
Nalendra berteriak menyuruh sopir pribadinya agar melajukan mobilnya dengan cepat. Dia sangat panik melihat Nadine kesakitan.
"Bertahanlah, Sayang, kamu pasti akan baik-baik saja." Suara Nyonya Aline terdengar menyapa pendengaran Nadine yang sedang merintih kesakitan.
Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu bahkan sudah menangis. Dia sangat panik, apalagi saat melihat cairan bening yang masih terus mengalir di kaki Nadine.
"Lebih cepat, Dadang. Lebih cepat!" teriak Nyonya Aline.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa padamu, Nadine.
Beberapa saat kemudian mobil sampai di depan rumah sakit. Beberapa perawat dan dokter sudah bersiap menyambut kedatangan mereka, setelah sebelumnya Nyonya Aline menghubungi mereka.
Nalendra meletakkan tubuh kembarannya itu di atas brankar yang langsung didorong oleh beberapa petugas medis menuju ruang IGD.
Setelah diperiksa, dokter menyarankan agar Nadine segera dioperasi Cesar karena air ketubannya sudah pecah duluan.
Nalendra dan Nyonya Aline menyetujui karena memang tidak ada jalan lain lagi selain dioperasi, yang penting ibu dan bayinya selamat.
"Mommy takut terjadi apa-apa sama Nadine, Ale."
"Sama, Mom. Kita berdoa saja semoga Nadine baik-baik saja dan bayinya juga selamat," ucap Nalendra.
Dia sungguh sangat menyesal karena perdebatannya dengan sang mommy membuat Nadine langsung kontraksi dan akhirnya harus dioperasi.
Padahal, awalnya Nadine sangat sehat dan sudah mempersiapkan diri untuk melahirkan secara normal.
Namun, takdir ternyata berkata lain. Perempuan itu justru sekarang harus melahirkan secara Cesar.
Nyonya Aline dan Nalendra saling berpelukan, merasa khawatir dan panik sekaligus. Mereka takut terjadi apa-apa dengan Nadine.
Mereka berdua sama-sama menangis. Termasuk Nalendra, pria itu benar-benar merasa khawatir melihat keadaan adik kembarnya.
Tuan Chandra yang baru sampai dari luar kota langsung ke rumah sakit.
Pria itu juga terlihat cemas dan khawatir dengan keadaan putrinya.
"Bagaimana keadaan putri kita, Mom?"
__ADS_1
"Dokter sedang melakukan operasi Cesar." Tuan Chandra memeluk istrinya. Sementara Nalendra menyugar rambutnya.
Suara ponsel Nalendra berdering.
"Halo, Ale. Apa kamu sudah sampai? Kenapa tidak mengabariku? Aku jadi khawatir."
"Aku baik-baik saja, Sayang. Dari tadi aku udah sampai rumah."
"Syukurlah ...."
"Tapi sekarang aku sedang di rumah sakit."
"Rumah sakit? Ale, kau baik-baik saja bukan?"
"Halo!"
"Ale!"
"Iya, Sayang, aku baik-baik saja. Nadine di rumah sakit. Dia sekarang sedang menjalani operasi Cesar."
"Apa? Kenapa tiba-tiba operasi? Bukankah kamu bilang-"
"Bolehkah aku ke rumah sakit? Aku ingin menengok Nadine."
"Sudah malam, Sayang, besok pagi saja. Aku khawatir kalau kamu ke sini sendirian."
"Tapi-"
"Jangan membantah, Laras, jangan membuatku khawatir."
"Justru karena aku menghawatirkan kamu, makanya aku ingin ke sana."
"Sayang ...."
***
Setelah beberapa jam berlalu, proses operasi Nadine berjalan lancar. Perempuan itu melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik.
__ADS_1
Tuan Chandra dan Nyonya Aline sangat bersyukur karena akhirnya putri dan cucunya selamat.
Sementara itu, di rumah besar Tuan Chandra, Galang berdiri di depan pintu gerbang. Pria itu kembali datang ingin menemui istrinya setelah semua masalahnya selesai.
Kini, pria itu sudah menjual semua aset miliknya untuk membayar hutang dan memulai lagi usahanya dari nol.
Keputusan Nadine yang meminta berpisah dengannya setelah anak mereka lahir, membuat Galang ingin menemui wanita yang dicintainya itu untuk terakhir kalinya.
Dia sadar, kesalahannya terlalu besar, hingga Nadine dan keluarganya tidak mau memaafkannya.
Meskipun berat, Galang terpaksa menerima semua Keputusan perempuan yang dicintainya itu.
Saat Galang ingin masuk, penjaga pintu gerbang yang sudah sangat mengenal Galang itu memberitahukan padanya kalau Nadine sudah melahirkan.
Galang dengan penuh suka cita langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat Nadine.
Sampai di rumah sakit, Galang bertemu dengan Nalendra yang langsung menghajarnya dan tidak memperbolehkan pria itu untuk menemui adiknya.
Bukan hanya Nalendra, kedua orang tua Nadine pun melarang Galang untuk menemui Nadine.
Namun, pria itu memohon sambil menangis di depan mereka. Agar mereka mau mengizinkannya menemui Nadine dan anaknya untuk terakhir kali.
"Aku janji, ini terakhir kalinya aku menemui Nadine dan anakku. Setelah ini, aku akan mengikuti keinginan Nadine untuk berpisah denganku."
"Aku akan menerima dengan lapang dada, seandainya setelah ini Nadine ingin bercerai denganku. Tapi aku mohon, izinkan aku bertemu dengan Nadine satu kali saja ...."
Galang menatap kedua orang tua yang saat ini masih menjadi mertuanya itu.
"Aku mohon ...." Galang menangkupkan kedua tangannya sambil berlinang air mata.
Dia sudah pasrah seandainya kedua orang itu tetap tidak mengizinkannya bertemu dengan Nadine dan anaknya.
Namun, dalam hati dia sangat berharap, semoga mereka berdua memberikan izin untuk bertemu dengan Nadine meski untuk terakhir kalinya.
"Baiklah! Aku akan memberikan kesempatan padamu untuk melihat putriku untuk terakhir kalinya. Setelah ini, pergilah sejauh mungkin dari Nadine dan juga cucuku!" Tuan Chandra berucap penuh dengan penekanan.
.
__ADS_1
By: Nazwatalita
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya, teman-teman 🙏