DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 31 REKENING PALSU


__ADS_3

Galang menatap mamanya dengan raut wajah terkejut. Sementara, Ningsih menutup mulutnya.


'Aduh! Kenapa aku malah keceplosan di depan Galang? Kalau dia nanti curiga bagaimana?'


"Apa maksud Mama? Dari mana Mama tahu kalau aku memberikan uang milyaran pada Laras?" Galang menatap mamanya penuh selidik. Namun, perempuan paruh baya itu segera merubah mimik wajahnya.


"Dari mana Mama tahu kalau aku memberikan uang milyaran pada Laras?"


"Ma-mama hanya asal nebak saja." Ningsih sedikit gugup, tetapi dia langsung menutupi kegugupannya.


Galang menghela napas panjang. Dia menatap sang mama yang terlihat gugup. Ada sedikit kecurigaan dalam hatinya. Namun, pria itu segera menepisnya.


'Tidak mungkin mama terlibat dalam rekening palsu itu bukan? Tapi dari mana mama bisa tahu jumlah uang yang aku kirim pada Laras?


"Kamu jangan salah paham dulu, Galang, Mama bukannya mau ikut campur, Mama hanya ingin mengingatkan kamu saja," ucap Ningsih saat melihat Galang tak berhenti menatapnya.


"Mengingatkan apa, Ma?"


"Mengingatkan, kalau Laras itu bukan perempuan baik-baik. Kamu ingat kan, apa yang sudah dia lakukan? Kenapa kamu tidak menceraikannya saja?"


Sebenarnya Ningsih belum ingin Galang menceraikan Laras sekarang, karena seandainya putranya itu menceraikan Laras, sudah pasti dia tidak akan mengirim uang lagi untuk perempuan itu.

__ADS_1


Uang dua ratus juta yang dia dapat dari Rusdi setiap bulan adalah uang yang sangat fantastis buat dirinya. Sebelum Galang sukses, Ningsih hidup serba kekurangan di kampungnya.


Apalagi, semenjak suaminya meninggal. Terkadang, justru keluarga Laras yang membantu dirinya untuk makan sehari-hari, saat Galang sudah berangkat ke Ibukota untuk melanjutkan kuliahnya.


Setelah Galang kuliah sambil bekerja, pria itu mulai mengirimkan uang padanya. Saat itu, Galang hanya mengirimkan uang beberapa juta saja. Galang menyuruhnya untuk membagi uang itu sebagian buat Laras dan ibunya.


Namun, dengan liciknya, Ningsih tidak pernah memberikan uang sepeser pun pada Laras.


Setiap bulan, uang yang dikirim oleh Galang semakin bertambah. Pria pekerja keras itu ternyata sudah mulai membuka usaha sendiri dengan modal uang yang diberikan oleh ibunya Laras. Bukannya bersyukur, melihat jumlah uang yang semakin banyak, justru semakin membuat jiwa ketamakannya semakin terlihat.


Semenjak itulah, akhirnya Ningsih mulai menyusun rencana untuk memfitnah Laras. Bak gayung bersambut, Galang yang memang tidak mempunyai akses untuk berkomunikasi dengan Laras, akhirnya bisa dengan mudah dia cuci otaknya.


Rencana Ningsih dan Rusdi makin sukses karena Laras tidak mempunyai ponsel, sementara Galang pun sudah mengganti nomer ponselnya.


Ponsel milik Laras yang Galang pegang saat dirinya ke Ibukota, sudah Galang buang saat pria itu marah besar mendengar Laras berselingkuh.


Namun, kabar jelek tentang Laras, ternyata tidak menghentikan keinginan Galang untuk tetap memberikan uang pada Laras. Akhirnya, tercetuslah ide untuk membuat rekening palsu atas nama Laras.


Semenjak saat itu, kehidupan Ningsih dan Rusdi berubah drastis. Rusdi pindah ke kota yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya yang awalnya berdekatan dengan Laras.


Laki-laki itu membeli rumah yang cukup mewah dan beberapa aset dengan menggunakan uang pemberian Galang yang pria itu kirim lewat rekening palsu Laras.

__ADS_1


Mereka tidak menduga, ternyata, seiring dengan semakin maju usaha Galang di Ibukota, semakin gendut rekening atas nama Laras itu. Setelah Galang dekat dengan Nadine, semakin banyak uang yang Galang kirim untuk Laras.


Semua itu, membuat Ningsih dan adiknya semakin gelap mata. Kedua orang itu menggunakan uang yang seharusnya milik Laras dan ibunya itu untuk mereka sendiri. Mereka bahkan tidak peduli dengan keluarga Laras yang menderita karena kesusahan mencari uang.


Ningsih dan semua keluarga Galang, pindah ke Ibukota setelah Galang membeli rumah untuk Ningsih, Mira kakaknya Galang, dan juga Andika, adik dari Galang.


Sementara Rusdi, hidup mewah bersama keluarganya di kota lain. Ningsih dan Rusdi hidup bermewah-mewah dengan uang yang seharusnya menjadi milik Laras dan keluarganya.


"Galang, kamu dengar apa yang mama katakan bukan?" ucap Ningsih mengulangi pertanyaannya sesaat ia tersadar dari lamunannya.


Ningsih melihat, putranya itu masih terdiam menatapnya.


"Aku ingat, Ma, tetapi apa Mama punya bukti-buktinya? Sekarang aku butuh bukti, agar aku bisa mengajukan cerai secepatnya. Kalau tidak ada bukti yang memberatkan Laras, bagaimana aku mau menceraikannya?"


*


*


By: Nazwatalita


Jangan lupa dukung Authornya dengan like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏

__ADS_1


__ADS_2