DIA JUGA SUAMIKU

DIA JUGA SUAMIKU
Part 117 KEHILANGAN SEMUANYA


__ADS_3

Laras meletakkan nampan di atas meja, menyodorkan secangkir teh untuk ibu dan Nalendra.


Diminum dulu airnya, Daddy," ujar Ruby. Gadis cilik itu mendekati Nalendra dan duduk disampingnya.


"Terima kasih, Ruby. Apakah Ruby yang tadi membuatkan minuman untuk Daddy?" tanyanya.


"Bukan Ruby, Daddy, tapi Mama. Ruby bantu mengambilkan teh dan gula saja."


"Oh, anak yang rajin," pujinya.


Nalendra mulai menyeruput teh, terasa hangat dan segar di tenggorokannya.


"Terima kasih untuk minumannya, Laras." Dia menatap kekasihnya penuh cinta sembari bangkit berdiri.


"Ibu, aku pamit dulu. Masih ada yang harus kukerjakan," ujar Nalendra sembari melihat arlojinya.


"Kok Daddy buru-buru sih?" keluh Ruby.


"Besok Daddy akan kembali ke mari, sekalian menjemput mama untuk bekerja seperti biasanya. Kita pasti akan ketemu lagi." Tangannya terjulur mengusap kepala mungil Ruby.

__ADS_1


"Iya, Daddy." Gadis kecil itu meraih tangan besar Nalendra kemudian menciumnya.


***


Ningsih menatap nanar rumah besar yang selama ini menjadi kebanggaannya. Matanya memerah sembab akibat terlalu banyak menangis. Dia merutuki kebodohannya selama ini.


Dia tak menyangka semuanya sudah berakhir. Semula dia yakin bisa hidup mandiri tanpa Galang dengan bisnis itu. Padahal dia menjaminkan rumah ini kepada bank sebagai modal awal untuk berbisnis perhiasan.


Ningsih yang sejak awal gemar mengoleksi berbagai model perhiasan tergiur dengan tawaran Retno, salah seorang teman sosialitanya yang menjajakan perhiasan dengan harga yang sangat murah. Dia sangat mempercayai sahabatnya itu dan tak pernah berpikir untuk mengetes keaslian perhiasan yang dimilikinya.


Saking percayanya, akhirnya ia pun mempercayakan uangnya kepada Retno untuk dijadikan modal dalam sistem bagi hasil. Retno menjanjikan Ningsih dengan keuntungan yang akan mereka dapat setiap bulan. Ningsih sudah membayangkan uang ratusan juta yang akan didapat setiap bulan. Dengan uang itu dia bisa ongkang-ongkang kaki serta melunasi cicilan di bank.


Sayang, setelah mendapatkan suntikan modal dari Ningsih yang berjumlah miliaran rupiah, Retno kabur dan menyisakan hutang yang harus dilunasi oleh Ningsih.


"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Mira. Bagaimanapun caranya, kita harus segera mencari Galang. Hanya Galang yang bisa membuat kita keluar dari masalah ini.


Tapi Galang tidak pernah lagi kemari, Ma. Dia sudah tidak peduli lagi dengan kita setelah kejadian itu," ucap Mira.


"Mama tahu, tapi kita harus mencarinya. Mama tidak mau mati kelaparan di Jakarta."

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kita pulang kampung saja, Ma?" usul Mira


"Pulang kampung, katamu? Suara Ningsih tiba-tiba meninggi. "Mama tidak sudi pulang kampung. Jikalau kita pulang kampung, semua orang akan mengejek dan menertawakan kekalahan kita."


"Kekalahan bagaimana maksud Mama?"


"Mira, kamu lupa ya, sekarang Marni, Annisa, Ruby dan Laras semuanya sudah di Jakarta dan hidup enak? Kalau kita pulang kampung dalam keadaan susah, mau taruh di mana muka Mama?"


"Tapi kita harus realistis, Ma. Sesusah susahnya hidup di kampung, lebih susah hidup di Jakarta kalau tidak memiliki pekerjaan," ucap Mira.


"Kita akan cari Galang, Mira."


"Mau cari kemana, Ma?"


"Ayo ikuti Mama. Kita akan menyusul Galang ke apartemennya."


Kelima orang itu segera bergerak keluar dari halaman dan pintu gerbang. Sekali lagi Ningsih menatap rumah besar yang sekarang sudah bukan miliknya lagi. Perempuan itu merasa sangat sedih. Terlintas sebersit penyesalan dibenaknya, karena dulu dia terlalu serakah, mengeksploitasi habis-habisan hasil usaha anak tirinya itu.


.

__ADS_1


By: Jannah Zein


Jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya ya 🙏


__ADS_2