
Lima tahun kemudian ....
"Ruby, cepatlah. Sebentar lagi tante Nadine akan datang!" teriak Laras. Princess-nya yang baru berumur 11 tahun itu terkenal lama jika berdandan.
"Sebentar lagi aku selesai, Mama!" teriak Ruby dari kamar.
"Awas ya kalau sampai tante Nadine datang, sementara kamu belum siap. Kamu Mama tinggalin!" ancam Laras sembari melangkah menjauh dari depan kamar tidur putrinya.
Di ruang tamu, semua sudah siap. Nalendra dan si kecil Alvaro. Balita berumur empat tahun itu tampak gelisah. Dia berjalan mondar-mandir. Gerakan tubuhnya nampak lucu.
"Masih belum siap juga, Sayang?" tegur Nalendra saat melihat wajah istrinya yang masam.
"Kayak nggak tahu princess-mu aja. Aku heran, dari mana dia belajar dandan, sehingga setiap pergi kemanapun selalu ingin tampil perfect," gerutu Laras. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa persis di samping suaminya.
"Siapa lagi kalau bukan dari tantenya, eh mama sambungnya," gelak Nalendra.
"Dia begitu dekat dengan Nadine selama ini," ucap Laras.
"Ya iyalah. Kan mamanya selalu sibuk setiap hari mengurus perusahaan."
"Itu karena daddynya tidak mau di layani oleh asisten pribadi yang lain," balas Laras. Dia tak mau di pojokkan begitu saja.
"Maaf ya, Sayang. Menjadi asisten pribadi itu berdasarkan kepercayaan, bukan cuma kecakapan semata. Aku sangat sulit mempercayai seseorang kecuali kamu, istriku sayang." Meskipun di hadapan putra-putrinya, tetap saja Nalendra mendaratkan kecupan lembut di kening Laras.
Laras tersenyum kecut. Lelaki itu benar. Mereka belajar dari pengalaman. Laras pernah resign dari pekerjaannya saat ia melahirkan Alvaro dan digantikan oleh orang lain.
Namun ternyata orang itu malah berkhianat. CNI group hampir saja mengalami kerugian besar. Setelah itu Laras kembali masuk ke CNI group meskipun harus pintar-pintar membagi waktu antara perusahaan dan anak-anaknya.
"Aku tidak mempermasalahkan kedekatan Ruby dengan Nadine. Apalagi di sana juga ada Aurel, adiknya. Latar belakang Nadine yang seorang fashion designer, punya butik dan sudah pasti seleranya cukup tinggi. Kamu seperti nggak tahu Nadine saja," ujar Nalendra.
Laras tersenyum kecut. "Iya, betul. Aurel malah sudah merambah dunia modeling, padahal umurnya baru lima tahun. Sepertinya Ruby pun mau mengikuti jejak adiknya."
__ADS_1
"Ya sudahlah. Kita support saja. Emang mau gimana lagi? Yang penting dia nggak mengabaikan sekolahnya." Nalendra mengangkat bahu.
Saat mereka tengah asyik berbincang, gadis kecil itu sudah hadir di hadapannya. Gadis itu mengenakan gaun pesta berwarna merah muda lengkap dengan mahkota kecil di kepalanya. Wajahnya dirias natural.
Heran, anak sekecil itu sudah bisa merias dirinya sendiri. Demi kenyamanan gadis kecil itu, Nadine membekali Ruby dengan seperangkat kosmetik yang aman dan ramah di kulit sensitif anak-anak.
"Daddy, Mama, aku sudah siap," tegur Ruby. Kedua orang tuanya menoleh kepadanya.
"Wuih, perfect banget! Gadis kecil Daddy memang paling cantik!" puji Nalendra. Lelaki itu mendekat, memberikan kecupan di kening putri sambungnya itu.
"Nah, sekarang kita berangkat ya," ajaknya.
"Oke, Daddy." Ruby membalas mengacungkan jempol. Sekilas dia melirik adiknya, Alvaro. Balita berumur empat tahun itu nampak tak bisa diam meskipun sudah berada digendongan daddynya. Mereka melangkah beriringan menuju teras rumah. Sementara dari pintu gerbang, sebuah mobil masuk ke halaman rumah ini.
"Tante Nadine!" teriak Ruby riang. Mobil seketika berhenti dan pintunya pun terbuka. Sosok wanita cantik muncul dari dalam mobil di susul dengan seorang gadis kecil yang tak kalah cantiknya. Dia adalah Aurel.
