DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Bab 67 TERBONGKAR


__ADS_3

"Katakan yang sebenarnya, Laras. Aku tahu, kamu berada di pihak yang benar!" desak Nalendra.


Laras menyusut air matanya yang entah sejak kapan berhamburan.


"Aku berani bersumpah, Nyonya. Aku tidak pernah berhubungan dengan Mas Galang seperti layaknya suami-istri selama lima tahun terakhir dan aku berada di rumah ini." Laras mengatur napasnya sejenak sebelum melanjutkan bicaranya. Dadanya sungguh sesak. "Kecuali malam itu ...."


Nyonya Aline dan Nalendra menatapnya dengan sorot mata membunuh.


"Ada apa dengan malam itu?" Nalendra masih menatap Laras dengan tajam.


"Malam itu Mas Galang memperkosaku."


"Apa?" teriak Nyonya Aline dan Nalendra bersamaan. Nalendra menatap Laras tak percaya, pandangan matanya beralih ke arah Galang yang masih terbaring di lantai.


Nalendra meraih tubuh Laras kemudian memeluknya, saat perempuan itu kembali menangis.


"Benar apa yang kamu katakan itu, Laras?" sergah perempuan setengah tua itu. Nyonya Aline serasa tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Dia tak menyangka ternyata menantunya benar-benar buruk.


"Untuk apa aku berbohong, Nyonya?" Laras menatap wanita setengah baya itu dengan berani. Sekarang ia sudah tidak peduli dengan apapun.


Jika hari ini dia hancur, biarlah ia hancur sehancur-hancurnya. Laras memegang tas kerjanya kuat-kuat. Di dalam tas kerja itu ada tas yang berisi dokumen dan barang-barang penting miliknya.


"Aku mempercayai Laras karena aku sudah mengetahui kebusukan pria ini!" Nalendra menunjuk Galang yang sudah mulai bangkit setelah mendengar ucapan Laras.


"Laras adalah istriku, tidak ada istilah seorang suami yang memperkosa istri!" Galang menatap tajam ke arah Laras.


Merasa kesal karena perempuan itu justru semakin memperkeruh suasana.


"Kau memaksaku, Mas, kau bahkan memperlakukan aku dengan kasar!"


"Kau juga langsung menyuruhku meminum pil pencegah kehamilan, kau benar-benar jahat, Mas!"


"Laras!" Galang berteriak.

__ADS_1


"Kenapa? Kau takut semua orang di sini mengetahui keburukanmu?" Laras tidak takut sama sekali dengan tatapan kemarahan Galang.


Selama ini dia begitu bodoh karena selalu ketakutan saat pria itu mengancamnya. Kali ini, tidak lagi. Dia tidak akan lagi merasa takut, tak peduli apa yang akan terjadi padanya nanti, yang jelas, Laras tidak mau lagi ditindas oleh Galang.


"Seandainya saja Mas Galang mau menceraikan aku dari kemarin, sampai sekarang, rahasiamu pasti aman, Mas. Kamu dan Nona Nadine bisa hidup bahagia tanpa harus ada drama seperti ini."


"Sayangnya, kamu egois dan terlalu serakah, hingga akhirnya harus berakhir seperti ini!"


Laras menatap Galang yang semakin marah mendengar ucapannya. Meskipun di sudut hatinya dia sangat membenarkan.


Seandainya dia tidak terlalu memaksakan diri untuk tetap memiliki Laras, pasti rahasianya akan tetap aman, dan semua drama pagi ini tidak akan pernah terjadi.


"Kalaupun hari ini kebusukan Galang dan rahasia pernikahan kalian tidak terungkap, cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan kebenaran itu!"


Nalendra menatap Laras dan Galang secara bergantian.


Perempuan itu, setelah banyak kesakitan yang dia rasakan, kenapa dia masih terus membela bajingan itu?


Nalendra mengepalkan tangannya erat. Menahan amarah dan rasa cemburu secara bersamaan.


