
Galang menarik napas panjang. Pria itu kini sedang terbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Ingatannya kembali pada saat pertemuannya dengan Laras beberapa waktu yang lalu sebelum mereka resmi bercerai.
"Aku ingin bertemu denganmu." Galang menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Aku akan datang ke persidangan kalau kau menolak bertemu denganku," ancam pria itu saat mendengar jawaban yang tidak diinginkannya dari seberang telepon.
"Aku ada di tempat biasa kita bertemu dulu."
"Kamu pulang?" Terdengar nada suara terkejut di seberang sana.
"Aku tunggu kau di sana secepatnya." Galang mengakhiri pembicaraannya. Tak peduli dengan orang di seberang sana yang masih terkejut mendengar kepulangannya.
Setelah semuanya sudah terlambat kenapa aku justru kembali ke sini? Kenapa tidak dari dulu aku datang ke sini dan memperbaiki semuanya?
***
Laras menatap tak percaya melihat seseorang yang saat ini berada di depannya.
Pria tampan, dengan postur tubuh tinggi dan tubuh atletis, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona dengan penampilannya.
Galang Pratama, lelaki pertama yang membuatnya jatuh cinta.
"Kamu sudah datang?" Suara lembut pria itu menyadarkan lamunan Laras.
"Mas Galang-" Ucapan Laras terhenti saat tiba-tiba pria itu mendekat dan langsung memeluknya. Laras ingin memberontak, tetapi saat melihat bahu pria itu bergetar, perempuan itu mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan. Galang menangis, tanpa sadar, Laras pun meneteskan air matanya.
Kenangan indah bersama pria itu di tempat ini terlintas di kepalanya. Laras tanpa sadar membalas pelukan pria itu.
"Untuk sejenak, kita lupakan masalah kita. Aku ingin kita mengenang kembali masa lalu kita di sini." Suara Galang terdengar serak karena tangisnya. Pria itu memohon di telinga Laras.
"Izinkan aku melepaskan semua beban di hatiku selama ini sebelum aku benar-benar melepaskanmu, Laras. Aku ingin melepaskan semua rasa sesak di hatiku, aku ingin ...."
Dalam hati Galang, tidak pernah ada terlintas sedikitpun untuk meninggalkan perempuan ini. Saat itu, dia justru bekerja keras agar suatu saat dia bisa membahagiakan Laras dan membalas budi semua kebaikan Laras dan keluarganya.
Namun, di saat rasa cintanya begitu besar, tiba-tiba sang ibu tercinta memberikan kabar tentang perselingkuhan Laras.
Awalnya dia tidak percaya, tetapi saat paman dan bibinya juga ikut membenarkan dengan membawa beberapa bukti yang membenarkan kabar itu, akhirnya kepercayaan Galang pada Laras pun terkikis karena cemburu dan kekecewaan yang sangat dalam di hatinya.
Apalagi, saat itu dia tidak bisa menghubungi Laras. Setiap kali dia menghubungi sang ibu untuk memberikan ponselnya pada Laras saat dia menelepon, Ningsih selalu mengatakan kalau perempuan yang dicintainya itu tidak ingin berbicara dengannya.
Sebenarnya, Galang sudah pernah mengirimkan uang pada Ningsih untuk Laras, agar istri tercintanya itu bisa membeli ponsel. Namun, sang ibu mengatakan kalau Laras tidak menggunakan uang itu untuk membeli ponsel, melainkan untuk berfoya-foya dengan kekasih gelapnya.
Mendengar itu, Galang semakin dibakar api cemburu. Saat itu, Galang ingin sekali pulang, tetapi dia tidak bisa meninggalkan kuliahnya juga pekerjaannya di Jakarta. Galang tidak bisa pulang karena saat itu dia sedang merintis usaha dari nol dengan menggunakan sisa uang yang diberikan oleh ibunya Laras.
Kini, setelah beberapa tahun berlalu, pria itu baru mengetahui, kalau apa yang dikatakan oleh ibu dan pamannya ternyata adalah sebuah kebohongan besar dan fitnah yang sangat keji untuk sang istri.
"Maafkan aku yang terlalu bodoh dan tidak mempercayaimu. Seandainya dulu aku percaya padamu, saat ini pasti kita sudah hidup bahagia." Galang mengusap rambut Laras yang kini duduk membelakanginya. Pria itu kemudian memeluk Laras dari belakang. Kebiasaannya saat dia masih bersama Laras dulu.
Laras tampak tak menolak dengan perlakuan Galang. Perempuan itu justru merebahkan kepalanya di dada bidang milik Galang saat pria itu mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
Seperti Galang, dirinya pun ingin mengenang masa lalu. Melepaskan beban dan rasa sakit di hatinya.
Mereka berdua adalah korban. Korban keegoisan keluarga Galang.
"Terima kasih karena sudah melahirkan anak kita dan merawatnya dengan baik. Maafkan aku karena selama ini aku begitu egois dan tidak mempercayaimu." Laras menatap pria yang kini menangis di depannya. Perempuan itu pun tidak bisa menahan tangisnya.
"Aku mencintaimu. Maafkan aku karena aku sudah melukaimu begitu dalam. Seandainya aku tidak bodoh, kita pasti sudah bahagia saat ini."
"Tapi saat ini kamu juga mencintai perempuan lain, Mas ...."
"Karena aku bodoh dan tidak mempercayaimu, sehingga aku membiarkan hati ini berlabuh di tempat yang lain. Maafkan aku." Galang tidak melepaskan pelukannya. Rasa bersalah, marah dan penyesalan bersatu menjadi satu.
"Mungkin, Tuhan memang tidak menakdirkan kita untuk bersama. Makanya kita tidak bisa bersatu ...." Ucapan Laras menikam hati Galang dan juga hati Laras sendiri. Perempuan itu merapatkan tubuhnya pada Galang, sementara Galang semakin mempererat pelukannya.
Dua hati yang awalnya saling mencintai, tetapi mereka terpaksa harus terpisah hanya karena keegoisan keluarga Galang.
.
.
By: Nazwatalita
Author sampai mewek bikin part ini. Kasihan Galang, ya ....
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya yuk! Biar makin semangat Authornya.
__ADS_1
Mampir juga di karya temen aku yuk!