DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 27 TENTANG GALANG


__ADS_3

"Hah?!"


"Dua puluh milyar?"


Laras menatap Galang tak percaya. Dua puluh milyar? Uang sebanyak itu yang Galang berikan untuknya? Bagi keluarga Chandra, uang segitu pasti tidak ada apa-apanya, tetapi, untuk orang orang kelas ke bawah seperti dia, tentu saja uang segitu adalah uang yang sangat banyak.


Pertanyaannya, siapa pemilik rekening yang mengatasnamakan dirinya?


"Aku mengirimkan semua uang hasil kerja kerasku selama aku kuliah dan setelah lulus kuliah. Aku bahkan menambahkan sepuluh kali lipat dari yang biasa aku kirim setelah usaha restoran yang aku rintis dari nol maju pesat."


"Restoran?"


Galang mengangguk sambil menatap Laras yang masih tampak terkejut.


"Aku mempunyai puluhan restoran yang tersebar di seluruh Ibukota. Bukan hanya di Ibukota, tetapi, juga sudah merambah di beberapa kota besar lainnya."


"Dari mana Mas Galang mendapatkan uang untuk buka usaha restoran itu? Kalau benar Mas Galang punya bisnis sendiri, kenapa Mas Galang mesti susah-susah kerja di kantor Tuan Chandra?" Laras menatap sang suami.


"Modal awal aku buka restoran, aku memakai sisa uang pemberian ibu dan uang gaji saat aku masih bekerja di tempat orang. Namun, setelah mengenal Nadine, perempuan itu membantuku memberikan modal. Dia sangat yakin kalau aku bisa sukses, dan ternyata ucapannya itu memang benar."


"Alasan kenapa aku mau bekerja di situ, karena sekarang aku adalah menantu Tuan Chandra."


"Nadine dan Nalendra adalah pewaris perusahaan besar CNI grup, karena Nadine lebih memilih butik daripada perusahaan, makanya aku harus berada di sana untuk menggantikan posisi Nadine."


Galang menatap istri pertamanya itu. Entah perasaan apa yang dia rasakan saat ini.


"Setelah beberapa restoranku maju pesat, aku mengembalikan semua uang Nadine. Meskipun dia menolak, aku tetap mengembalikannya.


"Aku ingin membalas jasa ibu, makanya setelah aku berhasil mendapatkan uang, aku mengirimkan uangku untukmu dan ibu."


Laras ternganga saat mendengar penjelasan Galang. Matanya melotot memandang sang suami. Dia mencoba menelisik tetapi sejauh ini dia bisa merasakan lelaki di hadapannya itu tidak sedang berbohong.


"Terus, kalau uang itu tidak sampai ke tanganku, lalu sampai ke tangan siapa?"

__ADS_1


Perempuan itu tiba-tiba saja gemetar. Dia tidak bisa membayangkan hasil kerja keras suaminya selama lima tahun terbuang begitu saja.


Siapa yang bermain di balik semua ini dan siapa yang memfitnah dirinya sebenarnya?


Ya, dia tahu ini ulah keluarga Galang, tapi siapa? Perempuan itu tak habis pikir.


Dia tidak tahu apa salahnya sehingga mereka demikian kejam padanya, bahkan ibu mertuanya sendiri tega menyuruh untuk menggugurkan hasil buah cintanya dengan Galang, putranya sendiri. Orang tua macam apa yang tega menyuruh menantunya membunuh cucunya sendiri?


Galang bangkit dari tempat duduknya tanpa berkata sepatah kata pun. Kali ini dia benar-benar merasa dipermainkan.


"Mas, aku benar-benar tidak pernah menerima uang itu sepeser pun. Seandainya aku menerima uang pemberianmu, aku pasti tidak akan susah-susah bekerja untuk menghidupiku dan keluargaku!"


Galang menatap Laras sebentar, sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar Laras. Pria itu sedang menahan amarahnya.


"Kurang ajar! Siapa yang berani mencuri uang hasil kerja kerasku selama ini?" Laki-laki itu mengepalkan tangan.


