
Marni menatap Rusdi dengan penuh amarah. Perempuan yang biasanya sangat ramah dan baik hati itu terlihat lain hari ini.
Sementara, Rusdi terlihat sangat kaget mendengar ucapan Marni.
'Dari mana dia tahu kalau aku dan Mbak Ningsih menggelapkan uang Galang?'
"Apa maksud kata-kata, Bu Marni?" Rusdi menutupi kegugupannya.
"Kamu masih mau menyangkal, Rusdi?" Perempuan tua itu semakin marah.
"Kamu dan Ningsih adalah orang-orang yang sangat serakah!"
"Kalian sudah memfitnah Laras mengkhianati Galang, kalian juga membuat Ruby kehilangan ayah, setelah itu kalian dengan begitu licik memanfaatkan nama Laras untuk menguras uang Galang, kalian benar-benar tidak punya hati!"
Rusdi menatap Marni dengan tajam. Amarahnya seketika naik mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh Marni. Meskipun apa yang dikatakan oleh Marni adalah kebenaran.
"Bu Marni!" Rusdi berteriak lantang di depan Marni, membuat Nalendra yang sedari tadi hanya terdiam memperhatikan mereka, langsung berdiri. Merasa tidak terima saat Rusdi membentak ibunya Laras. Sementara Laras pun tidak tinggal diam.
"Bawa Ruby keluar sebentar, Nisa," Laras berbisik pada adiknya.
Annisa segera membawa Ruby yang terlihat ketakutan saat mendengar suara bentakan Rusdi.
"Berani-beraninya Paman membentak ibuku!" Laras menatap Rusdi. Sorot matanya berkilat penuh amarah.
Kalau dulu, Laras pasti akan menundukkan kepala di depan pria ini juga Ningsih. Sekarang, tidak lagi. Cukup sudah selama ini dia mengalah dan menundukkan kepala di depan mereka. Orang-orang seperti mereka harus diberi pelajaran karena sudah menyebabkan orang lain menderita.
"Ibumu sudah keterlaluan, Laras! Dia sudah menuduh aku dan Mbak Ningsih tanpa bukti! Aku. dan Mbak Ningsih tidak pernah ikut campur urusan kamu dengan Galang. Perpisahan kamu dengan Galang itu murni karena keinginan Galang!" teriak Rusdi. Pria empat puluh lima tahun itu benar-benar tidak tahu malu karena terus menyangkal tuduhan yang benar-benar dia lakukan.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak tahu diri, Rusdi! Kamu masih menyangkal juga? Kamu pikir kami tidak tahu? Kami bahkan sudah mempunyai bukti kalau kamu dan Ningsih yang telah memeras Galang!"
Rusdi tersentak mendengar ucapan Marni. Namun, lagi-lagi dia kembali menyembunyikan ekspresinya.
"Bu Marni! Sebaiknya Ibu jaga ucap-"
Plakk!
Belum selesai ucapan Rusdi, tangan Bu Marni sudah melayang di pipi Rusdi.
Perempuan tua itu benar-benar marah dan ingin meluapkan semua amarahnya pada pria jahat di depannya itu.
Rusdi sangat terkejut. Pria itu tidak menyangka kalau Marni berani menamparnya. Seketika, amarahnya naik ke ubun-ubun. kedua tangannya terkepal erat.
sorot matanya tajam menatap ibunya Laras.
"Tamparan itu belum seberapa dibandingkan sakit hati Laras selama bertahun-tahun karena perbuatanmu dan Ningsih!"
"Rusdi, apa kau tahu? Sekarang aku benar-benar menyesal karena dulu pernah menolongmu dan Ningsih!" Bu Marni kembali berteriak.
"Ibu, sabar, Bu. Penyakit jantung Ibu bisa kambuh kalau ibu terlalu emosi," bisik Laras di telinga sang ibu. Namun, Marni yang sudah dikuasai oleh amarah, tidak mau mendengarkannya.
"Apa kamu lupa? Jika bukan karena aku dan suamiku, mungkin saat ini kalian berdua masih hidup di jalanan!"
"Jika bukan karena suamiku yang menolong kalian saat itu, kalian berdua pasti sudah mati kedinginan karena kalian tidak punya tempat tinggal!"
"Aku dan suamiku menolong kalian, memberi kalian tempat tinggal dan juga pekerjaan sampai akhirnya kalian bisa hidup dengan benar. Tapi seperti ini balasan kalian pada kami?!" Bu Marni akhirnya meluapkan semua emosinya.
__ADS_1
"Kalau kalian manusia, kalian pasti malu melakukan hal ini pada Laras! Sayangnya, kalian berdua bukan manusia!"
Wajah Rusdi memerah mendengar semua ucapan Bu Marni. Setiap kata-kata yang dilontarkan oleh perempuan tua itu memang benar adanya. Dulu, dia dan Ningsih adalah gelandangan setelah kedua orang tua mereka pergi meninggalkan mereka di jalanan.
Mereka berdua bertemu dengan Bu Marni dan suaminya saat hujan deras. Merasa kasihan, sepasang suami istri itu akhirnya membawa mereka tinggal bersamanya.
Sepasang suami istri itu bahkan membuatkan rumah di samping tempat tinggal mereka. Rumah yang sampai sekarang masih kokoh berdiri di sana dan selama bertahun-tahun ditinggali oleh Ningsih dan suaminya juga Galang. Sampai akhirnya suami Ningsih meninggal dan Galang menikah dengan Laras.
"Kalian juga seharusnya sadar, kalau bukan karena aku yang berjuang meyakinkan Galang dan merelakan semua aset yang aku punya untuk membiayai kuliahnya di ibukota, tidak mungkin Galang bisa sukses seperti sekarang!" Wanita tua itu masih mengeluarkan semua kemarahannya.
Sementara Rusdi masih terdiam dengan menahan semua amarahnya. Apa yang dikatakan oleh Bu Marni memang benar. Dulu, seandainya sepasang suami istri itu tidak menolongnya dan juga Ningsih mungkin saat ini mereka masih hidup di jalanan.
"Kamu dan Ningsih adalah orang-orang tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih!"
"Pergi dari rumahku sekarang juga, Rusdi! Karena aku dan Laras tidak akan pernah memberikan apa yang kalian mau!"
"Bu Marni mengusirku? Kau mengusirku dan membiarkan laki-laki yang bukan siapa-siapanya Laras ini tetap di sini?" Rusdi menatap remeh ke arah Nalendra. Sepertinya dia lupa siapa Nalendra. Kalau Rusdi masih waras, dia tidak akan mungkin berani melawan pemuda tampan di depannya ini.
"Asal kalian tahu, aku sudah mengumpulkan warga untuk menggerebek kalian, karena kalian telah menyembunyikan pria lain yang menjadi selingkuhannya Laras!"
.
By: Nazwatalita
Jangan lupa like, komen, hadiah sama votenya, ya teman-teman 🙏
Intip juga karya temen aku yang satu ini Yuk
__ADS_1