsing dan singset. Membuatnya menjadi incaran para kaum Adam.
Leo salah satu Pangeran Kampus menjadi panik karena kini banyak laki-laki yang suka kepada Ayu. Maka dia pun berbagai cara untuk mendapatkan cinta Ayu.
Setelah berhasil membalas kepada orang yang sudah membully dan menghinanya dahulu, kini Ayu memutuskan untuk mencari cinta sejatinya. Dia dilema harus memilih antara Aries si cinta pertamanya, Leo si Pengagum Rahasia, atau Aprilio yang selalu bersamanya sejak kecil di saat suka maupun duka.
Pilihan Ayu ternyata membuatnya harus banyak melakukan perjuangan dan pengorbanan. Siapakah yang dipilih oleh Ayu?
__ADS_1