
Perempuan itu berusaha untuk terus melangkah sembari memegangi kepalanya. Dunianya seakan berputar. Benda-benda di sekitarnya terlihat seperti siluet warna, tak jelas di pelupuk matanya. Sementara perutnya terus bergejolak, mual, serasa mau muntah.
"Ale ...," ucapnya lemah, sebelum akhirnya tubuhnya limbung tepat di depan pintu. Nadine terkapar di lantai.
"Nadine!" Nalendra berlari menghambur ke depan pintu.
"Nadine, kamu kenapa?" Lelaki itu berteriak panik.
"Laras! Kemari cepat!"
Melihat kejadian itu, Laras menaruh tas kerja mereka berdua di sofa, kemudian berlari kecil menyusul Nalendra yang sudah membopong Nadine menuju tangga.
"Laras, cepat telepon Dokter Citra! Suruh kemari!" perintah Nalendra.
"Baik, Tuan." Baru kali ini dia melihat Nalendra sangat panik. Sisi lain Nalendra yang sangat menyayangi kembarannya. Dia mengambil ponselnya dengan gemetar, lalu mendial nomor Dokter Citra, dokter keluarga Chandra.
Seketika itu juga panggilan langsung tersambung. Laras berbicara sebentar kemudian segera menutup telepon.
"Saya akan turun ke bawah, memberitahu Nyonya Aline, kemudian membuatkan teh hangat untuk Nona Nadine." Laras mengambil inisiatif.
"Baiklah, lakukan sebisamu. Aku tunggu di sini," ujar Nalendra.
Perempuan itu bangkit, melangkah keluar dari kamar itu, terus menuju tangga. Sembari menapaki anak-anak tangga, dia terus berpikir, apa gerangan yang terjadi pada nona majikannya itu. Kenapa tiba-tiba pingsan saat pulang kerja? Apakah dia lupa makan siang? Laras berusaha mengibaskan pikiran-pikiran jelek yang ada di kepalanya.
Sebelum menuju dapur, Laras singgah ke kamar Nyonya Aline. Perempuan setengah baya itu baru saja selesai mandi dan sangat terkejut saat mengetahui putrinya yang pingsan.
__ADS_1
Nyonya Aline langsung berlari menuju kamar Nadine, Laras meneruskan langkahnya menuju dapur.
"Bi, tolong buatkan teh hangat untuk Nona Nadine," ucap Laras. "Aku mau simpan tasku dulu di kamar."
"Enak banget ya, nyuruh-nyuruh Bibi, udah seperti nona muda saja lagaknya," gerutu Eneng.
"Tidak apa-apa, Neng. Lagipula hanya bikin teh kok. Itupun bukan buat Laras tetapi untuk Nona Nadine," bela si bibi.
"Iya, Laras. Nanti bibi buatkan. Kamu ke kamar saja dulu, sekalian ganti baju."
"Baik, Bi. Terima kasih."
Laras meneruskan langkah menuju kamarnya. Dia mendorong pintu kamar, lantas masuk ke dalam. Pandangan matanya langsung tertuju ke pembaringan. Sebenarnya dia lelah sekali hari ini. Bukan cuma lelah, tetapi juga mengantuk. Kepalanya juga sedikit pusing.
Perempuan yang telah merebut perhatian Galang, hingga pria itu memutuskan untuk menikahi perempuan itu dan melupakan dirinya.
Laras menanggalkan pakaian kerjanya, kemudian segera menggantinya dengan pakaian rumahan. Dress berlengan pendek dengan panjang selutut. Dia mengikat rambutnya, setelah itu mengambil ponsel dan segera keluar dari kamar.
Bi Minah memberikan teh yang diminta oleh Laras. Laras mengucapkan terima kasih, kemudian segera kembali menuju ke kamar Nadine di lantai atas.
Dokter keluarga Chandra, Dokter Citra sudah tiba di sana. Sebagai dokter keluarga, dia dikontrak secara eksklusif, hanya melayani keluarga Chandra saja. Tak heran kalau dia langsung datang ke rumah itu hanya beberapa menit setelah dipanggil.
'Syukurlah, Nona Nadine sudah sadar dari pingsannya.' Laras menatap Nadine. Nona Muda sekaligus madunya. Kedua mata perempuan itu tampak sayu dengan raut wajah pucat.
"Bagaimana, Dok?" tanya Laras setelah menaruh teh hangat di atas nakas samping tempat tidur Nadine.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Mbak Laras. Nona Nadine hanya kelelahan atau kemungkinan juga banyak pikiran," ucap Dokter Citra.
Perempuan itu mengangguk. "Berarti Nona Nadine baik-baik saja, kan, Dok? Maksud saya, Nona Nadine tidak terkena penyakit yang serius kan, Dok?" ujar Laras khawatir.
Perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu tersenyum.
"Nona Nadine baik-baik saja, Mbak Laras. Dia hanya kelelahan." Dokter Citra tersenyum. Sementara Laras dan yang lainnya bernapas lega.
Nalendra menatap Laras, pria itu memperhatikan Laras yang terlihat mengkhawatirkan Nadine.
'Harusnya perempuan itu membenci Nadine, bukan?'
Nalendra menggelengkan kepalanya sambil mengepalkan tangannya, saat mengingat kalau Laras adalah istrinya Galang, pria yang sudah menikahi adiknya hampir setahun ini.
'Aku tidak tahu terbuat dari apa hatimu, Laras. Sampai-sampai kau menyimpan rahasia ini sendirian. Aku yakin, di dalam hatimu yang paling dalam, kamu pasti sangat terluka saat mengetahui Galang ternyata menikah lagi dengan perempuan lain. Apalagi, perempuan itu adalah Nadine, anak dari sang majikan tempat kamu bekerja.
"Apa yang dialami oleh Nadine ini sudah biasa dialami wanita hamil pada kehamilan trimester pertama," jelas Dokter Citra,
"Maksud Dokter, Nadine hamil?" Nyonya Aline menatap dokter pribadinya dengan tatapan tak percaya.
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏
__ADS_1