
Galang menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang. Di sampingnya, Nadine baru saja tertidur, setelah percintaan panas mereka.
Galang meraih ponselnya, membuka galeri. Mencari-cari foto yang dikirim keluarganya di kampung. Galang mencari foto itu diantara foto-foto bulan madunya bersama Nadine.
Terlihat foto anak kecil berusia sekitar empat tahunan di sana. Foto itu adalah foto yang dia minta dari paman dan bibinya yang kebetulan masih berada di kampung.
Semenjak Galang sukses di Jakarta, dia memboyong semua keluarganya ke Jakarta. Sementara di kampung hanya tinggal paman di dan bibinya saja.
Galang memperhatikan wajah anak itu.
'Anak ini yang kamu bilang anak kita, Laras?'
Galang mengusap wajah anak kecil itu pada layar ponselnya. Dia perbesar, hingga wajah anak itu tampak jelas.
'Wajahnya bahkan tak ada mirip-miripnya sama sekali denganku.'
'Benar kata paman, wajahnya sangat mirip dengan Andika.'
Galang mengeraskan rahangnya.
Sebelum sang paman mengirimkan foto itu, dia terlebih dahulu menceritakan tentang Andika, pria yang dari dulu sangat menyukai Laras. Paman mengatakan, kalau dia sudah beberapa kali melihat Laras bersama pria itu.
"Mereka sering bertemu, Lang. Paman dan bibimu sudah beberapa kali sering melihat mereka jalan berdua." Suara pamannya beberapa saat yang lalu, saat Galang menyuruh mereka untuk mengirimkan foto anaknya Laras.
"Bibimu bahkan sudah beberapa kali melihat mereka pergi ke hotel." Suara di seberang sana membuat amarah Galang kembali memuncak. Pria itu mengepalkan tangannya.
"Makanya, kamu lihat sendiri, kan, foto anak itu nggak ada mirip-miripnya sama kamu."
"Apa Laras masih bekerja di sana? Kalau benar perempuan itu masih bekerja di sana, kamu harus segera mengusirnya dari rumah itu, Galang. Perempuan itu akan sangat membahayakan dirimu," peringat sang paman.
Sementara Galang hanya terdiam, saat pamannya itu bercerita di seberang telepon.
"Kamu awasi terus perempuan itu, Galang. Jangan sampai dia membahayakan dirimu di rumah itu."
Galang masih terus mendengarkan ucapan pamannya di seberang telepon. Kedua tangannya terkepal menahan amarah.
"Aku sudah mengirimkan beberapa foto anak itu. Jangan lupa kamu hapus setelah kamu melihat foto itu, Galang. Jangan sampai kamu ketahuan sama istrimu."
__ADS_1
Sang paman mematikan ponselnya, sementara Galang mengeraskan rahangnya penuh kemarahan. Saat itu, Galang sedang berada di kantor. Di dalam ruangannya.
Galang masih memperhatikan foto itu, kemudian sesuai perintah pamannya, dia langsung menghapus foto-foto itu dari galerinya.
"Kamu belum tidur, Sayang ...." Suara serak Nadine mengagetkannya. Perempuan itu tiba-tiba sudah merebahkan kepala di bahunya.
'Untung saja aku sudah menghapus foto-foto itu. Kalau tidak ....'
"Lagi lihatin apa sih, serius banget?"
"Lagi lihatin foto-foto bulan madu kita." Galang menunjukkan ponsel itu pada Nadine.
"Kenapa bangun lagi?"
Galang mengusap kepala istrinya. Bibirnya maju menghadiahkan sebuah ciuman di pipi istrinya.
"Aku lihat kamu belum tidur. Makanya aku bangun." Nadine mengerucutkan bibirnya. Membuat Galang tersenyum, kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Ya sudah, ayo kita tidur lagi." Galang merebahkan kepalanya di atas bantal.
"Tapi aku tidak bisa tidur lagi." Nadine berniat bangun dari tidurnya, dia tidak menyadari kalau selimut yang dipakainya merosot, hingga aset berharganya yang belum dia tutup seusai percintaannya terpampang jelas di mata Galang.
"Kita main lagi, Sayang ...."
*****
Nalendra memperhatikan Laras yang terlihat kelelahan. Hari sudah menunjukan pukul delapan malam. Saat ini mereka masih di kantor, karena masih banyak pekerjaan yang belum selesai.
Perempuan itu sangat cekatan, dalam waktu kurang tiga bulan, Laras sudah mulai menguasai tugas-tugas yang diberikan olehnya.
Entah mengapa, sejak pertemuannya dengan Laras, pria itu merasa ada yang aneh dengan perasaannya.
Pria dingin itu merasa ada sesuatu yang mengusik hatinya. Sesuatu yang dia sendiri tidak bisa mengartikannya.
"Laras."
"Iya, Tuan."
__ADS_1
"Ayo kita pulang!"
"Pulang? Tapi kerjaan saya belum selesai, Tuan." Laras menatap Nalendra dengan bingung.
Biasanya, dia tidak boleh pulang sebelum pekerjaannya selesai.
"Besok saja kita selesaikan." Nalendra beranjak dari kursi kebesarannya.
"Ta-tapi, Tuan ...."
"Jangan membantah!" Nalendra menatap tajam ke arah Laras.
Perempuan itu menghembuskan napas pelan. Tak ingin berdebat dengan bos arogannya itu. Dia sudah cukup lelah hari ini.
"Baiklah! Kita pulang sekarang." Laras membereskan semua berkas di mejanya. Padahal dia belum selesai mengerjakannya.
Bosnya ini sungguh aneh!
Setelah selesai membereskan mejanya, Laras meraih tasnya. Sementara Nalendra sudah berada di depan pintu menunggunya.
Laras bergegas karena tidak ingin membuat bosnya marah. Perempuan itu berjalan tertunduk sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas, karena terburu-buru, Laras tak sengaja menabrak Nalendra yang juga sedang menoleh ke arahnya.
Nalendra kesal karena perempuan itu terlalu lama membereskan pekerjaannya. Namun, saat dia ingin memarahinya, tiba-tiba perempuan itu sudah ada di belakangnya dan tak sengaja menabraknya.
Nalendra meraih pinggang Laras saat perempuan itu hampir saja terjatuh saat menabrak dirinya. Sementara, kedua tangan Laras tanpa sengaja mencengkeram kemeja bosnya itu.
Sejenak kedua mata mereka bertemu. Nalendra, pria itu, menatap Laras dengan tatapan tak terbaca. Kedua matanya fokus pada bibir seksi Laras yang terbuka, sementara jantungnya seolah memompa lebih cepat dari biasanya. Dadanya berdebar-debar ....
By: Nazwatalita
Maaf teman-teman, baru bisa sempat up hari ini. Seharian sibuk sekali.
Tetap ikutin ceritanya, ya, jangan lupa dukung Authornya dengan cara like, komen dan hadiahnya. Vote juga boleh banget ....
Sambil nunggu up, kalian boleh kepoin karya temanku yang satu ini.
__ADS_1