"Awas saja, kalau aku sudah mengetahui siapa yang sudah mengambil uangku, aku tidak akan memberikan ampun sedikitpun!" Amarahnya memuncak.


Lelaki itu terus melangkah mengendap-endap menuju kamarnya.


Sementara itu di ruang kerjanya, Nalendra tengah asyik dengan pekerjaannya.


Huffhtt


Malam sudah semakin larut, tetapi pekerjaannya belum juga selesai. Sebenarnya ia bisa saja menyuruh Laras untuk mengerjakan pekerjaan ini dengan memberikan uang lembur, tetapi ia tak tega. Sudah seharian perempuan itu sibuk berkutat di depan laptop dan mengatur seluruh kegiatannya.


Dia tidak mungkin memforsir Laras, karena dia tahu perempuan itu belum terlalu terbiasa dengan tugas-tugas kantor yang berjibun banyaknya, apalagi dia harus memanage semua kegiatannya di kantor.


Lagi-lagi laki-laki itu menguap. Kantuk sedang menyerangnya, tetapi dia mencoba untuk bertahan karena pekerjaannya belum selesai.


Tanpa menutup laptop, laki-laki itu berdiri dan bergegas keluar kamar. Tenggorokannya terasa kering. Nalendra mulai melangkah melewati beberapa ruangan menuju dapur.


"Tampaknya aku harus menempatkan dispenser di kamar kerjaku, agar waktu kerjaku tidak terganggu hanya untuk mengambil air minum." Dia bergumam sendiri.

__ADS_1


Padahal kalau mau, dia bisa saja menyuruh asisten rumah tangga untuk melayaninya. Namun, karena sudah larut malam, Nalendra merasa tidak tega.


"Itu, kan Galang?" Laki-laki itu menutup mulutnya, sembari menghentikan langkah. Dia bahkan bersembunyi di balik kursi makan.


"Mau apa dia malam-malam begini keluyuran di rumah? Bukankah seharusnya dia berada di kamar Nadine?"


Laki-laki itu memijat kepalanya. Dia baru beranjak dari tempat persembunyian tatkala bayangan lelaki itu sudah lenyap di balik pintu ruang keluarga, kemudian menaiki tangga menuju lantai atas, ke kamar istrinya.


Nalendra meneruskan langkah menuju dapur. Dia melirik ke sebuah kamar yang ditempati oleh Laras. Pintu kamar itu sedikit terbuka.


Laki-laki itu mengerutkan kening.


"Ada apa ini?" gumamnya.


"Bukankah malam sudah semakin larut dan seharusnya para pembantu sudah beristirahat? Kenapa Laras bisa demikian ceroboh sehingga tidak menutup pintunya dengan benar?"


Pertanyaan itu terus dia bawa sampai ke dapur. Dia mengambil sebuah gelas kemudian mengisinya dengan air putih.


Nalendra kembali ke kamarnya. Ekor matanya masih saja melirik pintu kamar yang masih saja dalam kondisi seperti yang pertama dilihatnya tadi, pintu kamar Laras yang tidak tertutup rapat.


'Dasar perempuan ceroboh! Bagaimana jika ada orang masuk dan menyelinap ke kamar itu?'


*


By: Jannah Zein


Sekarang sudah tahu, kan darimana Galang mendapatkan uang sebanyak itu?


Galang itu memang pekerja keras. Awalnya dia sangat mencintai Laras dan sangat menyayangi sang ibu mertua yang begitu baik, hingga rela menjual semua asetnya untuk biaya kuliahnya dan menjadi orang sukses.


Namun, Galang ternyata dikelilingi oleh orang-orang yang sangat licik, hingga membuat pribadi Galang yang awalnya baik berubah menjadi jahat.


Ikutin terus kelanjutannya ya teman-teman, jangan lupa like, komen, dan votenya 🙏🙏

__ADS_1


Mampir di karya temen aku yang lain yuk!



__ADS_2