DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 89 TINGKAH RUBY


__ADS_3

Lagi-lagi gadis kecilnya itu berulah. Ruby begitu takjub dengan aneka macam hidangan yang tersaji di atas meja. Sejak kecil hidup apa adanya membuat gadis kecil itu tidak pernah merasakan makan enak kecuali beberapa bulan terakhir ini setelah Nalendra dekat dengannya.


"Ruby suka?" Nalendra melihat binar bahagia di wajah mungil itu.


"Iya, Daddy. Ruby senang sekali. Nanti di Jakarta kita makan yang seperti ini lagi ya?" pintanya polos.


"Ya, tentu saja, Ruby. Setiap hari pun boleh, asalkan Daddy sama Mama punya waktu luang," jawab Nalendra.


"Oh gitu ya? Memangnya kerjaan Daddy banyak ya?" Pertanyaan polos itu kembali membuat Laras mengelus kepala putrinya.


"Banyak sekali, Ruby. Daddy kan pimpinan perusahaan, jadi pasti kerjaannya sangat banyak," jawab Laras.


"Pimpinan perusahaan itu apa sih, Ma?"


Laras langsung tepok jidat. Pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Matanya melirik Nalendra.


"Di kelas Ruby kan ada yang namanya ketua kelas. Dia yang memimpin teman-temannya satu kelas. Nah, begitu juga dengan kantor Daddy yang jadi ketuanya," jelas Nalendra.


"Berarti Daddy hebat dong. Paling hebat di antara teman-teman Daddy?" ujar Ruby.


"Ruby juga hebat. Daddy doakan semoga kelak Ruby menjadi orang sukses." Lelaki itu tersenyum senang.

__ADS_1


"Kalau sukses, berarti bisa beli pesawat ya, Dad?"


"Iya," sahut Nalendra. Dia benar-benar tak tahan untuk tidak mencubit hidung mungil itu. Tingkah laku Ruby benar-benar menggemaskan.


Laras sebenarnya sangat ingin tertawa, tapi ia tahan. Dia tak mau lantas membuat gadis kecilnya merajuk dengan pertanyaannya yang terkesan absurd.


"Kalau pekerjaan Mama apa?" tanya Ruby.


"Mama membantu pekerjaan Daddy biar pekerjaan jadi lebih ringan," jawab Laras terbata-bata.


"Oh, begitu ya, Ma?"


Laras merasa bangga, gadis kecilnya sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas. Dari gurunya di sekolah, Laras memperoleh informasi kalau Ruby memang sangat menonjol.


"Anak ini harus mendapatkan pendidikan yang terbaik," tekad Laras. "Dan aku sudah memulainya dari sekarang, saat memutuskan untuk bekerja di ibukota."


Mereka menikmati makan siang dengan lahap. Ruby yang manja terkadang minta disuapi oleh Laras dan juga nalendra. Melihat itu, senyum Laras begitu merekah. Nalendra benar-benar menggantikan peran Ayah yang tidak pernah diberikan oleh Galang ayah kandung Ruby.


"Terima kasih, Ale," ucap Laras dalam hati penuh syukur.


Usai makan siang, mereka segera pulang ke rumah. Ruby yang kelelahan akhirnya tidur di pangkuan Laras, membuat Laras harus menggendong tubuh mungil itu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Aku langsung pulang ke rumah ya, Laras. Mau langsung lanjut kerja," ucap Nalendra saat perempuan itu muncul kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan putrinya.


Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya Nalendra memutuskan untuk tinggal di rumah yang berlainan. Dia tidak mau satu rumah dengan Laras. Di samping untuk kenyamanan perempuan itu dan keluarganya, dia juga tidak mau membuat dirinya tersiksa sendiri, karena harus menahan diri dari pesona wanita itu. Berdekatan dengan Laras membuat gairahnya selalu bangkit dan itu sangat berbahaya untuk mereka berdua.


"Ya, Ale. Terima kasih banyak ya."


"Sama-sama. Oh, ya, besok kamu segera urus surat pindah Ruby, biar sorenya kita bisa langsung balik ke Jakarta," ucapnya.


"Pasti akan kulakukan." Laras tersenyum manis. "Syukurlah semua berjalan dengan lancar."


Tangan pria itu terulur menepuk pundak wanitanya. "Percayalah, aku akan selalu ada untukmu. Aku pamit ya. Sampai ketemu besok.


Laras melepas Nalendra sampai ke halaman rumah. Ada perasaan lega di hatinya saat semuanya berjalan lancar. Nalendra melambaikan tangan sesaat sebelum mobilnya berlalu dari tempat itu.


Laras kembali masuk ke dalam rumah. Dia melihat ibunya tengah duduk di sofa.


"Nalendra sudah pulang, Nak?" tegur ibunya.


.


By: Jannah Zein

__ADS_1


__ADS_2