***
Nalendra, Laras, Nadine dan seorang lelaki tampan yang sekarang berstatus sebagai suami barunya. Namanya Azka.
Nadine dan Azka pertama kali bertemu di pusat perbelanjaan. Azka adalah pria yang begitu tergila-gila dengan Nadine dari semenjak SMA.
Saking gilanya, dia mengukir nama Nadine di beberapa bagian tubuhnya. Pria itu bahkan melamar Nadine saat pertemuannya pertama kali setelah bertahun-tahun berpisah.
Butuh waktu bertahun-tahun buat Azka untuk meyakinkan hati Nadine hingga akhirnya mereka bisa menikah.
Azka adalah lelaki yang baik dan mapan, meskipun tentu tidak sekaya Ayah Nadine, Tuan Chandra. Terlepas dari semua itu, yang paling penting dia bisa menerima Aurel sebagai putrinya. Buat Nadine itu sudah lebih dari cukup.
Dua unit mobil itu terus beriringan menuju sebuah hotel berbintang. Ada perasaan berdebar di hati Laras mengingat momen inilah yang paling ditunggunya selama bertahun-tahun.
Sebelumnya dia sudah memberitahu Ruby tentang siapa ayahnya. Laras dan Nalendra berkomitmen untuk memberitahu Ruby sejak dini, agar gadis kecilnya itu bisa mengerti bahwa ia dan ayahnya dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Di dalam sebuah rumah tangga, perceraian bukanlah hal yang diinginkan setiap pasangan, tetapi mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak sehat justru akan berakibat buruk pada anak itu sendiri.
Mungkin saat ini masih sulit bagi Ruby untuk memahami, kenapa ayah dan ibunya harus berpisah. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia, Laras yakin Ruby akan memahami semua ini. Dia dengan Nalendra berusaha memberikan penjelasan sederhana yang bisa di terima pemikiran anak kecil.
Laras berpikir, perpisahan adalah hal yang biasa, tidak mesti ada drama perebutan ini itu, apalagi sampai menyisakan dendam, karena bagaimanapun mereka tetaplah sepasang manusia yang pernah saling mencintai.
Cerita Laras dan Galang sudah berakhir meskipun tetaplah ada Ruby di antara mereka. Laras ingin memastikan bahwa Ruby tidak kehilangan apapun, meskipun dia dan Galang berpisah.
Tepatnya setelah kelahiran Alvaro, Laras mulai mengizinkan Galang untuk menemui Ruby kembali, meskipun selalu saja Annisa yang dia suruh untuk mendampingi setiap pertemuan antara Ruby dengan Galang.
Tak terasa mereka sudah sampai di pelataran sebuah hotel mewah. Dari mobil-mobil yang berjajar itu saja sudah jelas menandakan bahwa di tempat itu akan di adakan resepsi pernikahan.
Nalendra menepuk pundak Laras, berusaha untuk menguatkan, saat mereka sudah turun dari mobil.
Pandangannya seketika tertuju kepada Nadine. Ternyata Azka juga melakukan hal yang sama, menepuk pundak istrinya. Kedua wanita yang pernah menjadi masa lalu Galang itu tersenyum samar.
Di samping mereka, Ruby, Aurel dan Alvaro justru tersenyum senang melihat keramaian di sekitarnya. Berbanding terbalik dengan ibu mereka yang merasakan detak jantungnya berdegup lebih cepat.
Dua keluarga kecil itu mulai masuk ke dalam ruangan. Ruangan yang sangat luas penuh dengan hiasan indah dan serba megah, dengan pusat pandang sebuah pelaminan besar yang juga dihias sedemikian rupa. Laras berdecak kagum. Kemewahan di tempat ini tak kalah dengan tempat resepsi pernikahannya dengan Nalendra lima tahun yang lalu....
*****
Terima kasih ya udah mau baca ekstra part ini. Ini adalah tulisan terakhir Jannah Zein untuk novel Dia Juga Suamiku.
Jannah banyak minta maaf seandainya tulisan Jannah di novel ini banyak typo meresahkan, peubi dan kbbi berantakan ataupun plot yang nggak nyambung.
Jannah pamit ya...
Sampai bertemu lagi di novel yang lain.
Selamat menjalankan ibadah puasa dan menyongsong hari kemenangan idul fitri..🙏
__ADS_1