DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 53 KEKECEWAAN GALANG


__ADS_3

Ningsih terdiam, tak mampu berkata apa-apa mendengar semua ucapan Galang. Dia tidak menyangka kalau semua kebohongan yang dia simpan selama ini terungkap.


"Mama benar-benar jahat! Aku tidak menyangka kalau Mama-"


"Cukup, Galang! Jaga bicara kamu. Kamu memang tidak pernah mengerti perasaan Mama!" Ningsih berteriak.


"Dari kecil kamu Mama besarkan, tapi apa balasanmu?"


"Apa balasanku? Jadi, Mama meminta balasan atas apa yang sudah Mama keluarkan untukku dari sejak kecil sampai sebesar ini, begitu?" sarkas Galang.


"Aku tidak pernah menyangka kalau ada seorang ibu yang menganggap anak sebagai investasi yang keuntungannya akan ditarik saat mereka dewasa kelak!"


"Aku tidak pernah sedikitpun berniat untuk mengabaikan Mama, apalagi sampai menelantarkan seorang perempuan yang sudah berjuang melahirkan dan membesarkanku!" Lelaki itu mati-matian berusaha menahan rasa kecewanya.


"Bu-bukan begitu, Nak." Ningsih meremas tangannya. "Maksud Mama ...."


Galang mengangkat tangan, menyuruh perempuan itu diam.


"Oke! Kalau memang itu yang Mama inginkan, Mama tinggal hitung saja berapa biaya yang sudah Mama keluarkan dari aku kecil sampai dewasa. Aku akan bayar, Ma!"


"Galang, kau ...!"


"Jangan mentang-mentang kamu sudah sukses, terus kamu berani berkata begitu sama Mama, Galang!" Mata Ningsih melotot. Tangannya mengepal keras, melayangkan tamparan kepada putra kesayangannya itu.


"Ingat, Galang! Surga itu di telapak kaki ibu!"


"Mama juga harus ingat, Ma, surga itu juga ada di telapak kaki ibu yang melahirkan anak-anakku, cucu-cucu Mama!" sambung Galang, lantas bangkit dari tempat duduknya.


Pria itu menatap ibunya dengan tatapan kecewa.

__ADS_1


"Hari ini Galang mau bermalam di rumah Mama, mau istirahat! Aku tidak mungkin pulang ke rumah Nadine dengan keadaan seperti ini, karena dia pasti akan curiga dan aku tidak mau ditanyai macam-macam!" ujar Galang.


Ningsih tak berkata sepatah kata pun. Dia membiarkan Galang berlalu dari hadapannya. Namun, tiba-tiba dia mengingat satu hal.


"Tunggu, Galang!"


Galang menghentikan langkahnya dengan malas.


"Ingat ucapan Mama! Mama akan bikin perhitungan dengan perempuan itu, karena kehadiran dia, kamu tidak lagi taat kepada Mama seperti dulu!" Ningsih menatap tajam ke arah Galang, sementara pria itu mati-matian menahan emosinya.


"Maksud Mama, Mama mau mengancam Laras seperti yang selama ini sering Mama lakukan?" Galang menatap perempuan yang melahirkannya dengan menahan amarah.


"Kalau Mama datang ke rumah besar itu dan mengancam Laras, maka Galang akan melaporkan semua kelakuan Mama kepada Nadine!"


Mendengar itu ibunya terkejut.


"Apa hubungannya dengan Nadine?"


Napas Galang naik turun. Dia sudah lelah berhadapan dengan ibunya. Lelaki itu segera melangkah menuju kamar, kemudian masuk dan menutup pintunya rapat-rapat. Dia benar-benar butuh istirahat sekarang.


*****


Di salah satu butik ternama yang berada di pusat perbelanjaan, tampak Nadine tengah gelisah. Dia berkali-kali berusaha menghubungi suaminya, tetapi nomor ponsel itu tidak aktif.


'Kemana Galang ya? Kenapa nomer ponselnya tidak aktif?'


'Entah kenapa perasaanku mendadak tidak enak begini?'


Nadine bermaksud akan mengajak suaminya makan malam untuk merayakan pencapaian yang telah dibuatnya selama sebulan terakhir ini.

__ADS_1


Nadine collection memiliki satu butik utama dan beberapa cabang butik lainnya. Memang bukan usaha yang sangat besar, seperti yang dijalani oleh Galang. Namun, usaha ini terus berkembang dan sekarang Nadine sudah berhasil membuka satu butik lagi. Dia bermaksud ingin merayakan pencapaian itu dengan sang suami.


Setelah memberikan beberapa arahan kepada Karina, asisten pribadinya, perempuan itu melangkah gontai keluar dari butik menuju mobilnya yang terletak di basement pusat perbelanjaan itu.


Sampai di mobilnya, Nadine segera menghidupkan mesin dan tak lama kemudian, dia sudah berada di jalanan menembus kemacetan Ibukota.


"Sial! Lagi-lagi aku terjebak macet!" gerutu Nadine.


Sembari menunggu kendaraan yang lain jalan, Nadine kembali mengambil ponsel, berusaha menghubungi Galang, tetapi nomor laki-laki itu masih tetap tidak aktif dan berada di luar jangkauan. Nadine melempar ponselnya ke jok mobil dan kembali meneruskan perjalanan.


'Kemana dia? Dari siang sampai sore ini tidak bisa dihubungi. Sebaiknya aku cepat-cepat sampai ke rumah. Siapa tahu Mas Galang sudah berada di rumah.'


Nadine memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tak sabar ingin segera sampai di rumah. Seorang petugas jaga membukakan pintu pagar untuknya. Perempuan itu segera membawa mobilnya masuk ke halaman.


Baru semenit Nadine mematikan mesin mobil, tiba-tiba sebuah mobil masuk ke halaman. Nadine bergegas keluar dan menutup pintu mobil.


"Ale, Laras," gumamnya saat melihat siapa yang keluar dari mobil itu.


Nadine menatap sekelilingnya. Di halaman yang luas ini hanya ada mobilnya, mobil Nalendra dan mobil ayahnya. Tak terlihat mobil Galang berada di tempat ini.


'Kemana Galang sebenarnya? Kenapa mobilnya tidak ada di rumah?' Tiba-tiba Nadine memijat dahinya sendiri.


Nadine memutuskan untuk melangkah ke dalam, setelah Ale dan Laras lebih dulu masuk ke rumah besar itu. Langkahnya agak terhuyung, Nadine merasa kepalanya mendadak pening dan sakit, pandangannya juga mulai mengabur.


.


By: Jannah Zein


Ikutin terus kelanjutannya yuk teman-teman, jangan lupa dukung Authornya dengan cara like, komen, dan votenya ya🙏

__ADS_1


Mampir juga ke karya temen aku yuk!



__ADS_2