DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 104 RAHASIA


__ADS_3

Santi baru saja keluar dari penjara menemui suaminya. Rusdi akhirnya dipenjara karena kasus penculikan terhadap Ruby.


Rusdi tidak bisa mengelak karena seluruh bukti mengarah padanya. Berkat campur tangan Nalendra, pria itu akhirnya mendekam di penjara selama beberapa tahun.


Wajah Santi terlihat lesu. perempuan yang biasanya terlihat cantik dan berpenampilan mewah itu kini terlihat pucat dan tidak terurus.


Semenjak Rusdi dipenjara, Santi tidak punya lagi sesuatu yang bisa menghasilkan uang. Seluruh usaha yang dia bangun dari hasil uang Laras yang Rusdi ambil dari Galang, semuanya gulung tikar. Perempuan itu kini tidak punya apa-apa lagi.


Seluruh perhiasan dan juga barang-barang berharga yang dulu dibeli pakai uang Laras pun habis terjual, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama Rusdi di penjara.


Tidak ada lagi aliran dana dari Galang lewat rekening palsu atas nama Laras membuat kehidupan Santi berubah seratus delapan puluh derajat.


Mereka kini kembali miskin seperti saat sebelum mereka mendapatkan uang miliaran hasil keringat Galang untuk menghidupi Laras dan anaknya.


Kedua anak Santi yang terbiasa hidup mewah pun akhirnya kabur dari rumah karena tidak mau menerima kenyataan kalau orang tua mereka bangkrut dan sudah tidak mempunyai apa pun lagi. Rumah besar mereka pun akhirnya dijual oleh Santi.


Namun, lama kelamaan uang hasil penjualan rumah itu pun habis tak tersisa. Beruntung Santi membeli rumah kecil untuk tempat tinggalnya, kalau tidak, saat ini dia pasti sudah menjadi gelandangan karena sudah tidak mempunyai tempat tinggal.


Langkah Santi terlihat gontai, merenungi nasibnya yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Sebelum Rusdi menipu Galang, Santi memang sudah terbiasa hidup sederhana.


Namun, setelah suaminya itu bekerja sama membohongi Galang, kehidupan Santi berubah seperti Cinderella. Bertahun-tahun mereka hidup enak menggunakan uang yang seharusnya menjadi milik Laras.


Laras lagi, Laras lagi. Kenapa aku jadi terus mengingat perempuan itu?


Santi menghela napas kesal, saat bayangan Laras tiba-tiba muncul di kepalanya.


Seandainya saja perempuan itu tidak bekerja di rumah mertua Galang, semua ini pasti tidak akan terjadi. Galang pasti akan tetap mengirimkan uang itu ke rekening palsu Laras.


Santi mengepalkan tangannya. Menyalahkan Laras dengan semua yang terjadi padanya saat ini.


Gara-gara perempuan itu, aku kehilangan semua kemewahan yang aku miliki. Sialan, kau, Laras!

__ADS_1


Perempuan itu menghentikan langkahnya. Mencari nama Ningsih pada layar ponselnya, kemudian menelepon kakak iparnya itu.


"Halo, Mbak, besok aku ke Jakarta."


"Apa?"


"Aku butuh uang, Mbak. Aku sudah kehabisan uang. Harusnya Mbak Ningsih mengirimiku uang karena gara-gara Mbak Ningsih, Mas Rusdi masuk penjara.


"Kau masih menyalahkanku?" Suara Ningsih meninggi di seberang telepon.


"Tentu saja. Memangnya kalau bukan menyalahkan Mbak Ningsih, aku menyalahkan siapa lagi? 'Kan Mbak Ningsih yang menyuruh Mas Rusdi pulang ke kampung," ucap Santi dengan kesal.


"Kalau bukan karena perintah Mbak Ningsih, Mas Rusdi saat ini pasti masih baik-baik saja!" teriak Santi di ujung telepon.


"Apa yang dilakukan Rusdi itu bukan karena aku. Dia sendiri yang mempunyai ide untuk menculik Ruby, bukan aku!" Suara Ningsih tak kalah meninggi.


"Baiklah! Kalau begitu besok aku akan tetap ke Jakarta."


"Untuk apa kau ke Jakarta?"


"Jaga bicaramu, Santi, aku ini kakak iparmu!" peringat Ningsih kesal. Dia tidak menyangka kalau Santi yang tadinya sangat pendiam, berubah menjadi pembangkang seperti sekarang.


"Memangnya kenapa kalau kau kakak iparku?"


"Santi!" Ningsih kembali berteriak.


"Pokoknya aku mau minta uang! Kalau kau tidak memberikannya, jangan salahkan aku kalau aku membongkar semua rahasiamu pada Galang!"


"Rahasia apa yang kau maksud? Aku tidak punya rahasia apa pun!"


"Oh, ya? Apa kau lupa kakak ipar, kalau aku adalah saksi hidup yang mengetahui semua perbuatanmu di masa lalu?"

__ADS_1


"A-apa maksudmu?" Suara Ningsih terdengar gugup.


"Kau sangat tahu apa yang aku maksud, kakak ipar. Kau juga sangat tahu, apa akibatnya, seandainya aku membuka rahasia ini pada Galang."


"Santi! Berani-beraninya kau mengancamku!"


Santi menjauhkan ponselnya saat terdengar suara teriakan Ningsih di seberang telepon.


"Mbak Ningsih, aku kasih waktu satu jam untuk mengirimkan uang yang aku minta, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau aku memberitahukan semuanya pada Galang!"


"Sialan! Kau benar-benar perempuan tidak tahu diuntung!"


"Apa bedanya dengan dirimu, Mbak Ningsih?" Suara Santi terdengar keras. Namun, detik berikutnya, Santi tertawa terbahak-bahak.


"Apa kau lupa, siapa dirimu dan Mas Rusdi sebelum kalian bertemu dengan Bu Marni dan suaminya?"


"Santi!"


****


Laras menatap Nalendra yang terlihat serius mengerjakan pekerjaannya. Pria itu terlihat tampan dan gagah, juga penuh kharisma.


Sejenak perempuan itu menghela napas saat mengingat pernyataan cinta Nalendra beberapa hari kemarin.


"Kemarilah! Dari tadi kamu terus menatapku."


"Hah?" Bibir Laras terbuka karena kaget. Perempuan itu tidak menyangka kalau ternyata Nalendra menyadari sedari tadi dia sedang memperhatikannya.


"Jangan menggodaku, Laras. Apa kau tidak tahu kalau beberapa hari ini aku menahan diri untuk menciummu?"


.

__ADS_1


By: Nazwatalita


Baru sempet up. Gara-gara sakit gigi otor nggak nulis dari kemarin. Jangan lupa like, komen, hadiah, juga votenya ya. Biar makin semangat up-nya.


__ADS_2