DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 7 ASISTEN PRIBADI


__ADS_3

"Kau, pergi ganti pakaian! Lalu ikut aku ke kantor untuk menjadi asistenku!" perintah Nalendra menunjuk Laras.


"Aku?!" seru Laras sambil menunjuk ke arah dirinya. Saking terkejut perempuan itu sampai tidak menyadari kalau semua orang kini sedang memperhatikannya.


"Ma-maksud, Tuan, saya jadi asisten pribadi, Tuan Muda?"


Nalendra mengangguk, sambil memperhatikan wajah Laras yang terlihat terkejut sekaligus gugup. Pria itu sangat yakin kalau Laras pasti tidak akan menolaknya. Lagipula, siapa yang bisa menolak pria sesempurna dirinya?


Laras mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu wajah majikannya, kemudian netranya kembali menatap ke arah pria gila di depannya.


Pria gila! Julukan itu memang cocok buat dia. Apa dia sudah tidak waras? Menjadikan asisten rumah tangga sepertiku menjadi asisten pribadinya di perusahaan?


"Kenapa kamu malah diam? Cepat ganti bajumu, dan ikut aku ke kantor sekarang!" seru Nalendra dengan kesal. Perempuan ini benar-benar menguji kesabarannya.


"Ma-maaf, Tuan! Saya tidak bisa menerima pekerjaan itu." Laras merutuki mulutnya yang tiba-tiba menjadi gugup saat bicara dengan pria itu. Sorot matanya tajam, seolah langsung menembus ke jantungnya.


"Kau menolak perintahku?!" Nalendra menatap wajah Laras dengan tatapan tak percaya.


Berani-beraninya dia menolakku!


Selama ini, tidak ada satu perempuan pun yang pernah menolaknya. Mereka semua selalu mengejar dan memujanya. Perempuan-perempuan itu bahkan rela antre hanya demi mendapatkan giliran untuk naik ke ranjangnya.


"Sialan!"


Nalendra memaki dalam hati, menyembunyikan kemarahannya, karena merasa terhina dengan penolakan perempuan di depannya itu.


Nalendra tersenyum sinis. Perempuan ini bahkan tanpa ragu-ragu langsung menolak keinginannya.


'Perempuan bodoh!'


Nalendra masih menatap Laras dengan kesal. Sementara Galang yang duduk di sebelah Nadine, tersenyum tipis saat mendengar penolakan Laras.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud menolak keinginan, Tuan Muda. Saya tidak bisa menerima pekerjaan itu, karena saya merasa tidak mampu, Tuan." Laras menundukkan kepalanya. Demi apapun! Rasanya dia ingin sekali mencolok kedua mata pria di depannya ini. Tatapan pria gila itu membuat nyali Laras sedikit menciut.


"Cepat ganti bajumu, ikut aku ke kantor sekarang juga!"


"Ta-tapi ,Tuan. Saya benar-benar tidak mengerti, saya takut nan-"


"Cepat ganti bajumu sekarang juga!" Nalendra benar-benar marah sekarang.


Tuan Naufal dan Nyonya Aline menatap Nalendra. Mereka berdua kemudian saling berpandangan. Nyonya Aline menyembunyikan senyumnya, begitupun Tuan Naufal.

__ADS_1


Pantas saja, Nalendra seperti orang kebakaran jenggot, karena baru kali ini, ada orang yang begitu berani menolak keinginan putra kesayangannya itu.


Nadine tersenyum tipis menatap Nalendra. Netranya menatap Laras, pembantu rumah tangga yang baru bekerja dua minggu di rumahnya. Sedangkan Galang, mati-matian menyembunyikan kemarahannya.


Melihat Nalendra yang bersikeras memaksa Laras untuk menjadi asisten pribadinya, membuat api cemburu di hati Galang makin membara.


Apa sebenarnya maksud Nalendra? Kenapa dia ingin sekali menjadikan Laras sebagai asisten pribadinya? Sedangkan Nalendra tahu kalau Laras hanyalah seorang pembantu di rumah ini.


"Cepat! Atau kamu ingin aku memecatmu sekarang juga?"


"Apa maksud, Tuan?"


"Kalau kamu tidak mau mau menjadi asisten pribadiku, aku akan mengusirmu dari rumah ini!"


"Kamu aku pecat!"


"Hah?!" Laras membuka mulutnya. Merasa tak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Tuan Mudanya.


******


Laras berjalan tergesa mengikuti Nalendra. Perempuan itu terpaksa menerima keinginan dari Tuan Muda Nalendra untuk menjadi asisten pribadinya. Kalau saja pria itu tidak mengancamnya, Laras pasti tidak mau menerima pekerjaan ini.