Mereka semua kini berkumpul di kamar Nadine. Nadine masih terbaring lemah di ranjang, perempuan itu masih terdiam, tidak mau berbicara apapun.


Laras, Nalendra, nyonya Aline, tuan Chandra berdiri mengelilingi Nadine. Sementara Galang meringkuk di sudut kamar, mirip seperti pesakitan, terdakwa yang siap diadili. Perempuan itu tidak diperbolehkan melihat Nadine.


"Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian." Tuan Chandra menatap Laras dan Galang secara bergantian.


"Bagaimanapun hasilnya, itu akan sangat berpengaruh bagi kehidupan putriku kelak, yang jelas, aku tidak mau putriku diduakan!" tegas laki-laki tua itu.


"Nanti biarkan Nadine yang akan memutuskan. Aku berharap lelaki brengsek ini tidak mendapatkan siapapun! Biarkan dia menyesali perbuatannya!"


"Aku setuju Dad, akan kita buat lelaki ini menyesali semua perbuatan jahatnya!" Nalendra melirik tajam adik iparnya itu.


"Kalau begitu, baiklah! Kita akan beri kesempatan kepada Laras dan Galang untuk menyelesaikan urusan mereka."

__ADS_1


"Daddy, sebenarnya hari ini aku menyuruh orang-orangku untuk mengantar Laras pulang kampung. Dia akan mengurus gugatan cerai pada Galang ke pengadilan agama," beritahu Nalendra.


"Kamu terlalu ikut campur urusanku, Nalendra," kesal Galang.


"Masih berani bicara juga kamu, hah?" Tuan Chandra kembali mengangkat tangan, bermaksud melayangkan tinjunya ke arah menantunya itu, tetapi dengan segera nyonya Aline menahan tangan itu.


"Ingat, Daddy, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah." Nyonya Aline mengingatkan.


"Sebaiknya aku sendiri yang mengantar Laras pulang kampung dan mendampinginya saat proses perceraian. Biar semua berjalan lancar. Untuk sementara, tolong Daddy handle semua urusan perusahaan!"


"Baiklah! Untuk sementara biar Daddy yang urus semuanya." Tuan Chandra tersenyum tipis sembari melirik istrinya yang tampak tersenyum menyaksikan putranya yang melenggang pergi sembari menggandeng Laras keluar dari kamar Nadine.


Perhatiannya kembali tertuju kepada Galang yang masih duduk di sudut ruangan, setelah beberapa menit yang lalu Laras dan Nalendra meninggalkan ruangan ini.


"Kenapa kau masih di sini? Segera pergi dari sini dan pulang ke rumah orang tuamu. Aku tidak sudi melihat mukamu lagi di sini!" usir Tuan Chandra. Dia sudah muak dengan menantu yang dulu sangat dibanggakannya ini.


"Tapi Nadine adalah istriku, Dad, aku ingin menemaninya di sini!"


"Kamu memang suami Nadine, tapi Nadine perlu waktu untuk sendiri, menimbang-nimbang apakah kamu masih layak untuk terus menjadi suaminya atau malah menjadi mantan suami!" sarkas Tuan Chandra.


Galang tersentak mendengar ucapan mertuanya. Namun, saat melihat sorot kemarahan di kedua mata Tuan Chandra, nyali Galang menciut.


Seluruh tubuhnya masih terasa sakit akibat pukulan Tuan Chandra. Laki-laki itu akhirnya mengalah. Dia memilih pergi meninggalkan rumah itu daripada sang mertua kembali menghajarnya.


Galang mengendarai mobilnya sendirian sembari menahan sakit di tubuhnya. Dia berusaha fokus, memacu mobilnya dengan kecepatan rendah sembari terus berpikir apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan Nadine kembali.


'Aku harus mencari cara agar Nadine bisa kembali mempercayaiku. Bagaimanapun, aku sangat mencintainya, apalagi saat ini perempuan itu sedang mengandung anakku!'


.


.


By: Jannah Zein & Nazwatalita

__ADS_1


Ikutin terus kelanjutannya ya, jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya 🙏


__ADS_2