
"Apa perlu aku memanggil dokter untuk mengobati lukamu itu?"
Suara menyebalkan dari pria gila
yang kini berstatus sebagai bosnya itu menyapu Indera pendengarannya.
Laras menatap pria itu dengan aura permusuhan.
'Kenapa aku harus bertemu dan berurusan dengan pria gila dan menyebalkan seperti dia?'
"Bagaimana? Mau tidak?" Nalendra menatap Laras sambil tersenyum mengejek.
"Tidak perlu!" ketus Laras. "Buat apa kamu memanggil dokter, sementara bibirmu tersenyum puas mengejekku."
"Oh, ya?" Laki-laki itu duduk santai di kursi kebesarannya.
"Serius kamu tidak perlu ke dokter? Nanti kaki cantikmu itu bisa jelek, loh! Kamu lihat kakimu, pada lecet-lecet kan?"
"Biarkan saja! Kaki ini adalah kakiku, bukan kakimu. Ngapain kamu sok peduli sama aku?" jeritnya. Dia benar-benar kesal dengan bos arogannya ini.
"Toh, kamu yang sengaja memberikanku sepatu seperti ini untuk menyiksaku!" Laras menyingkirkan sepasang sepatu sialan itu ke sudut ruangan. Dia memilih berjalan tanpa alas apapun.
"Hei, kamu mau kemana?"
Laras berdecak sebal.
"Membuat kopi untukmu, Tuan. Memangnya kamu lupa daftar pekerjaanku sebagai asisten kamu? Bukankah kamu sendiri yang membuat list nya?"
Perempuan itu bergegas keluar dari ruangan yang tiba-tiba saja berubah menjadi pengap, meski AC di ruangan itu menyala dengan benar.
Membuat kopi hanya sekedar alasannya, karena ia ingin rehat sejenak dari hadapan Nalendra. Tuan mudanya itu selalu mengganggunya, sejak mereka bertemu sampai sekarang.
"Pria itu benar-benar menyusahkan," keluh Laras dalam hati.
Laras tidak perduli dengan pandangan orang-orang yang kebetulan berselisih dengannya, melihatnya berkeliaran di kantor ini dengan kaki telanjang.
Setelah bertanya kepada seorang karyawan yang kebetulan ditemuinya di sebuah lorong, Laras berhasil menemukan pantry.
Pandangannya mengitari seisi ruangan. Ruangan yang cukup luas dengan kitchen set dan kulkas di sampingnya. Alat-alat dapur pun tersedia cukup lengkap, seperti di dapur rumah saja layaknya.
Laras mulai mencari-cari kopi dan gula, sementara air panas sudah tersedia di dispenser.
Dia mulai menuang kopi dan gula ke dalam gelas. Laras hanya memakai perasaan. Dia tidak tahu seperti apa kopi yang dikehendaki oleh Nalendra.
"Ah, masa bodoh lah, yang penting sudah aku buatkan," gumam Laras dalam hati.
Dia mulai menyeduh kopi dengan hati-hati. Suara denting sendok terdengar seperti musik yang menghiasi ruangan itu.
Tak sampai lima menit, dia sudah selesai membuat kopi. Laras meletakkannya di nampan, lantas bergegas keluar dari ruangan itu dan kembali menuju ruang kerja Nalendra.
Sembari berjalan, dia berusaha menghafal ruangan yang sudah ia lewati agar tidak kesasar, mengingat gedung ini sangat besar dan mempekerjakan ratusan karyawan. Ini adalah gedung pusat CNI Grup.
*****
Laras sudah sampai ke depan ruangan kerja Nalendra. Dia mengerutkan kening saat mendapati pintu yang terbuka.
"Mas Galang ...." Bibirnya bergetar, meskipun tak terdengar sepatah katapun.
Sosok laki-laki yang tak ingin dilihatnya kini muncul di hadapannya dengan wanita cantik yang merangkul lelaki itu dengan mesra. Mereka tengah duduk santai di sofa.
__ADS_1
Jantungnya berdegup lebih kencang dan saking kagetnya, membuat nampan yang di dipegangnya hampir jatuh.
"Taruh di sini, Laras." Nalendra menunjuk ujung meja kerjanya.
"Iya, Tuan. Dia meletakkan kopi itu dengan hati-hati.
"Apa ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Laras dengan sopan.
"Duduklah di sini, Laras." Nalendra mendadak berdiri. Dia memberi isyarat kepada wanita itu untuk duduk di kursi kebesarannya.
"Tetapi, Tuan ...." Laras akan membantah, tetapi urung saat melihat sorot mata Nalendra yang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
'Apa-apaan dia ini? Kenapa dia menyuruhku duduk di sana?'
"Tidak apa-apa, duduk saja," tegasnya, saat melihat Laras tampak ragu-ragu.
Untuk pertama kalinya, Laras merasakan duduk di kursi empuk itu. Kursi kebesaran seorang Nalendra Chandra, seorang CEO sekaligus pewaris CNI group.
Nalendra membuka sebuah lemari dan mengambil kotak obat.
"Kakimu itu harus segera di obati, Laras. Takutnya lama-lama akan infeksi," ujar Nalendra sembari mencari-cari sesuatu yang bisa dipakai untuk mengobati kaki wanita itu.
Laras terperangah kaget mendengar ucapan pria itu.
'Apa aku tidak salah dengar?'
"Kenapa kaki Laras, Ale?" tanya Nadine melihat saudara kembarnya itu mengeluarkan sebotol kecil salep dari kotak obat.
"Kaki Laras lecet, Nad, dia tidak terbiasa memakai sepatu." Laki-laki itu melempar senyum.
