DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 40 KEKESALAN LARAS


__ADS_3

Akhirnya Galang memutuskan untuk bersembunyi di area dapur. Matanya liar mengamati keadaan sekelilingnya. Kamar pembantu memang terletak bersebelahan dengan dapur.


Lewat celah meja dapur, sepasang matanya melihat salah satu pembantu yang biasa dipanggil Eneng itu sedang bertaut bibir dengan seorang pria muda yang biasa berjaga di pintu gerbang.


"Sayang, kamu hebat sekali tadi," ucap Eneng pada pria itu.


"Jangan kenceng-kenceng suaranya. Nanti ada yang dengar. Sstt.." bisik pria itu.


Perempuan itu refleks menutup mulutnya sendiri.


"Padahal aku masih pengen nambah." Perempuan itu merajuk manja. Sikapnya tampak tak tahu malu padahal sudah melakukan perbuatan terlarang.


"Besok ya, Sayang. Besok aku akan libur dan kita bisa main sepuasnya, semaumu!" Pria itu kembali menyambar bibir pembantu genit itu, ********** sesaat.


"Jangan lupa minum obatnya ya," pesannya. Setelah itu dia bergegas meninggalkan asisten rumahtangga itu dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Sialan! Hampir saja aku ketahuan!"


Galang keluar dari tempat persembunyiannya setelah perempuan itu menutup pintu kamarnya kembali. Dia terus berjalan mengendap-endap menyeret kakinya memasuki ruang tamu.


Dia sengaja menunda niatnya unt


Akhirnya Galang memutuskan untuk bersembunyi di area dapur. Matanya liar mengamati keadaan sekelilingnya. Kamar pembantu memang terletak bersebelahan dengan dapur.


Lewat celah meja dapur, sepasang matanya melihat salah satu pembantu yang biasa dipanggil Eneng itu sedang bertaut bibir dengan seorang pria muda yang biasa berjaga di pintu gerbang.


"Sayang, kamu hebat sekali tadi," ucap Eneng pada pria itu.


"Jangan kenceng-kenceng suaranya. Nanti ada yang dengar. Sstt.." bisik pria itu.


Perempuan itu refleks menutup mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Padahal aku masih pengen nambah." Perempuan itu merajuk manja. Sikapnya tampak tak tahu malu padahal sudah melakukan perbuatan terlarang.


"Besok ya, Sayang. Besok aku akan libur dan kita bisa main sepuasnya, semaumu!" Pria itu kembali menyambar bibir pembantu genit itu, ********** sesaat.


"Jangan lupa minum obatnya ya," pesannya. Setelah itu dia bergegas meninggalkan asisten rumahtangga itu dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Sialan! Hampir saja aku ketahuan!"


Galang keluar dari tempat persembunyiannya setelah perempuan itu menutup pintu kamarnya kembali. Dia terus berjalan mengendap-endap menyeret kakinya memasuki ruang tamu.


Dia sengaja menunda niatnya untuk segera masuk ke kamar istrinya di lantai atas. Laki-laki itu menatap liar ke sekelilingnya. Dia benar-benar tak habis pikir.


"Apakah mama tidak tahu bagaimana kelakuan pembantunya sendiri? Berani-beraninya dia memasukkan laki-laki ke dalam kamarnya seperti maling saja!" lelaki itu bertanya-tanya dalam hati.


Dia tidak memungkiri dirinya bukan laki-laki yang baik, tetapi dia tidak bisa membiarkan rumah ini tercemari oleh kelakuan kotor yang dilakukan oleh salah satu penghuni rumahnya.


*****


Laras menarik napas panjang.


Akhirnya meeting dengan salah satu rumah produksi itu selesai juga. Meskipun Nalendra tak ada di sisinya, tetapi Laras bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik. Perempuan itu segera membereskan berkas-berkas yang berserakan, kemudian memasukkan ke dalam tas kerjanya.


"Aku menagih janjimu, Laras!" Tiba-tiba suara bariton terdengar di telinganya.


Dia tersentak kaget tatkala menyadari tak ada seorang pun di ruangan ini, kecuali satu orang yang sungguh ia enggan untuk berduaan dengannya.


"Aku janji apa, Mas?" Perempuan itu menghentikan aktivitasnya sejenak membereskan sisa-sisa berkas di mejanya.


"Bukankah hari ini kita memiliki janji untuk makan siang bersama?"


Tangannya kembali bergerak membereskan sisa pekerjaannya. Kini semuanya telah selesai, bahkan laptop pun sudah ia masukkan ke dalam tas.

__ADS_1


Laras meraih ponsel, kemudian berdiri, bersiap untuk meninggalkan tempat itu.


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, Mas. Sungguh, aku tidak memiliki waktu lebih. Pekerjaanku sekarang ini masih banyak dan aku sudah terbiasa makan siang di ruang kerjaku," tukas Laras. Nada bicaranya terdengar melunak.


"Bersama dengan bosmu yang sok tampan itu?" Laki-laki itu menyeringai.


"Bukan urusanmu, Mas! Ini adalah kantor dan aku bekerja disini mengais rezeki untuk putriku dan juga keluargaku di kampung. Memangnya aku salah, makan siang di ruanganku sendiri?" sentak Laras.


Dia sudah benar-benar lelah berhadapan dengan suaminya. Andai saja ada kesempatan buatnya bisa pulang kampung, biarlah dia saja yang menggugat cerai, biar dia bisa bebas menjalani hidupnya tanpa dibayang-bayangi dengan lelaki ini.


"Bukan ruanganmu, Laras. Itu ruangannya Nalendra! Kamu tidak punya ruang kerja sendiri."


"Itu juga bukan urusanmu, Mas! Kamu tidak berhak mengatur. Ingat, ini perusahaan siapa? Di sini kamu hanya menggantikan Nadine." Laras tersenyum mengejek.


Selama berapa bulan Laras bekerja, ia mengetahui struktur organisasi di perusahaan ini. Dia pun paham sebenarnya Galang diperlukan di kantor ini bukannya kerja tetapi hanya hadir mengisi absen menggantikan Nadine istrinya. Perempuan itu kembali tersenyum sinis.


"Kalau tidak ada yang bisa kamu katakan lagi, aku permisi, Mas."


"Tunggu!" Laki-laki itu mencekal tangan istri pertamanya itu. "Aku belum selesai!"


Laras memutar bola matanya malas. "Apa maumu?"


"Mas tunggu kamu di restoran seberang gedung CNI group, di bilik VIP!"


.


By: Jannah Zein


Ikutin terus lanjutannya ya, jangan lupa like komen, hadiah dan votenya 🙏


Sambil nunggu up, kalian boleh mampir di karya temen aku. Yuk, merapat!

__ADS_1



__ADS_2