DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 94 APA KAMU MASIH MENCINTAINYA?


__ADS_3

Laras dan keluarganya sampai di depan rumah bergaya minimalis modern. Perempuan itu sejenak menatap Nalendra, bermaksud ingin memrotes pria itu. Namun, Nalendra segera berpaling sambil mengangkat Ruby ke dalam gendongannya.


"Ayo kita masuk ke rumah baru kita," ucap Nalendra dengan senyum mengembang di bibirnya.


'Rumah baru kita? Apa maksudnya?'


Laras menatap Nalendra dengan tatapan tak terbaca. Melihat semua kebaikan pria itu membuat sudut hatinya yang paling dalam merasa tidak enak.


Pria itu bukan saja memberikan harapan pada Ruby dan juga ibunya, tetapi juga tanpa sadar memberikan harapan pada hatinya yang sedang berusaha menyembuhkan luka.


Pertemuannya dengan Galang sebelum sidang terakhir perceraian mereka, membuat hati dan pikirannya merasa lega.


Saling mengikhlaskan meskipun belum atau bahkan mungkin tidak akan bisa memaafkan.


Saat bertemu dengan pria itu dan meluapkan segala beban di hatinya, sekarang Laras merasa lega, meski luka itu masih menganga.


Kini, perempuan itu hanya fokus pada keluarganya. Pada Ruby, ibu, juga adiknya. Kalau pun suatu saat pria itu benar-benar menyukainya, Laras harus berpikir panjang untuk menerima pria itu.


Laras tersenyum sendiri.


'Kenapa aku berpikir sampai kesana?'


Kedua matanya menatap Nalendra yang kini sedang berperan sebagai ayah Ruby. Bibirnya mengulas senyum.


Mereka kini sudah berada dalam rumah. Bu Marni dan Annisa merasa takjub. Meskipun rumah itu tidak terlalu besar, tetapi sudah cukup mewah buat mereka. Ruby yang sedari tadi tertawa dalam gendongan Nalendra, kini memaksa turun saat mereka sampai di ruang keluarga.


Sebuah televisi besar dan hamparan karpet yang terasa lembut, menggoda bocah kecil itu. Ruby duduk di atas sofa berwarna merah menyala yang berada di ruangan itu. Kakinya berada di atas karpet yang begitu lembut menyapa kaki mungilnya.


Bocah kecil itu mengambil remot kemudian menyalakan televisi layar datar di depannya.


Ruby memang sangat suka menonton televisi. Dia tersenyum saat layar yang tadinya hitam itu berubah warna.


"Ruby senang?"

__ADS_1


"Sangat senang. Di kampung nggak ada yang besar. Tivinya kecil." Ruby tersenyum. Kedua bola matanya berbinar. Apalagi, saat dia melihat film kartun kesukaannya muncul di sana.


Laras lagi-lagi menatap interaksi antara Nalendra dan Ruby. Tiba-tiba ia teringat pada Galang. Pria itu ingin sekali menemui Ruby saat itu, tetapi Laras dengan tegas melarangnya. Tak ingin kembali bersikap egois, Galang akhirnya menuruti Laras. Pria itu hanya memandang Ruby dari dalam mobilnya.


***


"Besok kita mulai kerja lagi. Apa kamu siap?"


"Siap, Bos!" Laras meletakkan tangannya dengan posisi hormat, membuat Nalendra tersenyum kemudian mengacak rambutnya.


Saat ini mereka berdua sedang berada di taman kecil di samping rumah yang baru ditempati Laras beberapa jam yang lalu.


Sejenak mereka terdiam. Hembusan angin malam menerpa wajah mereka berdua.


"Apa kau masih mencintainya?" Pertanyaan Nalendra membuat Laras langsung menoleh ke arah pria itu.


"Aku tahu kalau kalian berdua bertemu sebelum kalian resmi bercerai." Laras menatap Nalendra sambil tersenyum tipis.


"Tidak. Hanya tidak sengaja melihat."


"Tidak sengaja melihat?" Laras menatap pria di depannya itu.


"Aku berada di tempat itu sebelum kalian datang. Aku tanpa sengaja melihat semuanya."


"Ale ...."


"Apa kamu masih mencintainya?" ulang Nalendra seolah sedang menyakinkan diri sendiri.


Laras menghela napas panjang.


Pandangannya beralih menatap warna-warni tanaman hias di depannya. Terdengar gemericik air dari kolam kecil yang terletak tak jauh di samping mereka.


"Tidak penting apakah aku masih mencintainya atau tidak, karena biar bagaimanapun, semuanya sudah berakhir."

__ADS_1


"Kisahku dengan dia sudah menjadi kenangan yang paling menyakitkan dalam hidupku."


"Dia pria pertama yang hadir dalam hidupku. Dia adalah cinta pertamaku. Awalnya tidak mudah bagiku untuk melepaskan nya. Namun, seiring berjalannya waktu, aku yakin sedikit demi sedikit aku bisa melupakannya.


Nalendra menatap perempuan di depannya dengan tatapan tak terbaca. Bayangan Laras berpelukan dengan Galang saat itu, membuat sudut hatinya bergemuruh menahan cemburu.


Waktu itu dia memang sengaja membuntuti Laras yang hendak pergi sendirian dari rumah. Merasa penasaran, Nalendra kemudian mengikuti perempuan yang diam-diam dicintainya itu.


Namun, detik berikutnya dia sangat menyesal telah mengikuti Laras. Pria itu tidak menyangka kalau ternyata Laras menemui Galang.


Nalendra memang sudah tahu kalau Galang pulang kampung. Hanya saja, dia tidak percaya kalau Laras ternyata ingin menemui Galang.


"Laras, apa kamu masih mencintainya?" Laras melirik sebal ke arah pria di sampingnya.


"Aku butuh jawaban bukan lirikan."


"Aku sudah menjawab pertanyaanmu dari tadi."


"Aku ingin jawaban yang jelas."


"Semuanya sudah jelas. Kalau kamu berada di posisiku, apa kamu akan terus mencintai seseorang yang telah bertahun-tahun menyakitimu?"


.


By: Nazwatalita


Maaf dari kemarin telat updatenya. Sibuk banget di dunia nyata 🙏


Ikuti terus kelanjutannya ya, teman-teman. Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya ....


Mampir juga di karya temanku ini yuk! Karya Kak Morata.


__ADS_1


__ADS_2