DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 138 MAKAN MALAM


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan sang mommy, Nalendra dan Laras kembali ke kamar Nadine. Annisa dan Ruby masih asyik mengobrol dengan Nadine. Ruby bahkan berani menyentuh pipi dan hidung mungil baby Aurell, adik kecilnya, yang ditanggapi dengan senyum oleh Nadine. Perempuan muda itu sesekali mengusap kepala Ruby.


"Ruby," panggil Nalendra, begitu dia sampai di depan pintu.


"Iya, Daddy." Gadis kecil itu kembali turun dari pembaringan.


"Kamu senang nggak main sama adik bayi?"


"Senang sekali, Daddy. Aku senang punya adik bayi," jawabnya polos.


"Anak pintar!" Nalendra merendahkan badan, mengecup pucuk kepala gadis mungil itu, membawanya ke dalam pelukannya.


"Ruby, mama Laras dan tante Annisa istirahat dulu di kamar Daddy ya. Nanti sore kita jemput nenek. Oma mengundang nenek untuk makan malam di rumah ini," beritahu Nalendra.


"Benarkah?" Gadis kecil itu melonjak senang. "Nenek akan kemari?"


"Iya, Nenek akan kemari dan kita yang menjemputnya. Ruby senang nggak?"


"Asyik .... Aku senang banget, Daddy."


"Nah, kalau begitu Ruby istirahat dulu ya, sama mama. Sekalian ajak tante Annisa juga.


Nalendra mengedipkan sebelah matanya kepada Laras yang disambut dengan anggukan kepala wanita itu.


"Yuk, mari kita ke kamar Daddy. Ruby belum pernah, kan main ke kamar Daddy. Kamarnya luas dan bagus lo," ajak Laras.


"Ayo, Ma. Aku mau ke kamar Daddy." Ruby menarik tangan ibunya yang ditanggapi geleng kepala oleh Nadine. Perempuan muda yang tengah memangku baby Aurell itu kembali tersenyum.


Nalendra hanya menghela napas menatap saudari kembarnya. "Kamu sungguh tidak apa-apa, Nadine, dengan kehadiran Ruby di rumah ini?"


"Tidak masalah, Ale. Anak itu terlihat baik, manja, tetapi tidak menyusahkan...."

__ADS_1


"Bukan itu maksudku, Nadine," potong Nalendra. "Tapi masalahnya Ruby itu anak Galang."


"Iya, aku tahu. Bapaknya memang sudah melukaiku, tetapi bukan berarti kita harus membenci anaknya juga. Bagaimanapun Ruby adalah kakak dari baby Aurell, putriku." Nadine menatap wajah putrinya sekilas. Wajah baby Aurell terlihat semakin mirip dengan Galang.


"Kamu yang sabar ya, Nadine."


"Ini sudah takdirku, Ale. Kita tidak bisa menyesalinya," ujar Nadine


"Nadine." Mata lelaki itu menatap saudari kembarnya dengan lembut. "Mommy sudah menyetujui hubunganku dengan Laras, tetapi ada satu syarat yang harus kita penuhi ...."


"Kita? Maksudmu?" tanya Nadine.


"Menurut Mommy, hanya ada satu orang yang boleh masuk ke dalam keluarga kita, antara Galang dan Laras. Jika aku tetap berkeras untuk menikahi Laras, berarti Galang tidak akan bisa kembali lagi kepadamu, Nadine." Susah payah Nalendra mengucapkan hal itu. Dia menelan ludahnya, berusaha membasahi tenggorokannya yang kering.


"Iya, aku mengerti maksud Mommy. Memang sudah seharusnya begitu," ujar Nadine. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sendu.


"Kamu masih mencintai laki-laki itu, Nadine?" tanya Nalendra melihat perubahan wajah saudari kembarnya.


"Maafkan aku, Nadine." Hati Nalendra seperti disayat. "Aku tidak tahu bagaimana caranya membuatmu kembali bahagia. Aku minta maaf. Mungkin aku terlalu egois karena mementingkan kebahagiaanku sendiri."


"Aku tidak mau kita semua bersedih. Harus ada salah satu diantara kita yang berbahagia. Menikahlah dengan Laras. Soal Galang, aku sudah memutuskan untuk tidak lagi kembali kepadanya."


"Tapi kamu masih mencintainya Nadine?" keluh Nalendra.


Nadine meraih tangan besar itu, menciumnya dengan lembut


"Waktu yang akan bisa mengikis perasaan itu, Ale. Bagaimanapun, harus ada yang berkorban diantara kita."


*****


"Saya merasa sangat terhormat karena Tuan dan Nyonya mengundang saya untuk makan malam di rumah ini," ujar ibu Marni. Perempuan tua itu terlihat kikuk berada di sebuah ruangan mewah, berhadapan dengan anggota keluarga Chandra yang terkenal itu.

__ADS_1


"Kami yang merasa terhormat, Ibu Marni. Seharusnya kami lah yang datang ke rumah Ibu Marni, bukan ibu Marni yang datang kemari," ujar Tuan Chandra ramah.


"Terima kasih, Tuan. Saya sangat senang dengan undangan makan malam ini."


Perempuan tua itu berdecak kagum dengan aneka hidangan yang sudah tersaji di meja makan yang besar ini.


Dia sendiri bingung, makanan yang tersaji di meja makan sangat banyak. Sementara yang ada di ruangan ini hanya beberapa orang, tuan Chandra, nyonya Aline, Nalendra, Nadine, Laras, Annisa, Ruby dan dirinya sendiri.


"Saya minta maaf, kalau undangan ini terasa begitu tiba-tiba dan mengejutkan bagi ibu Marmi. Tetapi saya merasa pembicaraan malam ini penting, karena bagaimanapun niat baik itu harus disegerakan."


Perempuan tua itu hanya mengangguk. Dia sudah tahu arah bicara lawan bicaranya ini.


Seperti yang kita ketahui bersama hubungan anak-anak kita sudah sangat dekat. Nalendra dan Laras. Sejak Laras masih tinggal di sini, kemudian akhirnya Laras kembali ke rumah ibu."


"Di kantor pun mereka bekerja satu ruangan. Bahkan menurut orang-orang saya, Nalendra dan Laras sering menghabiskan waktu bersama di apartemen Nalendra."


"Sebagai seorang ibu, saya merasa tidak nyaman. Saya tidak mau kebobolan punya cucu baru."


"Kami tidak sejauh itu, Mom!" protes laki-laki itu.


Perempuan setengah baya itu tertawa kecil. "Mommy percaya dengan Laras, tetapi tidak denganmu, Ale."


"Saya sangat memahami dengan apa yang Nyonya rasakan. Saya pun terlebih khawatir, apalagi Laras adalah anak perempuan saya," sahut ibu Marni berusaha menengahi perdebatan ibu dan anak itu.


"Malam ini, dengan segala kerendahan hati kami sekeluarga melamar Laras untuk Nalendra."


"Maaf Bu jika ini terasa begitu dadakan dan kami tidak memiliki persiapan apapun. Ini hanya sekedar lamaran biasa. Nanti lamaran resminya akan kita laksanakan dan kita atur waktunya. Anggap saja malam ini adalah pertemuan keluarga untuk membicarakan kelanjutan hubungan antara Nalendra dengan Laras.


.


By: Jannah Zein

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, hadish dan votenya ya 🙏


__ADS_2