
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Keesokan harinya setelah selesai sarapan pagi, Laras dan Ruby berangkat ke sekolah. Laras mengantar Ruby sampai ke dalam kelasnya.
Perempuan itu kemudian menuju ruang guru, untuk mengurus surat kepindahan Ruby. Sore ini juga, rencananya mereka akan segera berangkat ke Jakarta.
PAUD tempat Ruby belajar tidak terlalu jauh dari rumahnya. Keduanya cukup berjalan kaki, sembari menikmati semilir angin pagi dan sejuknya suasana desa yang masih asri itu.
"Jadi Ruby akan pindah ke Jakarta ya, Bu?" tanya Bu Aira, kepala sekolah PAUD tempat Ruby belajar.
"Betul, Bu. Rencananya Ruby akan saya bawa ke Jakarta, karena pekerjaan saya sekarang ada di Jakarta dan di sini pun kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi," jelas Laras.
"Sayang sekali ya, Bu. Padahal di sini Ruby adalah murid kebanggaan PAUD ini. Dia sangat menonjol dibandingkan dengan teman-temannya." Bu Aira tersenyum menatap Laras.
"Tapi kalau Ibu memang berniat untuk memindahkan sekolah Ruby, tentunya kami pihak sekolah tidak akan melarang. Sebentar, saya persiapkan berkasnya dulu ya, Bu."
Laras mengangguk. Dia duduk di kursi ruang kepala sekolah sembari memainkan ponselnya.
"Ale, aku sekarang sudah ada di sekolah Ruby mengurus surat pindah. Mungkin nanti sore kita sudah bisa berangkat ke Jakarta." Laras mengirimkan pesan pada Nalendra.
Centang segera berubah menjadi biru. Terlihat seseorang sedang mengetik. "Memang kamu selalu online, Ale," gumam Laras dalam hati.
"Bagus, aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin. Setelah itu kita akan bersiap-siap untuk balik ke Jakarta." Nalendra membalas.
"Baiklah, terima kasih." Laras mengakhiri chatnya, kemudian menyimpan ponsel ke dalam tas. Bersamaan dengan itu, Ibu Guru Aira kembali menghampirinya.
"Ini surat pindah dan raportnya Ruby, Bu. Semoga berguna dan membantu proses masuk ke sekolah baru. Saya berharap semoga Ruby bisa semakin menonjol setelah sekolah di ibukota. Tentunya pendidikan di kota lebih baik, kan, Bu?" Bu guru Aira masih saja mengumbar senyum.
__ADS_1
"Sama saja, Bu. Semua ada plus dan minusnya," ujar Laras merendah. "Saya hanya tidak ingin berpisah lagi dengan keluarga. Saya selalu merasa was-was, Bu, meninggalkan keluarga di sini. Takut mereka kenapa-kenapa. Kalau mereka saya ajak ke Jakarta, kan setiap hari kami bertemu."
"Bener, Bu. Keluarga adalah segalanya," tanggap Ibu Guru Aira. "Eh, Bu, dengar-dengar Ibu sudah bercerai ya, dengan Pak Galang?"
Laras tersenyum. "Betul, Bu, baru kemarin ketok palu. Alhamdulillah."
"Syukurlah, semoga ke depannya kehidupan Ibu selalu berlimpah kebahagiaan. Oh, ya, saya lihat laki-laki yang kemarin bersama ibu itu orangnya baik. Apakah dia adalah calon ayah tiri Ruby?" telisik wanita itu.
"Dia atasan saya di kantor, Bu," ralat Laras buru-buru. Wajahnya tampak memerah. "Beliau memang baik pada saya dan keluarga."
"Oh, kirain ...." Bu guru Aira melanjutkan ucapannya.
"Ya sudah, saya permisi dulu, Bu. Setelah ini saya harus bersiap-siap untuk keberangkatan kami ke Jakarta nanti sore."
"Benar, Bu. Atas nama orang tua dan wali Ruby, saya minta maaf dengan semua kesalahan yang diperbuat selama sudah menjadi putri didik Ibu dan guru-guru yang lain."
"Ruby anak yang manis," potong Ibu Guru Aira. Kami sangat senang bisa mendidik putri Ibu di sekolah ini. Kami berharap Ruby bisa menemukan teman-teman baru dan guru-guru baru di sana dan kami berharap lebih bisa cepat beradaptasi dengan sekolahnya yang baru."
"Amin ...." Laras menangkupkan tangan di dadanya, lantas bangkit dari tempat duduk.
Laras meninggalkan gedung PAUD tempat Ruby belajar dengan hati yang lapang. Setelah ini, dia akan segera mengepak barang-barang yang akan dibawa ke Jakarta.
Sebenarnya tidak terlalu banyak. Tak ada apapun yang patut dibawa kecuali mungkin hanya pakaian. Di rumahnya tidak ada satupun barang berharga, rumah itu pun sudah reot. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu untuk roboh.
Selama ini mereka tidak memiliki uang lebih untuk memperbaiki rumah itu. Keputusannya sudah bulat. Dia harus membawa semua keluarganya ke ibukota agar mereka mendapatkan rumah dan penghidupan yang lebih layak.
__ADS_1
Ibunya sudah menyambut kedatangan Laras saat perempuan muda itu masuk ke dalam rumah. Perempuan itu tampak sedang mengeluarkan baju-baju dari dalam lemari tua.
"Bawa barang yang penting saja, Bu. Nanti kekurangannya kita bisa beli di Jakarta. Kalau membawa terlalu banyak barang malah akan menyulitkan," saran Laras.
"Sepertinya hanya pakaian saja. Tak ada sesuatu pun yang berharga untuk kita bawa dari rumah ini," sahut ibunya.
"Laras menatap sekeliling ruangan dengan pandangan miris. Cukup bawa baju-baju dan barang berharga saja. Itupun kalau ada." Laras tertawa hambar. "Kita sudah terlalu lama tidak merasakan kehidupan yang layak ya, Bu."
Perempuan tua itu mendekat. Di sentuhnya lengan anak perempuan sulungnya itu.
"Mama sudah ikhlas menerima semua yang terjadi dan apa yang sudah kita alami, Nak. Saatnya kita untuk merengkuh masa depan tanpa harus menoleh lagi ke belakang. Yang lalu biarlah berlalu," ujar ibunya. Laras memeluk sang ibu dengan erat.
Dulu, sebelum dia menikah dengan Galang, mereka adalah keluarga yang cukup terpandang di kampungnya. Namun, setelah ibunya menjual semua aset miliknya demi Galang, kehidupannya mereka berubah drastis.
*Maafkan aku, seandainya dulu aku tidak menyetujui permintaan Galang untuk kuliah di ibukota, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini ....
.
By: Jannah Zein*
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏
Mampir juga di karya temen aku yuk!
__ADS_1