
Rusdi tersenyum jahat. Sementara Laras dan Bu Marni terlihat terkejut. Sedangkan Nalendra, pria itu sedari tadi hanya diam tanpa ekspresi.
"Kamu jangan macam-macam, Rusdi! Pria itu adalah bosnya Laras, kakak ipar keponakanmu!" Bu Marni semakin marah. Napasnya naik turun.
Rusdi menatap ke arah Nalendra. Pria tampan itu menatapnya tajam, tidak ada rasa takut ataupun khawatir di wajah tampannya. Sudut bibir Nalendra tertarik ke atas. Pria itu tersenyum sinis.
"Kalau Laras dan laki-laki itu tidak ada hubungan apa-apa, tidak mungkin laki-laki itu mau mengantarkan Laras sampai ke kampung." Rusdi mulai memprovokasi.
"Kalau Laras memang ingin pulang kampung, kenapa dia tidak menyuruh Galang mengantarkannya? Kenapa Laras justru pergi bersama bosnya bukannya bersama suaminya?" Rusdi tersenyum penuh kemenangan saat melihat Bu Marni yang terlihat gelisah.
Dia yakin, Laras dan laki-laki itu pasti tidak akan bisa mengelak.
Rusdi memang sangat licik, saat dirinya mengira kalau Laras dan Nalendra belum sampai ke kampung, pria tua itu kemudian mendatangi rumah-rumah warga dan membayar mereka agar mereka mau menggerebek rumah Laras.
Rusdi bahkan rela membayar mereka agar mereka beramai-ramai datang ke rumah Laras. Namun, sepertinya Rusdi lupa kalau dia sedang berhadapan dengan siapa.
Tanpa sepengetahuan Rusdi, semua warga yang sudah dia bayar untuk menggerebek rumah Laras, sudah terlebih dahulu dihadang oleh orang-orang Nalendra.
"Kamu benar-benar licik Rusdi!" teriak Bu Marni.
"Bu, sabar." Laras menenangkan ibunya. Sedari tadi sang ibu tidak bisa menahan emosi, membuat Laras khawatir kalau penyakit sang ibu kambuh lagi.
"Sebaiknya Ibu duduk dulu di sini, Paman Rusdi biar aku yang urus."
__ADS_1
"Tapi, Laras, dia mengancam akan mengajak warga ke sini."
"Tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa pada kita. Tuan Nalendra pasti akan mengurus semuanya. Ibu tenang saja, jangan sampai penyakit ibu kambuh lagi." Bu Marni akhirnya menuruti kata-kata Laras. Perempuan tua itu duduk di sofa sambil terus memperhatikan Rusdi yang terlihat begitu congkak karena merasa sudah menguasai keadaan.
"Katakan apa maumu, Paman? Tidak mungkin Paman datang ke sini tanpa ada maksud apapun bukan? Aku yakin Paman sedang menginginkan sesuatu makanya paman datang ke sini!" Laras menatap tajam ke arah Rusdi yang tersenyum jahat.
"Kelihatannya kamu lebih pintar dari pada ibumu, Laras. Pria itu melirik Bu Marni yang sedang duduk di sofa.
"Tidak usah basa-basi, katakan apa maumu, Paman?" Laras masih menatap tajam ke arah pria setengah tua itu.
Laras tidak pernah menyangka kalau orang itu sangat licik. Dulu, Laras terlalu naif juga lugu karena mengira Kalau Ningsih dan Rusdi adalah orang baik, begitupun Galang. Kini setelah bertahun-tahun, Laras baru mengerti kalau keluarga Galang hanya memanfaatkan kebaikannya.
Dulu, ia dan ibunya terlalu baik pada orang-orang itu. Mereka tidak menyangka kalau orang yang yang selama ini mereka tolong ternyata menusuk mereka dari belakang. Ningsih, Rusdi dan Galang adalah contoh orang-orang yang tidak tahu terima kasih.
"Berikan semua dokumen pernikahanmu dengan Galang!" Rusdi menatap Laras dengan tajam, mencoba mengintimidasi perempuan itu. Namun, Laras hanya tersenyum kecil.
"Dokumen pernikahan? Untuk apa Paman meminta dokumen pernikahanku dengan Mas Galang?"
"Sebaiknya kau tidak usah banyak bertanya, serahkan saja dokumen itu, atau aku akan menyuruh seluruh warga datang ke rumah ini, agar mereka tahu kalau kamu menyembunyikan laki-laki lain di rumahmu di saat Galang tidak ada di rumah!"
"Paman mengancamku?" Laras tersenyum mencibir.
"Sudah kuduga, Paman pasti datang ke sini untuk meminta sesuatu. Tidak mungkin, Paman ke sini tanpa tujuan."
__ADS_1
"Untuk apa Paman meminta dokumen pernikahanku dengan Mas Galang? Apa Mas Galang yang menyuruh, Paman?"
"Tidak usah banyak bicara, Laras. Cepat berikan semua dokumen pernikahanmu dengan Galang!"
"Aku sudah tidak tahan berada di dalam rumahmu yang jelek ini," lanjut Rusdi. Pandangan matanya berkeliling ruangan itu.
Laras tertawa mendengar ucapan Rusdi.
"Rumah jelek?" Laras kembali tertawa.
"Rumahku tidak akan sejelek ini seandainya paman dan ibu Ningsih tidak mencuri uangku!"
"Aku tidak pernah mencuri uangmu, Laras!"
"Benarkah? Apa benar Paman tidak pernah mencuri uangku? Kalau Paman tidak mencuri uangku, tidak mungkin Paman bisa membeli rumah mewah di kota itu!" teriak Laras.
"Paman juga tidak akan mungkin bisa membeli beberapa mobil juga aset yang lainnya!"
"Kalau bukan karena uang dari Mas Galang yang seharusnya menjadi hakku, Paman pasti tidak akan mungkin bisa hidup mewah seperti sekarang!"
.
By: Nazwatalita
__ADS_1
Kepoin terus ceritanya, yuk! Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya 🙏