"Oh, ya?" Nadine bangkit berdiri. Ia mendekati Laras dan Nalendra. Dia mengamati kaki perempuan muda itu.
Laras semakin terkejut sambil tersenyum canggung mendengar ucapan Nadine, perempuan itu bahkan tampak berlebihan menanggapi luka di kakinya, padahal kakinya hanya luka lecet biasa.
Merasa tidak enak, Laras menarik kedua kakinya saat Nalendra ingin memeriksa lukanya.
"Ja-jangan, Tuan. Biar saya saja."
"Diam!"
"Ta-tapi, Tuan ...."
"Bisa diam tidak?" Nalendra menatap perempuan itu dengan kesal.
Laras akhirnya menurut. Dalam hati, dia sungguh merasa tidak enak melihat pria itu menyentuh kakinya. Apalagi, kakinya kotor karena tadi ia berjalan tanpa alas kaki. Bagaimanapun, pria gila ini adalah bosnya.
"Sebenarnya tadi aku ingin memanggil dokter, cuma dia tidak mau," Nalendra membela dirinya.
Laki-laki itu mulai mengoleskan benda serupa gel itu di jemari kaki Laras.
Laras meringis saat jari tangan Nalendra mulai bersentuhan dengan kakinya.
"Tahan sedikit ya, ini hanya sebentar kok. Kalau tidak diobati bisa bahaya loh. Kamu tadi dengar, kan kata-kata Nadine," bujuk Nalendra. Suaranya berubah menjadi lembut.
"Iya, Tuan." Perempuan itu mengangguk. Menatap tak percaya pada pria ini. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ternyata pria ini mempunyai sisi kebaikan juga.
Nadine mengamati penampilan Laras. Dia baru menyadari kalau perempuan muda yang selama ini menjadi asisten rumah tangganya itu telah berubah menjadi seorang wanita cantik.
"Ale, kamu yang merubah penampilan Laras?" Perempuan itu berdecak kagum.
__ADS_1
"Iyalah, emang siapa lagi?" jawabnya sombong sambil melirik Laras yang meringis kesakitan saat ia mengoleskan obat pada kakinya.
"Kamu terlihat lebih cantik, Laras," puji Nadine. "Aku tidak menyangka."
"Terima kasih, Nona."
"Tuan muda yang membelikan baju dan sepatu itu." Laras menunjuk sepatunya. "Tapi saya hanya orang kampung. Setelah memakai sepatu itu, kaki saya lecet lecet."
"Tidak apa-apa, Laras. Nanti juga kamu terbiasa. Saya suka penampilan kamu yang seperti ini," hibur Nadine.
*****
"Kurang ajar! Dasar perempuan murahan. Begitu mudah kamu mau disentuh oleh laki-laki, Laras!" Galang merutuk dalam hati saat menyaksikan ketiga orang itu tengah asyik berbincang.
Tangan Nalendra begitu terampil mengoleskan salep di kaki Laras yang terluka. Dia mengusap rambut wanita itu setelah semuanya selesai.
'Perempuan macam apa kamu, Laras? Pantas saja semua keluargaku membencimu. Di hadapanku saja, kamu membiarkan laki-laki lain menyentuh bagian tubuhmu, apalagi di belakangku?'
"Sayang," panggil Galang.
"Iya, Mas." Perempuan itu melenggang manis, kembali ke tempat duduknya semula di samping Galang.
Laras melirik dengan ekor matanya. Mendengar Galang memanggil Sayang pada Nona mudanya, membuat jantungnya serasa diremas-remas. Bagaimanapun, Galang ada suaminya. Suami yang sangat dicintainya. Bohong! Jika dia tidak merasa cemburu saat pria itu memeluk istri barunya.
Galang merangkul wanita cantik itu dan di balas Nadine dengan mengecup tangan kanan suaminya.
"Kamu mau bulan madu ke mana, Sayang?" tanyanya. Sudut matanya melirik Laras yang masih duduk di kursi kebesaran milik Nalendra.
"Bulan madu?" Mata Nadine sontak berbinar. Dia teringat peristiwa tadi malam, saat mereka gagal menyatukan cinta.
"Jangan-jangan Mas Galang memang ingin suasana yang lebih spesial." Nadine bergumam dalam hati.
"Terserah kamu saja. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi." Nadine berujar manja.
"Huu ... Dasar bucin akut!" ejek saudara kembarnya.
"Bucinnya sama suami sendiri ini, bukan suami orang. Emang masalah buat kamu?"
Laras menatap ke arah mereka berdua saat mendengar ucapan Nona mudanya.
'Seandainya saja Nona tahu, kalau dia juga suamiku.'
"Masalah dong! Karena aku di tugaskan untuk mengajari suami tercintamu ini segala hal yang menyangkut perusahaan."
"Yaah ..." keluh Nadine. "Nggak jadi bulan madu dong?" Perempuan itu menatap Nalendra dengan kesal.
Galang menanggapinya dengan senyum. "Tidak apa-apa, Sayang. Bulan madu, kan bisa kapan saja. Tidak mesti setelah menikah." Galang meralat ucapannya, padahal dia sendiri yang tadi mengajak Nadine.
"Ale!" jerit Nadine.
Nalendra ketawa terpingkal-pingkal mendapati kekesalan saudara kembarnya.
"Baiklah, aku ijinkan kalian berbulan madu dulu. Menginaplah tiga hari di villa baruku. Suasana di sana masih alami, sejuk, jauh dari hingar bingar kota. Aku yakin kalian pasti betah."
.
By. Jannah Zein.
Jangan lupa like, komentar, dan votenya ya Kakak-kakak 🙏🙏
__ADS_1