
Rusdi berteriak dan terus memberontak saat beberapa orang memegangi tubuhnya. Mulutnya tidak berhenti memaki Laras dan Nalendra. Pria berusia hampir setengah abad itu meronta saat anak buah Nalendra menggelandangnya keluar dari rumah Laras menuju mobil yang terparkir di halaman rumah Laras.
"Sialan, kau Laras!" Rusdi terus memaki perempuan itu.
"Perempuan brengsek! Aku pastikan, kau akan menyesal telah melakukan ini padaku!"
Seseorang menampar wajah Rusdi. "Tidak tahu diri! Sudah salah tetapi masih menyalahkan orang lain!" Seorang lelaki yang masih termasuk kerabat Laras berteriak kemudian kembali memukul Rusdi. Laki-laki itu begitu geram saat mendengar apa yang sudah dilakukan Rusdi.
Di depan rumah Laras, semua warga yang awalnya dibayar oleh Rusdi untuk menggerebek Laras, kini mereka berbalik menyerang Rusdi. Mereka berteriak dan menyumpahi pria itu.
Selama ini, mereka memang membenci Rusdi karena perangai Rusdi yang selalu semena-mena terhadap warga. Saat Rusdi masih tinggal di kampung itu, lelaki itu selalu menindas warga yang berani melawannya.
Setelah Rusdi tiba-tiba kaya mendadak, lelaki itu pindah ke kota. Namun, setelah pindah ke kota, perbuatan Rusdi ternyata masih berlanjut. Dia menyuruh anak buahnya untuk menekan warga, agar warga di sana menjual harga panennya pada Rusdi. Awalnya warga menolak, karena Rusdi memberikan harga yang tidak sesuai pada hasil panen mereka, tetapi ancaman anak buahnya membuat mereka takut, hingga akhirnya mereka pun menurut.
"Lepaskan aku, brengsek!" Rusdi masih berteriak sambil terus meronta. Namun, cekalan tangan pria kekar suruhan Nalendra justru semakin kuat.
"Bawa dia ke kantor polisi!"
"Orang jahat seperti dia, memang pantas masuk penjara!"
__ADS_1
Beberapa orang warga berteriak. Di antara mereka bahkan ada yang maju dan langsung memukul Rusdi. Mereka itu adalah orang-orang yang merasa sakit hati pada Rusdi.
Sementara anak buah Nalendra seolah mengulur waktu. Mereka membiarkan beberapa warga menumpahkan emosinya pada Rusdi. Setelah melihat lelaki itu tak berdaya akibat pukulan warga, anak buah Nalendra kemudian membawa Rusdi masuk ke dalam mobil, menuju ke kantor polisi.
Bu Marni menarik napas panjang. Perempuan tua itu memeluk Annisa, putri keduanya.
Annisa membawa ibunya masuk ke dalam rumah. Merasa khawatir dengan kesehatan perempuan yang melahirkannya itu. Beruntung, penyakit ibunya tidak kambuh karena kejadian hari ini.
"Ibu istirahat dulu." Annisa mengusap bahu ibunya. Perempuan tua itu menatap sang putri dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Ibu tidak menyangka, kalau setelah sampai di Jakarta pun kakakmu sangat menderita. Kenapa kamu tidak pernah menceritakan semuanya pada Ibu, Nak." Bu Marni mengusap rambut putri keduanya itu.
Selama ini, Laras memang melarangnya untuk mengatakan pada sang ibu, kalau Laras bertemu Galang dan tinggal satu rumah bersama pria itu. Namun, dengan status yang berbeda.
Awalnya Annisa sangat antusias dan penasaran mendengar sang kakak kembali bertemu dengan suami yang selama ini dirindukannya. Namun, Annisa langsung menangis saat mendengar kalau ternyata sang kakak ipar menikah lagi dengan majikan kakak perempuannya.
Setiap hari Annisa tidak bisa menahan kesedihannya setiap mendengar curahan hati Laras. Hampir setiap hari, kakak tercintanya itu menelepon menceritakan semua permasalahannya di rumah itu. Termasuk masalah yang dihadapinya dengan Galang.
Namun, demi keinginan Laras, Annisa merahasiakan semuanya pada sang ibu tercinta.
__ADS_1
"Mbak Laras khawatir dengan kesehatan Ibu, makanya dia tidak mau menceritakan tentang semua masalahnya pada Ibu." Annisa memeluk Bu Marni. Perempuan tua itu menangis, mengingat betapa menderitanya Laras selama ini.
'Selama lima tahun penantianmu di kampung, kamu sudah sangat menderita. Giliran kamu pergi dari kampung, kamu justru bertemu dengan dia yang kembali membuatmu sangat menderita.'
Perempuan tua itu terisak dalam pelukan Annisa. Merasa sedih, membayangkan betapa menderitanya sang putri selama ini.
"Pak, seharusnya kamu tidak menjodohkan Laras dengan Galang. Pria itu tidak sebaik sahabatmu yang rela mengorbankan nyawa demi dirimu, hingga akhirnya kalian bersama-sama pergi menuju keabadian."
"Ternyata Kak Galang tidak sebaik ayahnya ya, Bu. Seharusnya, Bapak dulu tidak menjodohkan mereka berdua sebelum beliau berpulang ...."
Annisa mengeratkan pelukannya pada sang ibu, mereka berdua menangis. Menangisi nasib Laras, perempuan yang selama ini berjuang demi mereka.
By: Nazwatalita
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya, ya, biar Authornya tambah semangat 🙏
Mampir juga ke karya temen author yang satu ini yuk!
__ADS_1