DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 136 BERTEMU ADIK BAYI


__ADS_3

Saat kedua orang tua itu berdiri di hadapannya, Annisa dan Ruby lantas berdiri.


"Ruby, salim dulu, Sayang. Ini Opa," tunjuk nyonya Aline.


Tuan Chandra membungkuk, merendahkan tubuhnya menerima tangan mungil itu yang kemudian dicium oleh Ruby.


"Anak pintar," puji lelaki tua itu. "Tunggu ya, Sayang. Sebentar lagi daddy kamu akan pulang ke rumah."


"Benarkah, Opa? Ruby kangen Daddy." Mata bulat dan bening itu menatap wajah tua di hadapannya.


Hati lelaki tua itu seketika mencelos, mengingat satu hal. Anak ini tidak pernah bertemu ayahnya. Sehingga akhirnya orang lain yang ia panggil Daddy. Sungguh sangat miris.


"Tentu saja, Sayang. Opa tidak pernah berbohong," sahutnya.


"Nah, sambil menunggu daddy pulang ke rumah, bagaimana jika Ruby main dulu dengan adik bayi?" tawar nyonya Aline. Dia teringat misinya membawa Ruby ke rumah ini.


"Adik bayi?" tanya Ruby.


"Iya, di rumah ini ada adik bayi. Ruby mau nggak main sama dia?"


"Ruby mau, Oma!" Gadis kecil itu bersorak, malah dia menarik-narik tangan Nyonya Aline membuat Anisa merasa tidak enak. Ruby memang terlalu mudah akrab dengan orang lain.


Tuan Chandra segera keluar rumah demi menemui kliennya, sementara nyonya Aline, Annisa dan Ruby tengah menaiki tangga. Annisa memilih menggendong Ruby, karena tak mau kaki kecilnya terpeleset saat menapaki anak-anak tangga. Tangga itu cukup tinggi dan di buat seperti berkelok.


"Nadine, coba lihat siapa yang mommy bawa untukmu," ujar nyonya Aline dari depan pintu.

__ADS_1


Nadine yang tengah memberikan ASI untuk putri kecilnya sontak mengangkat wajah. Matanya menyipit melihat seorang gadis kecil yang tengah berjalan menghampirinya.


Meskipun merasa tak mengenalnya, perempuan muda itu tetap mengulas senyum kemudian melambaikan tangan kepada tamu kecilnya ini.


"Siapa namamu, Sayang?" tanya Nadine.


"Namaku Ruby, Tante," jawab Ruby.


"Nama yang bagus. Kamu kesini sama siapa, Nak?" tanya Nadine lagi.


Wanita itu tertegun melihat gadis remaja yang berdiri di samping Ruby. Wajahnya sangat mirip dengan Laras.


"Ruby ini putrinya Laras, Nak. Mommy sengaja bawa ke sini agar dia berkenalan dengan adiknya," jelas Nyonya Aline sembari menunjuk bayinya. "Maaf ya, Nak, Mama tidak bilang ini sama kamu lebih dulu."


Perempuan muda itu tetap tersenyum meskipun sebenarnya dia terkejut. "Tidak apa-apa. Mom. Nadine senang kok karena anak Nadine dikunjungi oleh kakaknya."


"Adik? Bolehkah kalau Ruby menganggap adik bayi ini sebagai adik Ruby, Tante?"


Perempuan muda itu menepuk pundak Ruby. "Tentu saja boleh. Ayo duduk di sisi tante, biar kamu bisa mengobrol dengan adik bayi."


"Halo... Namaku Ruby. Nama adik siapa?" Gadis kecil itu mulai berceloteh yang dijawab oleh Nadine dengan menggunakan suara anak kecil juga. Ia duduk menempel ketat dengan tubuh Nadine.


Annisa terpaku di tempat berdirinya menyaksikan pemandangan itu. Sementara nyonya Aline memilih keluar dari kamar, demi menyelamatkan wajahnya yang basah. Dia tak mau ketahuan Nadine sedang menangis.


*****

__ADS_1


"Ale, Ruby tengah ada di rumah kamu sama Annisa!" seru Laras sembari mengacungkan ponselnya. "Barusan si Annisa chat aku."


Sontak lelaki itu menginjak rem, menepikan mobilnya di tepi jalan. "Ruby ada di rumah Mommy?"


"Ya, benar," angguk Laras.


"Tetapi apakah dia baik-baik saja?"


"Menurut Annisa, Mommy yang datang ke rumah ibu, kemudian mengajak Ruby dan Annisa ke rumahnya."


"Ya sudahlah, sebaiknya kita susul saja ke sana. Kita lihat saja nanti apa maunya mommy," putus Nalendra.


Tanpa menunggu persetujuan kekasihnya, lelaki itu kembali membawa mobilnya menyusuri jalan raya. Namun kali ini ia berbalik arah yang semula menuju CNI group, sekarang menuju rumah besar milik pemilik perusahaan itu.


Nalendra mengemudikan mobilnya tak sabar. Berkali-kali ia menyembunyikan klakson saat kemacetan tak terhindarkan. Berkali-kali pula Laras mengingatkan, menepuk pundak besar itu, menyuruhnya bersabar.


Akhirnya mereka sampai di halaman. Laras langsung keluar dari mobil begitu mesin kendaraan dimatikan. Nalendra meraih tangan perempuan itu, menggandengnya menuju rumah."


"Ada apa ini, Mom?" Lelaki itu mendapati sang mommy tengah duduk di sofa sembari menangis.


"Akhirnya kamu datang Ale. Coba kamu lihat di atas sana, di kamar Nadine," perintahnya sembari menyeka air matanya.


"Kenapa dengan Nadine?" Tiba-tiba tubuh Laras gemetar. Dia merasakan tangan besar itu menarik tangannya, membawanya menuju tangga.


"Nadine." Suara Nalendra mendadak terhenti saat ia melihat sosok gadis kecil tengah asyik mengobrol dengan adiknya.

__ADS_1


By: Jannah Zein


Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🙏


__ADS_2