
"Dasar bodoh! Aku suruh dia mengambil berkas pernikahan Laras dan Galang, tapi kenapa suamimu itu malah melawan Nalendra?" Suara Ningsih terdengar sampai ke ruang keluarga, di mana Galang berada saat ini.
"Apa kalian tidak tahu siapa Nalendra? Dia itu seorang pengusaha muda yang sangat berpengaruh di negara ini!" Ningsih kembali berteriak.
Sementara seseorang di seberang sana terdengar menangis.
"Mbak, tolongin Mas Rusdi, Mbak. Aku nggak mau kalau dia di penjara. Kasihan dia, Mbak ...."
Santi menangis di seberang telepon. Saat ini, dia ada di dalam mobil menuju kampungnya.
Santi langsung bergegas pergi saat mendapatkan telepon dari petugas kepolisian yang memberi informasi kalau saat ini Rusdi ditahan di kantor polisi karena sudah melakukan kejahatan.
Suaminya yang tadi pagi berpamitan akan pergi ke rumah Laras itu, diduga menyuruh orang untuk menculik Ruby, anaknya Laras.
"Mbak Ningsih juga harus bertanggung jawab karena Mbak Ningsih yang telah menyuruh suamiku pergi menemui Laras!" Suara Santi tak kalah tinggi. Perempuan itu kembali menangis.
Ningsih mengepalkan tangannya erat, saat mendengar teriakan Santi, adik iparnya di seberang telepon. Perempuan itu sangat marah saat Santi menyebutkan kalau semua yang menimpa Rusdi adalah kesalahannya.
Dia memang menyuruh Rusdi datang menemui Laras. Namun, dia hanya menyuruh Rusdi untuk meminta berkas pernikahan Laras dan Galang agar mereka tidak jadi bercerai.
Ningsih tidak menyangka kalau adik laki-lakinya itu justru dengan begitu bodohnya melawan Nalendra, sang pewaris tahta CNI grup.
"Apa yang dilakukan suamimu itu tidak ada hubungannya denganku! Kenapa kau menyalahkan aku?"
__ADS_1
"Salahkan saja Rusdi karena dia begitu bodoh! Kenapa dia harus melawan Nalendra? Apa dia tidak tahu siapa laki-laki itu?" Nada suara Ningsih terdengar menggema ke seluruh ruangan, hingga Galang yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan ibunya langsung berdiri dan dengan diam-diam mendekati sang ibu yang berdiri dengan wajah penuh amarah. Sebuah benda pipih terlihat menempel di telinga kanannya.
"Kalau saja Rusdi tidak bertindak bodoh dengan nekad menculik Ruby, dia tidak mungkin tertangkap!"
"Suamimu itu sangat ceroboh. Dia tidak berpikir kalau saat itu dia sedang berhadapan dengan siapa. Nalendra bukanlah orang sembarangan, bahkan Galang sendiri pun tidak bisa melawan pria itu apalagi Rusdi."
"Dasar bodoh!"
"Aku tidak mau tahu, yang jelas Mbak Ningsih harus ikut bertanggung jawab karena Mbak Ningsih yang telah menyuruh Mas Rusdi datang ke rumah Laras!"
"Pokoknya Mbak Ningsih harus mencari cara agar Mas Rusdi tidak sampai di penjara!" Santi masih berteriak di seberang sana.
Perempuan itu sangat marah karena kakak iparnya masih juga memanfaatkan suaminya demi kepentingannya sendiri.
Rumah mewah, mobil dan segala fasilitas mewah yang tidak pernah didapatkannya saat dirinya masih tinggal di kampung, kini bisa dinikmatinya dengan mudah.
Semenjak sang suami bekerjasama dengan kakak iparnya untuk membohongi Galang dengan memberikan rekening palsu atas nama Laras, hidup Santi dan Rusdi berubah drastis. Mereka kini hidup dengan nyaman dengan menggunakan harta yang seharusnya menjadi milik Laras.
Uang miliaran rupiah yang dikirimkan Galang untuk Laras, mereka pakai untuk membeli rumah mewah dan beberapa mobil, juga fasilitas lainnya.
Anak-anak Santi juga hidup dengan mewah. Santi dan suaminya bahkan membeli beberapa aset untuk masa depan mereka, termasuk membuka beberapa usaha yang kini menjadi ladang penghasilan bagi keluarga mereka.
Segalanya berubah semenjak mereka menikmati uang yang seharusnya bukan milik mereka. kini, seandainya suaminya masuk penjara, akankah Santi dan keluarganya akan tetap menikmati semua kemewahan itu?
__ADS_1
Apalagi, beberapa usaha yang dimiliki mereka pun sudah ada beberapa yang gulung tikar karena tidak mampu membayar hutang. Baru sebulan Galang tidak mentransfer uang, beberapa usaha mereka langsung tutup karena kehabisan modal. Bagaimana jika Galang benar-benar tidak lagi mengirimi mereka uang?
Kehidupan mereka yang selalu berfoya-foya dan menghabiskan banyak uang, membuat pasangan suami istri itu tidak mempunyai simpanan di rekeningnya. Selama beberapa tahun ini, mereka selalu mengandalkan uang dari Galang. Mereka tidak pernah khawatir meskipun mereka tidak memegang uang sepeser pun.
"Santi! Apa yang terjadi sama suamimu itu karena kesalahan dia sendiri, bukan kesalahan aku! Aku tidak pernah sekalipun menyuruhnya untuk melawan Nalendra, apalagi sampai menculik Ruby anaknya Laras. Suamimu itu benar-benar bodoh!
"Kalau bukan karena Mbak Ningsih yang menyuruh Mas Rusdi datang ke rumah Laras, dia tidak mungkin ditangkap polisi sekarang!" Santi tetap tidak mau mengalah.
"Rusdi ditangkap polisi karena kebodohannya sendiri, bukan karena aku! Aku tidak pernah menyuruh dia untuk menculik Ruby!" Suara Ningsih semakin meninggi, perempuan itu sangat kesal karena Santi terus saja menyalahkannya. Meskipun kenyataannya memang benar kalau dia yang telah menyuruh Rusdi datang ke rumah Laras. Namun, dia tetap tidak mau disalahkan.
"Pokoknya aku nggak mau tahu, Mbak Ningsih harus tanggung jawab. Mbak Ningsih harus datang ke sini menemui Mas Rusdi dan menjelaskan pada polisi kalau suamiku tidak bersalah. Aku tidak mau Mas Rusdi di penjara, Mbak! Kalau sampai dia di penjara, aku tidak akan segan-segan melaporkan Mbak Ningsih. Aku akan mengatakan pada mereka kalau Mbak Ningsih adalah dalang dari kejadian ini!"
"Santi! Sebaiknya kamu jangan melewati batas. Sudah aku bilang, aku tidak pernah menyuruh Rusdi untuk menculik Ruby! Aku hanya menyuruh suamimu itu mengambil berkas pernikahan Laras dengan Galang agar mereka tidak jadi bercerai!" teriak Ningsih. Wajah tuanya merah padam. Dia sungguh marah karena Santi sudah berani melawannya.
Sementara tanpa perempuan itu sadari, di belakangnya berdiri Galang yang menatap ibunya dengan penuh kemarahan.
"Jadi, Ibu dan Paman sampai sekarang masih mengganggu Laras?"
By: Nazwatalita
Yang penasaran sama ceritanya, ikutin kelanjutannya terus yuk!
Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya 🙏
__ADS_1