Perempuan itu sudah menjelaskan pada Nalendra kalau dia tidak bisa bekerja di kantoran. Laras hanya lulusan SMA di kampungnya. Namun, pria gila itu tidak mau mendengarkan. Nalendra tidak mau menerima alasan apapun. Pria itu tetap bersikeras meminta Laras untuk menjadi asisten pribadinya.


"Kenapa kau lambat sekali? Langkahmu bahkan lebih lambat dari seekor siput!"


"Apa kamu bilang?" Laras menghentikan langkahnya. Perempuan itu menatap Nalendra dengan kesal.


"Apa kamu tahu kenapa langkahku lebih lambat dari siput?" geram Laras. Rasanya perempuan itu ingin sekali mencabik-cabik pria itu dengan kuku-kukunya yang tajam.


"Ini gara-gara sepatu sialan yang kau beli tadi, Tuan Muda!" Hampir saja mulutnya keceplosan menyebutnya pria gila.


Laras menatap kakinya yang berbalut high heels cantik berwarna hitam. Sepatu mahal yang baru saja dibelikan oleh Tuan Mudanya.


Sesaat sebelum mereka berdua pergi ke perusahaan, pria itu memaksanya untuk pergi ke toko baju dan sepatu.


Menurut Nalendra, baju yang Laras pakai tidak cocok untuk seorang asisten pribadi. Terlalu kampungan!


Oleh karena itu, Nalendra terpaksa menemani perempuan itu membeli baju dan sepasang sepatu. Nalendra juga mengajaknya ke salon kecantikan agar Laras terlihat lebih cantik.


Perempuan itu tidak boleh terlihat jelek, karena itu Nalendra sengaja mendandani Laras sesuai dengan keinginannya. Pria itu sampai menelan saliva saat pertama kali dia melihat Laras terlihat begitu cantik dengan setelan baju kantor yang membalut tubuhnya.

__ADS_1


Wajah cantiknya yang jarang terekspos terlihat semakin cantik dengan riasan tipis yang menghias seluruh wajahnya. Nalendra bahkan sempat terhipnotis selama beberapa detik. Sebelum akhirnya dia sadar, ketika perempuan itu mengatainya dengan sebutan pria gila.


Nalendra yang kesal akhirnya mengancam akan memecatnya jika perempuan itu sampai mengucapkan kata-kata itu lagi.


"Kamu ini perempuan. Kenapa memakai sepatu saja tidak bisa? Dasar bodoh!"


Laras mengepalkan tangannya. Menatap penuh kemarahan pada pria gila yang sialnya begitu tampan tanpa cela. Bahkan sang suami, Galang Pratama yang dulu menurutnya sangat tampan kalah jauh dibandingkan pria gila ini.


Memang dia akui, Tuan Mudanya ini sangat mempesona. Sepanjang perjalanan, semua perempuan yang melihatnya menatap pria itu dengan tatapan memuja.


"Tuan Muda yang terhormat, apa Anda lupa, aku ini hanya seorang pelayan di rumahmu? Mana pernah aku memakai sepatu seperti ini?"


"Tetap saja kamu ini perempuan. Seharusnya kamu bisa memakai sepatu seperti itu!" jawab Nalendra tidak mau kalah.


Pria itu akhirnya terpaksa berjalan dengan lambat, agar asisten barunya itu tidak tertinggal di belakangnya. Perempuan itu tampak kesusahan saat berjalan. Sepertinya sepatu itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.


Mereka berdua sampai di ruangan Nalendra. Laras duduk di atas sofa di dalam ruangan itu. Perempuan itu kemudian membuka sepatunya. Pergelangan kakinya terasa sakit. Kedua tumitnya memerah, bahkan lecet-lecet.


Pantas saja kakinya terasa sakit dan perih saat berjalan tadi.


Nalendra memperhatikan Laras yang mencopot kedua sepatunya, kemudian mengusap-usap kedua kakinya. Wajah perempuan itu terlihat meringis kesakitan.


Nalendra tersenyum jahat. Wajah pria itu tampak puas saat melihat perempuan itu terlihat kesakitan.


'Ini belum seberapa, perempuan bodoh!'


"Apa perlu aku memanggil dokter untuk mengobati lukamu itu?"


Suara menyebalkan dari pria gila yang kini berstatus sebagai bosnya itu menyapu indera pendengarannya.


Laras menatap pria itu dengan aura permusuhan.


'Kenapa aku harus bertemu dengan pria gila dan menyebalkan seperti dia?'


By: Nazwatalita


.


Jangan lupa like, koment, dan votenya ya 🙏🙏


Sambil menunggu up, kalian bisa kepoin karya punya temen aku yang keren banget ....

__ADS_1



__ADS_2