DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 63 AKU MENCINTAIMU, LARAS!


__ADS_3

Laras baru bisa tidur menjelang dini hari. Hampir semalaman ia memikirkan kata-kata Nalendra. Namun, ia rasa waktunya sekarang sudah tepat. Dia tidak mau menunda-nunda lagi. Dia tidak mau menjadi wanita yang diduakan. Menjadi wanita yang diduakan adalah hal yang terbodoh di dalam sejarah hidupnya.


Bukan karena dia serakah tidak mau berbagi cinta, bukan karena ia ingin memiliki seorang Galang sendirian. Hanya saja, ia tidak mau lantas membebankan pilihan itu kepada siapa pun. Dia sudah memilih untuk dirinya sendiri.


Baginya hidup ini adalah keseimbangan. Seorang laki-laki hanya untuk seorang wanita, demikian pula sebaliknya. Tidaklah seimbang jika seorang laki-laki untuk dua orang wanita apalagi lebih dari itu. Dia tidak sanggup. Dia hanya seorang wanita biasa dan dia memiliki rasa sakit saat melihat orang yang dicintainya bercumbu mesra dengan wanita yang lain.


Mungkin ini terkesan egois. Akan tetapi percayalah! Bertahan dengan sebuah pernikahan yang tidak sehat itu jauh lebih sakit daripada memilih berpisah dengan resiko yang tidak bisa kita prediksi.


Lagipula, selama ini Galang tidak pernah memberi nafkah. Dia hidup sendiri dan dia berdiri di atas kakinya sendiri. Tak ada alasan dan keraguan untuknya untuk tidak mau melepaskan Galang, walau itu demi putrinya sekalipun.


"Maafkan Mama, Ruby. Mama tidak bisa membawa ayahmu kembali kepada kita." Tiba-tiba melintas bayangan gadis kecil kesayangannya.


Rasa rindu itu, ah kenapa begitu mendera? Laras menghapus air mata yang tiba-tiba saja berhamburan entah sejak kapan. Dia kembali berusaha memperbaiki riasannya yang sempat rusak lantaran air matanya.


Tiba-tiba ponselnya bergetar.


[Temui aku di di taman belakang sekarang juga!]

__ADS_1


Laras melempar ponselnya dengan geram.


"Mau apalagi laki-laki itu memintaku untuk bertemu?" Perempuan itu menggelengkan kepala. Dia meraih tas dan memungut ponsel yang tadi dia lemparkan ke ranjang.


Sembari menjinjing tas kerjanya, Laras mengendap-endap melangkah menuju dapur dan keluar melalui pintu di dekat kamar mandi.


"Mas mau apa lagi? Apa masih belum cukup pembicaraan kita tadi malam?" tegur Laras setelah menemukan calon mantan suaminya tengah duduk santai di bangku panjang dekat lampu taman yang sekarang sudah dimatikan.


"Belum cukup Laras! Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu menarik keinginanmu untuk menggugat cerai ke pengadilan agama."


"Mengurungkan niat?" Laras tertawa hambar. "Sudah terlambat, Mas. Aku tidak akan pernah menarik niatku, karena kita harus berpisah secepat mungkin!"


"Itu urusan, Mas, tetapi aku akan tetap maju dengan keinginanku!"


Laras akan segera meninggalkan tempat itu, tetapi tangan Galang menariknya lebih cepat. Galang menarik lengan itu kuat kuat sehingga membuat tubuh perempuan itu terhuyung. Dengan sigap, Galang menangkap tubuh itu, memeluknya dengan napas memburu.


"Jangan pernah pergi dariku, Sayang. Jangan pernah tinggalkan aku," rengeknya seperti anak kecil.

__ADS_1


Laras membeliak merasakan pipinya yang basah. Tidak. Dia tidak sedang menangis. Laras melepas pelukan Galang dengan kasar dan mengamati wajah itu. Wajah yang basah dengan airmata.


"Mas, menangis?" ucap Laras terbata-bata.


"Katakan apa saja yang menjadi permintaanmu, Laras. Mas akan mengabulkannya. Atau kamu ingin semua restoran Mas atas nama kamu? Mas akan balik nama dengan nama kamu sebagai kompensasi nafkah Mas yang selama lima tahun tidak kamu terima. Tapi tolong, jangan menggugat cerai, Mas ...."


"Mas pikir aku ini wanita matre, seperti yang sering Mama tunjukkan kepadaku? Iya?!" Lagi-lagi Laras tersulut emosinya.


"Simpan saja semua bujukanmu itu, Mas. Aku hanya ingin hidupku tenang dan bercerai darimu!"


"Tapi aku mencintaimu, Laras." Lelaki itu membungkuk. Kedua tangannya gemetar memegang betis Laras bermaksud mencium kakinya.


.


By: Jannah Zein


Maaf ya, teman-teman, baru sempat up. Sibuk banget di dunia nyata 🙏

__ADS_1


Ikutin terus lanjutannya ya, jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ....


__ADS_2