
Galang menginjak rem. Lelaki itu segera keluar dari mobilnya. Dia membiarkan begitu saja mobil itu terparkir di depan pintu gerbang. Langkahnya tergesa mendekati sosok perempuan yang sangat dia kenal itu.
"Bibi Santi," tegur laki-laki itu.
Perempuan itu mendongak. "Galang," balasnya. Seulas senyum tersungging dari bibirnya.
Kebetulan sekali ....
"Bibi, kenapa Bibi ada di sini? Bukannya seharusnya Bibi itu ada di kampung?" Galang mengerutkan kening.
"Ceritanya panjang, Galang. Bibi terpaksa datang ke Jakarta, karena sekarang kehidupan Bibi sangat menyedihkan."
Galang tidak menanggapi ucapan perempuan itu. Dia menarik tangan Santi masuk kembali ke mobilnya. Seorang penjaga membuka pintu gerbang. Mobil meluncur masuk ke halaman rumah.
Sejenak Santi terpaku menatap bangunan di hadapannya. Rumah itu sangat besar. Dia teringat dengan kehidupannya dulu. Ah, sungguh berbeda dengan sekarang. Hatinya terasa nyeri. Ningsih, kakak iparnya masih hidup dan tinggal di rumah mewah, sementara dirinya sangat kesusahan.
Keduanya keluar dari mobil secara berbarengan. Meskipun di kepalanya masih menyisakan tanda tanya, tetapi Galang hanya diam. Dia tetap mengajak Santi masuk ke dalam rumah.
"Santi!" teriak Ningsih. Dia benar-benar terkejut. Kedatangan Santi seperti kedatangan hantu saja. Dia menatap Santi dengan pandangan horor.
"Ya, aku datang, Mbak. Aku benar-benar datang."
__ADS_1
"Ba-bagaimana bisa?" tanya Ningsih terbata-bata. Seingatnya, ia baru beberapa menit yang lalu berbicara lewat telepon dengan wanita ini, tetapi kenapa Santi tiba-tiba saja muncul di hadapannya?
Galang menatap heran kedua perempuan di hadapannya itu. "Ada apa ini? Ada masalah apa lagi?"
"Tidak ada masalah apa-apa, Galang," ucap Ningsih buru-buru.
"Ini hanya masalah kecil antara mama dengan bibimu."
"Masalah kecil, katamu?" Suara Santi meninggi.
Ningsih menghela napas.
"Sebaiknya kamu masuk ke dalam kamarmu, Galang. Kamu pasti butuh istirahat."
"Tunggu, Galang! Ada yang ingin Bibi bicarakan denganmu." Perempuan itu menyeret Galang, mengajaknya duduk di kursi sofa berhadapan dengan Ningsih.
"Galang!" bentak Ningsih.
Galang menatap Santi. "Ya sudah, memangnya apa yang ingin Bi Santi katakan padaku?"
"Sebaiknya kamu masuk kamar dan segeralah beristirahat. Ini tidak ada kaitannya denganmu, Galang!" tegas Ningsih. Dia sangat tahu Santi akan bicara apa pada Galang. Dia harus mencegah itu sebelum rahasianya terbongkar.
__ADS_1
Lelaki itu menatap dua wanita itu bergantian. "Jelaskan padaku, ada masalah apa ini, Bi? Bicaralah!" titahnya.
"Galang, seperti yang sudah kamu ketahui, pamanmu Rusdi masuk penjara dengan kesalahan yang dia buat sendiri dan kamu sebagai keponakannya tentunya sudah tahu apa kesalahannya, kan?"
"Iya, Bi. Aku tahu. Terus apa hubungannya dengan apa yang akan Bibi ceritakan padaku?"
"Sejak pamanmu masuk penjara, kehidupan kami berubah drastis. Dari kehidupan yang serba mewah dan mudah sebelumnya, berubah menjadi seperti ini." Suara Santi tercekat.
Dia teringat dengan dua orang putrinya yang malah menjadi wanita simpanan pria kaya hanya demi melanjutkan kehidupan mewah yang pernah didapatnya selama bersama orang tuanya.
"Semua milik kami sudah habis, tak bersisa, kecuali sebuah rumah kecil yang kami tempati sekarang. Kehidupan kami berubah drastis, bahkan kedua putriku meninggalkanku, karena tidak mau hidup miskin." Santi sengaja tidak mengungkapkan fakta mengenai kedua orang putrinya. Dia merasa sangat malu.
Sejenak pandangannya mengarah ke sekeliling ruangan. Ruangan yang sangat indah. Dia benar-benar merasa iri. Ningsih masih hidup dalam kemewahan, sementara dirinya sendiri di kampung sangat mengenaskan kondisinya. perempuan itu menghela napas, dia harus membuka rahasia ini sekarang.
.
By: Jannah Zein
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya teman-teman 🙏
Mampir juga ke novel author yang lainnya yuk!
__ADS_1