
Ruby menatap Nalendra. Gadis itu tampak sedang berpikir, wajahnya yang imut terlihat begitu menggemaskan. Kedua matanya mengerjap lucu.
Nalendra mencium kedua pipi Ruby saking gemasnya.
"Ruby tidak punya ayah. Kalau Ruby jadi anak Om, apa Ruby boleh panggil Om, ayah?" Mendengar kata-kata Ruby, seperti ada yang menusuk-nusuk hati Nalendra.
Dia merasa iba mendengar penuturan bocah berusia lima tahun itu.
"Tentu saja boleh, Sayang. Ruby boleh manggil Om dengan sebutan Papa." Nalendra memeluk Ruby. Hatinya bergetar, saat memeluk putri dari perempuan yang sangat dicintainya.
Nalendra menatap Laras yang saat ini sedang menatap interaksinya dengan Ruby. Laras tersenyum, membuat Nalendra ingin sekali merengkuh perempuan itu ke dalam pelukannya.
Galang, kau benar-benar bajingan! Pria seperti dirimu tidak pantas mendapatkan kebahagiaan.
Nalendra mengusap kepala Ruby, kemudian melepaskan pelukannya.
"Ruby mau kan, jadi anaknya, Om?"
"Om juga mau yah, jadi ayah Ruby. Kalau Om mau jadi ayah Ruby, Ruby juga mau jadi anaknya Om," ucap Ruby sambil menatap penuh harap pada pria dewasa di depannya.
Bayangan teman-temannya yang selalu mengejek karena dia tidak mempunyai ayah, terlintas di kepala bocah itu.
Dia juga ingin merasakan bagaimana punya ayah, seperti anak-anak lain. Orang bilang, ayahnya pergi ke kota sebelum dia lahir, tetapi, kenapa ayahnya tidak pulang-pulang?
Saat Ruby menanyakan pada sang nenek tentang ayahnya, nenek selalu mengatakan kalau ayahnya sedang bekerja. Begitupun saat dia bertanya pada Tante Annisa.
Ruby tidak berani lagi bertanya pada Laras karena ia tidak ingin melihat ibunya menangis. Sang ibu selalu menangis saat ia bertanya tentang ayahnya yang belum juga pulang.
Nalendra kembali memeluk gadis kecil itu.
"Tentu saja boleh, Sayang. Ruby boleh manggil Om dengan sebutan Ayah atau Papa. Ruby juga boleh panggil Om, Daddy, Papi, atau terserah Ruby mau manggil Om dengan sebutan apa." Kedua mata Nalendra berkaca-kaca. Sudut hatinya bergetar mendengar ucapan polos Ruby.
Nalendra yakin, selama ini Ruby pasti sangat menderita melihat teman-teman seusia dirinya bisa bermain dengan kedua orang tuanya, sementara dia tidak.
Gara-gara keegoisan Galang dan keluarganya, gadis berusia lima tahun ini menderita.
__ADS_1
Galang brengsek! Setelah ini, aku pastikan kalau aku akan membuatmu dan semua keluargamu hancur di tanganku!
Kedua tangan Nalendra terkepal menahan amarah. Laras yang melihat bos tampannya itu terlihat tidak baik-baik saja, langsung mendekati mereka berdua.
Melihat Laras mendekat padanya, Nalendra langsung menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.
"Aku berjanji, tidak akan membiarkan kalian berdua menderita lagi karena perbuatan Galang dan keluarganya. Laras, izinkan aku menjaga kalian berdua. Setelah kalian resmi bercerai, hiduplah bersamaku, Laras. Aku janji, aku pasti akan membahagiakan kalian berdua," bisik Nalendra di telinga Laras. Pria itu mendekap dua perempuan berbeda usia itu dalam pelukannya.
"Izinkan aku menjaga kalian berdua, izinkan aku menjadi ayahnya Ruby, Laras."
"Tuan-"
"Ini bukan di tempat kerja."
"Nalendra."
"Hmm."
"Apa maksud dari semua perkataanmu?"
"Tentu saja." Laras mendongak, menatap lelaki itu.
"Dasar bodoh! Tidak peka! Benar-benar menyebalkan!"
"Hah?"
Nalendra melepaskan pelukannya. Pria itu terlihat kesal.
Dasar perempuan tidak peka! Apa aku harus mengatakan padanya kalau aku mencintai dia, baru dia akan mengerti? Dasar menyebalkan!
Nalendra menatap Laras dengan kesal. Sementara, Laras justru merasa heran dengan sikap bos tampannya yang tiba-tiba terlihat marah padanya.
Memangnya aku salah apa? Kenapa dia terlihat begitu kesal padaku?
"Daddy ... perut Ruby lapar. Ruby ingin makan di sana!" Kedua bola mata bocah kecil itu berkilauan. Bulu matanya yang lentik bergerak-gerak. Ruby menunjuk ke salah satu bangunan yang terletak tidak begitu jauh dari taman itu.
__ADS_1
"Daddy?" Laras dan Nalendra berucap bersamaan. Mereka berdua saling berpandangan.
"Ruby manggil Om, Daddy?"
Ruby mengangguk dengan semangat. Namun detik berikutnya wajahnya langsung berubah sedih. Gadis kecil itu meremas kedua tangannya.
"Apa Om tidak suka kalau aku panggil, Daddy? Bukankah-"
"Sayang, tentu saja boleh. Om hanya merasa kaget dan tidak percaya." Nalendra mengangkat tubuh mungil Ruby kemudian menggendongnya.
Pria itu menghadiahi Ruby dengan ciuman di seluruh wajahnya.
Ruby tertawa, sementara Laras terpaku di tempatnya.
"Ayo panggil sekali lagi, Om mau dengar!"
"Daddy!"
"Lagi!"
"Daddy!"
"Sekali lagi!"
"Daddy!"
"Daddy!"
"Daddy!"
.
By: Nazwatalita
Duh! Si Ruby memang gemesyin yah! Bukannya manggil Papa, tapi malah manggil Daddy. Terkejut kan si Laras?ðŸ¤
__ADS_1