
Nalendra menatap Laras yang terlihat terkejut. Wajah perempuan itu memerah menahan malu karena ketahuan sedang memperhatikannya.
Nalendra tersenyum, wajah Laras yang memerah dan senyum malu-malunya membuatnya merasa gemas. Laki-laki itu kemudian bangkit mendekati Laras.
Wajah Laras semakin memerah saat Nalendra berada di hadapannya. Laki-laki itu menatap Laras, bibirnya menyunggingkan senyum yang terlihat begitu menawan di wajah tampannya.
Sejenak Laras terpesona, menatap pria di depannya itu tanpa berkedip. Nalendra tak menghilangkan kesempatan, pria itu langsung menarik tengkuk Laras kemudian dengan cepat, bibirnya menyambar bibir Laras yang sedari kemarin menggodanya.
Laras memberontak. Namun, detik berikutnya dia pun ikut menikmati saat lidah pria itu mulai bermain di dalam mulutnya. Nalendra melepaskan tautan bibirnya saat mereka berdua hampir kehilangan napas.
Pria itu membawa membawa Laras ke dalam pelukannya. Mereka berdua mengatur napas mereka yang tersengal.
Nalendra tersenyum menikmati debaran di dadanya. Detak jantungnya menggila, saat perempuan itu berada dalam dekapannya.
Sudah lama sekali Nalendra tidak pernah merasakan hal seperti ini. Sewaktu di luar negeri dia memang sering berganti-ganti pasangan. Namun, pria itu tidak pernah merasakan seperti apa yang dirasakan saat berdua dengan Laras.
"Aku mencintaimu, Laras ...." Nalendra semakin mempererat pelukannya.
"Aku juga mencintaimu," Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan Laras. Perempuan itu benar-benar belum bisa menerima Nalendra sepenuhnya.
Perbedaan kasta di antara mereka dan juga kemarahan Nyonya Aline karena merasa kecewa padanya membuat Laras berusaha menjaga hatinya.
Tanpa sepengetahuan Nalendra, Nyonya Aline menemui Laras dan mengatakan kalau sebaiknya Laras jangan berharap terlalu banyak pada Nalendra. Nyonya Aline juga mengingatkan tentang posisinya.
Laras mempererat pelukannya.
Bagaimana bisa aku bisa menjaga hatiku untuk tidak jatuh cinta padamu? Sementara hatiku sudah berlabuh dan jatuh padamu dari semenjak lama?
"Laras, aku mencintaimu." Suara lembut Nalendra kembali menyapa pendengarannya, membuat hati Laras semakin dilema.
"Mari berjuang bersama. Langit dan bumi memang tidak bisa bersatu, tetapi kau juga pasti tahu, kalau Tuhan menjadikan mereka pasangan abadi hingga seluruh dunia berakhir."
__ADS_1
***
Galang menerobos masuk ke ruangan Martin. Pria itu terlihat sangat marah, apalagi saat melihat pegawai kepercayaannya itu justru sedang melakukan hal yang tidak bermoral dalam ruang kerjanya.
Martin segera bangkit dari atas tubuh perempuan yang saat itu sedang mendesah nikmat di bawah tubuhnya. Laki-laki itu segera mengenakan pakaiannya yang sudah terlepas sebagian, begitupun perempuan itu.
Wajah keduanya memerah karena malu. Sementara Galang menatap penuh amarah pada kedua orang itu.
"Jadi begini, pekerjaan kamu saat aku tidak berada di kantor?"
"Apa kau sudah gila?"
"Ma-maafkan sa-saya-"
"Sekarang juga, kau aku pecat, Martin!"
"Pa-pak ...." Martin menatap tak percaya pada Galang.
Perempuan yang termasuk salah satu pegawai itu menatap Galang sambil menangis.
"Cepat kemasi barang-barang kalian, dan pergi dari restoranku!"
"Dan kau, Martin! Bersiap-siaplah, karena aku sudah melaporkan semua perbuatanmu pada polisi!"
"Apa?" Kedua mata Martin melotot ke arah Galang.
"Apa kau pikir, aku tidak tahu perbuatanmu selama ini, Martin?"
"Pa-pak-"
"Berani-beraninya kau berkhianat padaku dan menggelapkan uang restoran hingga miliaran rupiah. Kau benar-benar brengsek, Martin!"
__ADS_1
Belum sempat Martin menjawab, Galang sudah memberikan bogeman mentah pada pria muda di depannya itu. Bukan hanya sekali, tetapi Galang kembali memukul pria itu hingga berkali-kali.
Perempuan yang tadi bersama Martin berteriak menghentikan Galang, tetapi karena Galang tidak mendengar, perempuan itu berlari keluar ruangan Martin.
Saat perempuan itu keluar, seseorang masuk ke dalam dan melerai Galang.
"Kita sudah melaporkan dia ke polisi, jadi biar mereka yang urus. Kamu tidak perlu mengotori tanganmu, Galang!" Pria itu menghalangi Galang yang sudah bersiap menghajar Martin.
"Rasanya aku benar-benar ingin membunuhnya! Bisa-bisanya dia bekerja sama dengan ibuku menggelapkan uang restoran?" geram Galang sambil mengepalkan tinjunya. Matanya menyorot tajam ke arah Martin yang meringis kesakitan akibat pukulannya.
"Tenang, Galang. Kau harus menahan emosimu, atau semua rencana kita akan gagal!"
Galang menatap Alex, sang asisten pribadi yang selama ini membantu dirinya mengurus beberapa restoran miliknya. Alex adalah sahabat Galang yang ikut merintis usaha Galang dari nol.
"Aku tidak menyangka kalau usaha yang aku rintis dari nol ternyata hancur di tangan orang-orang terdekatku, termasuk ibuku sendiri, Alex."
"Aku tidak percaya kalau ibu ternyata begitu tega ingin menghancurkan anaknya sendiri."
Alex menepuk bahu sahabatnya itu.
"Ini memang menyakitkan bagimu, Galang. Setelah ini, kita akan selidiki, apa motif ibumu sebenarnya. Kenapa dia begitu tega mengkhianati kita." Alex mengepalkan tangannya erat.
Tidak menyangka dengan kelakuan Ningsih yang selama ini diam-diam menggelapkan uang restoran hingga miliaran rupiah. Bukan hanya karena Ningsih saja, para investor juga satu persatu menarik diri dan membatalkan kerjasamanya dengan Galang.
Kini, beberapa restoran Galang terancam bangkrut. Bahkan hari ini, sudah ada dua restoran Galang yang tidak beroperasi.
.
.
By: Nazwatalita
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya teman-teman 🙏