
Meskipun tubuhnya lelah, Damar terus melajukan mobilnya. Dia tak peduli dengan istri dan mertuanya yang terus berdebat sepanjang perjalanan.
Sementara kedua putrinya malah tertidur sembari bersandar. Mereka juga lelah karena diajak keliling ke berbagai tempat oleh neneknya demi mencari Galang.
Dibalik itu, dia juga tengah berpikir keras untuk melanjutkan kehidupannya kelak. Tidak mungkin selamanya dia tinggal bersama Ningsih.
Dia tidak mau menjadi sapi perahan seperti halnya Galang. Namun untuk saat ini, biarlah dia mengikuti kemauan istrinya dulu untuk pulang ke kampung halaman.
Mobil terus berjalan hingga tak terasa mereka sudah sampai di kampung, tempat tinggal mereka dulu.
Untungnya hari sudah malam, sehingga dia merasa sedikit lega. Setidaknya kedatangan mereka tidak terlalu mengundang perhatian orang, terutama para tetangga.
Damar menepikan mobilnya di halaman sebuah rumah. Ya, rumah itu adalah rumah mereka yang lama mereka tinggalkan. Kondisinya memang sudah sangat memprihatinkan.
"Serius kita akan tinggal di sini?" Muka Ningsih tertekuk melihat pemandangan di hadapannya. Lewat cahaya lampu mobil dia melihat betapa jeleknya rumah ini jika dibandingkan dengan rumahnya yang dulu di Jakarta.
"Emangnya mau tinggal di mana lagi, Ma? Kita pernah tinggal di sini. Mama tidak perlu takut, karena kita sudah pernah menjalani hidup susah," ujar Mira datar. Dia menyusul suaminya keluar dari mobil
__ADS_1
Wanita tua itu bergidik. Tak terbayangkan rasanya dia harus tinggal di rumah sejelek ini. Namun akhirnya dia menyusul keluar dari mobil setelah kedua jodohnya ikut keluar.
Damar menyalakan senter. Dia bergerak mendekati bangunan itu. Di dalam rumah sangat gelap, tak ada penerangan sedikitpun. Danar mendorong pintu dengan hati-hati sembari mengarahkan lampu senter. Dibelakangnya Mira mengiringi bersama dengan dua orang putrinya, sementara Ningsih masih terpaku berdiri di halaman.
"Hati-hati, Mas. Khawatirnya kalau ada binatang melata yang bersembunyi di rumah ini," ujar Mira.
"Ya, Mas pasti hati-hati." Dapat memberikan lampu senter kepada istrinya sementara dia sendiri membuka pintu dapur berharap bisa menemukan setidaknya lampu tembok untuk penerangan sementara malam ini.
Wah ada Line Dek ujarnya saat menemukan lilin di meja makan yang nampak berdebu
Syukurlah sebaiknya kamu nyalakan Mas biar kita bisa segera membersihkan rumah ini walaupun seandainya yang penting kita bisa tidur dulu
Setelah berjibaku lebih dari satu jam, akhirnya rumah ini lebih layak. Damar sengaja menggelar kasur di ruang depan. Dia dan Mira belum bisa membersihkan ruang tidur dan bagian-bagian rumah yang lain.
"Mama mau tidur di halaman atau di rumah?" tegur Mira jengkel melihat sang ibu terus berdiri sejak tadi. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan kerepotan dirinya membersihkan rumah ini.
"Mama tidak mau tinggal di sini, Mira."
__ADS_1
"Memangnya mau tinggal di mana? Mau balik ke Jakarta jadi gembel?" tukas Mira. "Sekarang terserah Mama saja. Kalau tidak mau tinggal di sini, ya sudah. Terserah Mama saja mau tinggal di mana. Sekarang aku mau istirahat."
Mira mendengus kesal. Dia menghentakkan kakinya di lantai teras, tak habis pikir dengan perilaku ibunya yang mirip seperti anak kecil.
Dia sangat lelah menghadapi ibunya. Sikap ibunya tak juga berubah, terutama kebiasaan wanita itu yang suka bergaul bebas dengan banyak laki-laki, bahkan di usianya yang sudah setengah abad ini pun, saat di Jakarta dan masih bergelimang dengan uang Galang, dia tak segan membayar berondong untuk memuaskan hasratnya. Benar-benar menjijikkan.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya teman-teman 🙏
Terima kasih ....
Baca juga karya temen author yang satu ini yuk!
Matteo de Luca adalah putra mahkota dari Klan de Luca, yang merupakan organisasi mafia terselubung dan sangat disegani. Sang ayah begitu menyayangi dan melindunginya. Ia seakan memiliki rasa kurang percaya terhadap Matteo, sehingga membuatnya merasa terkekang. Atas dasar itulah, Matteo mencoba melepaskan diri untuk membuktikan bahwasannya ia mampu.
Matteo melakukan transaksi ilegal dengan seorang sahabat lama yang ternyata mengkhianatinya. Dalam kondisi terluka, Matteo melarikan diri ke kota Venice. Di sana ia bertemu dengan sosok Mia yang kemudian merawat luka dan memberinya tumpangan untuk menginap di dalam kedai milik ayahnya.
__ADS_1
Benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, Matteo memilih untuk pergi dan menolak Mia dengan kasar, sehingga membuat gadis itu pergi dan mencoba membuka hatinya untuk pria lain. Akan tetapi, ketika Mia memutuskan untuk menikah, Matteo menjadi kalut dan datang kembali serta meminta Mia membatalkan pernikahannya. Terjadilah penyerangan pada acara pesta pernikahan Mia, yang menewaskan ayah serta suami yang baru ia nikahi.