
Meskipun keadaan sekitarnya sedang gelap, tetapi Laras sangat mengenal rasa mulut itu. Bibir sedikit tebal yang tengah ********** dengan kasar.
Sekuatnya dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman laki-laki itu.
"Lepaskan, Mas! Lepaskan!" Laras memekik tertahan. Otaknya masih waras. Dia tidak mau seorang pun mendengar teriakannya.
Keadaan sekitar sangat sepi. Di belakang rumah ini hanya ada taman dengan satu kursi panjang yang tadi dia duduki. Galang membawanya ke tempat ini, pada sebuah sudut yang gelap. Penerangan hanya berasal dari lampu taman, dekat tempat duduknya barusan.
"Tidak! Kamu tidak akan aku lepaskan!"
"Kamu sudah berani ya sama aku? Mentang-mentang sudah ada laki-laki sialan itu!" umpat Galang.
"Laki-laki yang mana?" Emosi Laras tersulut. Dia tidak mau dikatakan sebagai istri yang berselingkuh.
"Siapa lagi kalau bukan kakak iparku itu!" geramnya.
"Oh, kakak ipar ya?" ejek Laras. "Tumben sekarang mengakui Tuan Muda Nalendra sebagai kakak ipar?"
"Karena aku mencintai adiknya!" ketus Galang. "Sekarang puas kamu!"
Kata-kata itu membuat hati Laras kembali berdenyut.
"Kalau kamu mencintai adiknya, kenapa kamu tidak mau melepaskan aku?"
"Karena aku tidak mau melepaskan kamu!"
__ADS_1
"Apa alasan kamu tidak mau melepaskan aku, Mas?" tanya Laras kesal.
"Aku tidak mau melepaskanmu dan aku tidak punya alasan untuk itu!" Galang mengulangi perkataannya.
"Karena masih cinta?" ejek Laras. Perempuan itu tertawa hambar.
"Setiap lelaki selalu saja berkata begitu. Terpaksa menikahi seorang perempuan karena kemauan keluarga, karena harta, sampai meninggalkan anak dan istri di kampung."
"Seperti dirimu. Kau tidak mau melepaskan aku, padahal istri tercintamu itu saat ini sedang hamil!" sarkas Laras.
"Nadine itu istriku, wajar kalau dia hamil!"
"Wajar, tetapi yang tidak wajar itu adalah keserakahanmu yang ingin menguasai dua orang wanita!" tegas Laras tak mau kalah.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu dimiliki oleh siapapun selain diriku, termasuk Nalendra!"
"Nalendra? Selama ini hubungan kami hanya sekedar atasan dengan bawahan. Tidak lebih!"
"Atau jangan-jangan kamu kesal dengan perkataan Nona Nadine tadi? Kamu cemburu?" ejek Laras. Dia melemparkan senyumnya yang sinis.
"Kalau iya, kenapa? Kamu mau apa?" tantangnya pongah.
"Buang ke laut rasa cemburumu itu, Mas, karena aku ingin kamu menceraikan aku sekarang juga!"
"Tidak, aku tidak akan menceraikanmu!"
__ADS_1
Lelaki itu mendorong tubuh Laras hingga menghimpit tembok taman. Wajah cantiknya nampak samar dibalik kegelapan. Tangan Galang terulur mengelus pipi mulus itu.
"Tidakkah kau tahu, jika aku masih sangat mencintaimu, Laras. Aku tidak akan pernah rela jika orang lain memilikimu, apalagi itu adalah kakak iparku sendiri." Galang bermonolog.
Laras terdiam. Tubuhnya yang tak lagi bisa bergerak, berhimpitan dengan tembok, membuatnya seketika menahan debaran di jantungnya. Jarak mereka berdiri begitu dekat, bahkan hembusan napas Galang yang tersengal berusaha mengontrol emosinya yang turun naik bisa dia rasakan.
"Aku tidak bisa melepaskanmu!" tegas Galang. Sesudah mengucapkan rangkaian kata itu, pria itu melepaskan cekalannya, membuat Laras memegangi tangan besar itu.
"Tunggu!" Laras kembali menarik tangan Galang yang hendak pergi.
"Kenapa? Bukankah yang aku katakan sudah cukup jelas untukmu? Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Laras!"
"Semuanya sudah cukup jelas, aku hanya ingin mengatakan padamu, jika kamu tidak mau menceraikan aku, maka aku yang akan menggugat cerai kamu ke pengadilan agama. Aku akan minta izin kepada Tuan Nalendra untuk pulang kampung dan mengurus perceraian kita seorang diri!" Laras menatap Galang dengan tajam.
Sementara, sepasang mata Galang membulat dan berkilat, menerbitkan api yang seketika membuat Laras merasa terbakar.
.
By: Jannah Zein
Yang penasaran sama ceritanya, ikutin terus kelanjutannya yuk!
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya, 🙏
__ADS_1