
"Kamu sendiri yang mengirimkan nomer rekening beserta tabungan yang bertuliskan namamu, Laras!" Galang menatap perempuan itu dengan tajam. Gelombang emosi terus menguasainya. Sementara cengkeraman di baju Laras semakin mengencang.
"Aku benar-benar tidak pernah menerima sepeser pun uang darimu, Mas. Tidak pernah! Lagipula, bagaimana caraku meneleponmu kalau nomor ponselmu saja aku tidak tahu?"
"Jangan berbohong padaku!"
"Aku tidak pernah berbohong!" Laras berteriak. Namun, sedetik kemudian Laras mengecilkan suaranya. Netra cokelatnya melirik ke arah pintu.
"Aku benar-benar tidak pernah berbohong padamu, Mas, aku tidak pernah menerima uang sepeser pun darimu. Seandainya benar, kamu mengirimiku uang bulanan seperti yang kau katakan, aku tidak akan susah-susah mencari pekerjaan untuk membiayai keluargaku!"
Laras mencoba melepaskan cengkraman tangan Galang.
"Apa kau tahu? Selama kamu pergi, aku selalu menunggu kabar darimu. Aku berharap kau menelepon untuk menanyakan kabarku. Aku memang tidak punya ponsel, tapi bukankah keluargamu juga mempunyai ponsel? Kamu bisa meneleponku lewat mereka bukan? Secara, jarak rumah kita tidak sampai sepuluh langkah!" Laras menatap pria itu dengan rasa sakit di hatinya. Sementara, Galang menatapnya tak percaya, karena apa yang dikatakan Laras sangat berbeda dengan apa yang diceritakan oleh keluarganya selama ini.
"Tetapi, setiap kali aku menanyakan kabarmu pada ibu dan keluargamu, mereka selalu mengatakan kalau kamu tidak pernah mengabari mereka. Mereka bilang, ponselmu tidak aktif." Laras menatap Galang yang masih terdiam menatapnya.
"Apa kamu tahu? Bagaimana khawatirnya aku sama ibu? Setiap hari aku berdoa, semoga kamu baik-baik saja."
"Sebulan, dua bulan, aku terus bertanya pada keluargamu, tapi jawabannya tetap sama. Mereka tidak tahu keberadaanmu, hingga akhirnya, aku menyadari, kalau ternyata aku hamil."
"Dengan penuh kegembiraan aku datang ke rumah keluargamu untuk memberitahukan kabar gembira itu. Namun, apa kamu tahu apa yang mereka katakan?"
Laras menatap Galang dengan air mata yang sudah menetes di kedua pipinya. Jantungnya serasa diremas-remas setiap kali mengingat masa lalu.
__ADS_1
"Ibumu bahkan dengan kejam mengatakan, agar aku menggugurkan bayi itu. Dia bilang, kau tidak akan menerimanya karena kau masih terlalu muda untuk menjadi seorang ayah!" Cengkeraman tangan Galang mengendur. Namun, detik berikutnya dia kembali mencengkeram leher Laras, saat kata-kata sang ibu yang mengatakan kalau Laras mengkhianatinya kembali menyulut emosinya.
"Jelas saja ibuku ingin kau menggugurkan bayi itu, karena ibuku sangat tahu kalau itu bukanlah darah dagingku!"
Laras mendorong tubuh Galang hingga cengkeraman tangan Galang terlepas dari dagunya.
"Kenapa kamu sangat yakin kalau Ruby bukanlah darah dagingmu? Kenapa kamu selalu berpikir kalau aku berselingkuh?"
"Dengar, Mas! Selama lima tahun kepergianmu, aku tidak pernah dekat dengan pria manapun. Aku selalu setia padamu! Selama ini, hanya kamu satu-satunya pria yang menyentuhku!"
"Kamu jangan berbohong, Laras! Jangan pernah lagi mengatakan kalau anak itu adalah anakku, karena aku tidak akan percaya padamu. Anak itu bahkan tidak mirip sama sekali denganku!"
"Tidak mirip?" Laras tertawa.
"Dari mana kamu tahu kalau Ruby tidak mirip denganmu?"
"Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mengetahuinya, yang jelas, anak itu bukan anakku. Dia bahkan tidak mirip sama sekali denganku, tetapi dia sangat mirip dengan orang yang sangat aku kenal!" Galang mengeraskan rahangnya saat mengingat foto yang dikirimkan sang paman padanya.
Foto gadis kecil yang sangat mirip dengan pria yang selama ini menjadi selingkuhan Laras. Setidaknya, itulah kabar yang sering Galang dengar dari mulut keluarganya.
"Mama tidak berbohong, Galang. Laras benar-benar selingkuh! Bibimu kemarin melihat istrimu pergi ke hotel bersama Andika. Kamu masih ingat Andika, bukan?" Kata-kata sang ibu tentang Laras terngiang kembali, ibarat bom waktu yang siap meledak.
Melihat kemarahan di mata Galang, Laras membuka ponselnya. Dia membuka galeri, kemudian memperlihatkan foto-foto gadis kecil dengan berbagai gaya dan senyum menawan khas anak-anak yang memenuhi galeri di dalam ponselnya.
__ADS_1
Laras kemudian memberikan ponselnya pada Galang.
"Katakan padaku, bagian mana dari wajah Ruby yang tidak mirip denganmu!" seru Laras saat dia melihat Galang memperhatikan foto gadis kecil pada layar ponselnya.
Galang menatap satu persatu foto-foto anak kecil itu. Seluruh bentuk wajahnya dari alis, mata, hidung, bahkan bibirnya sangat mirip dengannya. Bahkan rambut anak perempuan dalam layar ponsel itu pun sama persis dengan rambutnya, ikal dan bergelombang. Hanya saja, Galang selalu memotong pendek rambutnya, hingga tidak terlalu menunjukkan seperti apa bentuk rambutnya.
"Katakan padaku, bagian mana dari putri kita yang tidak mirip denganmu!"
"Si-si-siapa anak ini?" Tangan Galang yang memegang ponsel bergetar. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Ba-ba- bagaimana mungkin ...."
.
By: Nazwatalita
Makin penasaran kan sama ceritanya? Makanya, ikutin terus yuk! Kira-kira, gimana perasaan Galang ya, setelah akhirnya kebenaran semakin terungkap?
Jangan lupa like, komen, gift dan votenya ya teman-teman, biar Author makin semangat updatenya.
Kepoin karya temen aku yuk!
__ADS_1